Tittle : Guardian Angel (2/3)
Categories : MultiChapter
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rating : PG 13
Theme Song : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep
Author : Hikari Natsumi
Cast : Kota Yabu (Main character),
Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya
Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis :
The flowers cut
and brought inside
Black cars in a
single line
Your family in
suits and ties
And you’re free
(Universitas
Waseda)
“Baiklah saya
akan mengajukan beberapa pertanyaan bagi kalian. Siapa yang bisa menjawab
pertanyaan saya, maka dia akan mendapat kesempatan untuk tour di beberapa
universitas lain di Jepang, diantara lain Universitas Tokyo, Universitas Internasional
Sophia, Universitas Meiji dan masih banyak lagi.” Ucap Kitagawa sensei yang
sedang mengajar di kelas Yabu. “Sebelumnya, saya akan mengabsen kalian terlebih
dahulu.” Kitagawa sensei mengambil buku absen dari dalam tasnya dan mulai
mengabsen.
“Arioka
Daiki?”
“Hadir
sensei.” Ucap lelaki chibi itu sambil mengangkat tangan kanannya.
“Inoo
Kei?”
“....”
pria berwajah cantik nan pintar itu hanya mengangkat tangannya.
“Takaki
Yuya?”
“Selalu
hadir sensei.”
“Yaotome
Hikaru?”
“Hadir.”
“Yabu
Kota?” tidak ada jawaban. “Yabu Kota?” sensei memanggilnya sekali lagi. “Dimana
Yabu Kota?”
Daiki
mengacungkan tangannya, “Sensei, dia sudah 4 hari tidak masuk.”
“4
hari? Ada yang tau dia kenapa?”
“Tidak
ada keterangan sensei.” Jawab Daiki selanjutnya.
Setelah
mengabsen 20 murid yang berada di kelas tersebut, Kitagawa sensei mengajukan
beberapa pertanyaan.
*******SKIP********
(Pulang Sekolah)
Daiki
sedang membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. “Anoo Hikaru!
Apa kau benar-benar tidak tau dimana Yabu sekarang?”
Hikaru
yang sedang membenahi sepatunya menoleh ke arah Daiki. “Entahlah Daichan. Dia
memang suka menghilang.”
“Kenapa
aku merasakan firasat buruk ya?”
“Itukan
hanya perasaanmu!” celetuk Kei.
“Hei
kau! Aku benar-benar merasakan hal buruk sedang terjadi.”
“Akukan
sudah bilang, itu hanya perasaanmu. Lagi pula, bagaimana bisa orang sepertimu
mempunyai perasaan? Cihh lucu. Ha
ha ha.” Tandas Kei. Dia memang
terkenal dengan sifat dingin dan kata-katanya yang pedas. Namun, semuanya tau bahwa
dia itu sebenarnya sangatlah peduli.
Tiba-tiba
terdengar suara ‘BRUG!’ kontan, Hikaru, Kei, dan Daiki menoleh ke arah sumber
suara tadi. Terlihat Yuya yang sedang kesusahan berdiri karena posisi badannya
berada di antara kursi dan meja, namun kakinya berada di atas meja.
“Anak
bodoh! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kei dengan dingin.
“Diamlah!
Tidak usah bertanya jika ujung-ujungnya kau mengataiku ‘bodoh’. Kaulah yang
bodoh! Aku sedang jatuh tidak dibantu malah dipelototin.” Runtuk Yuya.
“Baka
Takaki. Hahahahah!!!!” Hikaru tertawa keras diikuti oleh Daiki. Sedangkan Kei
hanya berlalu begitu saja. Hikaru dan Daiki segera membantu Yuya.
“Kenapa
kau bisa jatuh seperti itu?” Hikaru mengusap air matanya yang keluar gara-gara
menertawakan Yuya.
“Aku
tadi hanya tertidur.”
“Hahahahahah
Yuyan benar-benar bodoh. Hahahaha!” Daiki terus tertawa sampai sebuah jitakan
mendarat ke kepalanya.
“Itaii,,,
kenapa kau memukulku?” Daiki mengelus-elus kepalanya dengan gayanya yang imut.
“Ekspresimu
itu sangat kawaii Daichan.” Hikaru mencubit pipi gembul Daichan.
“Berhenti
mencubit pipiku!”
Yuya
tersenyum datar. “Oiya, apa kalian tidak ada niat menjenguk Yabu?”
“Menjenguk
Yabu? Dia sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya kepada sensei tadi? Kau ini
benar-benar baka!”
“Berhentilah
mengataiku ‘bodoh’ chibi! Kalau aku
bodoh, aku tidak mungkin bisa masuk Universitas Waseda. Aku sengaja tidak
memberitahukan hal ini pada sensei dulu.” Yuya menduduki meja dan menaruh
kakinya di sebuah kursi.
Hikaru
ikut duduk di sampingnya. “Nande?”
“Aku
tidak berselera mengatakannya pada sensei. Untuk apa aku mengatakannya?”
“Tentu
saja supaya dia tidak diskors yuyaaaaaaaaannnn!!” Daiki berteriak
sekencang-kencangnya di telingan kanan Yuya.
“Chiiibbbiiiiiiii
hentikanlah sikapmu yang menyebalkan itu!” Yuya membalas perbuatan Diki dengan
berteriak kembali ke telinga Daiki.
“Itu
karena kau baka.”
“Sudahlah..
Yuyan, apa kau tau di mana Yabu?” sahut Hikaru.
“Yang
sakit itu sebenarnya bukan Yabu. Tapi Michi.” Jawab Yuya yang menggosok-gosok
telinganya karena entah kenapa masih ada bunyi dengungan gara-gara teriak Daiki
barusan.
“Michi?
Dare?”
Daiki
yang sedang menggosok-gosok telinga, akibat teriakan yuya, angkat bicara, “Dia
itu pacarnya Yabu. Bisa dibilang calon istri Yabu.”
Pernyataan
itu berhasil membuat mata Hikaru yang tidak begitu lebar, membulat sempurna,
sebulat maka Daiki. “Serius? Yabu udah punya pacar?”
“Sepuluh
rius. Kalau aku tidak salah ingat, hubungan mereka tidak direstui orang tua
Yabu, sehingga Yabu membawa Michi kabur bersamanya. Michi, dia itu adalah anak
dari keluarga konglomerat yang mempunyai cabang perusahaan di 37 negara. Ibunya
telah meninggal 11 tahun yang lalu dan Ayahnya menikah lagi. Sayangnya ibu
tirinya sangat tidak menyukai Michi. Suatu hari ayahnya terkena stroke,
sehingga kekuasaan berpindah ke tangan ibu tiri Michi. Ibu tirinya berniat
membuang Michi karena Michi dianggapnya tidak berguna. Michi mengidap kelainan
pada jantung sehingga dia tidak bisa kerja berat. Akhirnya, ibu tiri Michi
membuangnya ke panti asuhan yang berada di Finlandia.” Daiki menghela nafas.
“Kau ingatkan saat Yabu ijin pergi ke luar negri?! Dia pergi ke Finlandia untuk
mengunjungi neneknya yang sakit. Nah, di saat itulah Yabu dan Michi bersatu.”
“Kau
stalkerkan?” tuduh Yuya sembarangan sambil menunjuk-nunjuk pipi Daiki.
“Kau
kira aku teroris? Enak saja. Yabu sendiri yang menceritakannya padaku. Sudahlah
aku mau pulang dulu.” Daiki menarik tangan Hikaru dan berjalan cepat keluar
kelas meninggalkan Yuya yang sibuk membereskan barang-barangnya.
“Chotto!
Daichan! Kenapa kau menarik tanganku? Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!”
tolak Hikaru.
“Sudahlah
Hikaru, Ayo ikut aku! Hari ini aku diantar sama otousanku, gara-gara mobilku
sedang diservice.” Daiki mengeluarkan
jurusnya. Puppy eyes dan chubby cheeks-nya yang digembungkan.
“Hentikan
itu!” Hikaru mencubit pipi Daiki. “Hari ini aku ada kencan dengan Nami. Jadi,
pulanglah sendiri dan jangan bermanja seperti ini! Karena kau sudah berumur 18
tahun keatas.” Hikaru melepaskan cengkraman Daiki di pergelangan tangannya dan
berlalu begitu saja.
“Hikaru!
Baka! Aku pulang dengan siapa?” teriak Daiki.
Hikaru
menghentikan langkahnya dan berbalik mmenghadap Daiki. “Kaukan bisa pulang
dengan Yuyan.”
“Tidak
mau! Kalau aku pulang bersamanya nanti aku pasti diturunkan di tengah jalan
lagi.”
Hikaru
tertawa sambil memegangi perutnya, “Itu masalahmu! Dasar pinguin!” Hikaru
kembali melanjutkan jalannya dan melambaikan tangannya pada Daiki yang masih
bingung. “Jyaa Daichan!”
“Awas
saja kau Hikaru! Aku akan merebut Nami darimu.”
“Omaeeee!”
Hikaru berbalik lagi dan berlari ke arah Daiki.
Daiki
berlari sambil tertawa menuju kelasnya. Dia telah memutuskan untuk meminta
Yuyan mengantarnya pulang.
********SKIP********
(Rumah Sakit)
Yabu
baru saja menyantap sarapannya. Dia mengambil segelas air yang telah disediakan
di meja dan beberapa obat yang harus diminumnya segera demi kesembuhannya.
Lebih tepatnya, untuk mencegah bertumbuhnya kanker yang berada di dalam tubuhnya.
‘Tok tok tok’ Yabu mendengar suara pintu
yang diketuk oleh seseorang. “Silahkan masuk!” jawab Yabu.
“Kouuucchhhaaaaann!!!!”
teriak Daiki yang langsung memeluk Yabu, diikuti oleh Hikaru, Yuya, dan Nami
yang mengikutinya dari belakang.
“Eh!
Kau?” Yabu sedikit terkejut dengan perlakuan Daiki. “Kenapa kau memanggilku
Kouchan?”
“He
he he,, aku hanya ikut-ikut Yuuri oneesan saja kok.” Daiki melepaskan
pelukannya dan duduk di sebelah Yabu. “Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat
semakin kurus saja. Apa kau mau menjadi seperti tiang bambu? Hah? Kau itu sudah
kurus seharusnya kau lebih menjaga kesehatanmu Yabu! Kau masih ingat akukan?
Aku Daichan. A-ri-o-ka-Da-i-ki” omel Daiki.
“Kau
seperti ibu-ibu saja Daichan. Tentu saja aku mengenalmu.” Yabu tertawa geli. “Aku
baik-baik saja. Sangat malah. Oneechan saja yang berlebihan.”
Hikaru
tersenyum mendengar jawaban Yabu. “Kau juga ingat akukan?”
“Un. Tentu.”
“Ah, Yabu
perkenalkan. Ini Nami.” Hikaru nenunjuk ke arah kekasihnya.
“Risako
Nami desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Nami membungkukkan badannya di depan Yabu.
Yabu
tersenyum simpul. “Yabu Kota desu. Yoroshiku mo.”
Selagi
mereka berbincang-bincang, Yuyan mengotak-atik barang-barang Yabu yang ada di
atas meja dekat sofa, dan dia tidak sengaja menemukan sebuah foto dengan
bingkai kecil yang sederhana. ‘Nani
kore?’ tanyanya dalam hati. Yuyan mengeluarkan foto itu dari bingkai dan
membolak-baliknya. “Eh!” kejutnya.
Yabu
dan lainnya spontan langsung menoleh ke arahnya. “Yuyan, doushitano?” tanya
Yabu.
“Uhm..
iie, daijoubu.”
“Kau
tidak melakukan hal anehkan Yuyan?” tanya Daiki yang menyipitkan matanya dan
menatap Yuya curiga.
“Hei
chibi, jangan memulainya lagi!”
Yabu
tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian ini dari dulu
memang tidak pernah berubah. Ngomong-ngomong, dari mana kalian tau kalau aku
sedang sakit?”
“Yuuri
oneesan-lah yang memberitahu kami.” Jawab Hikaru.
Menyadari
tidak ada yang sedang memperhatikannya, Yuya diam-diam keluar dari ruangan
Yabu. Dia berjalan menuju ke bagian reception
dengan membawa sebuah foto yang dipungutnya tadi. ‘Aku harus bertemu dengan
Michi, apa yang sebenarnya terjadi?’ tanya Yuya dalam hati.
“Sumimasen!”
“Ada
yang bisa saya bantu Tuan?” tanya seorang suster yang mengurus bagian reception.
“Anoo,
dimana ruangan pasien yang bernama Michi Kawaguchi?”
“Oh,
nona Michi berada di ruang ICU untuk sementara ini Tuan.”
“Ah,
baiklah arigatou gozaimasu.”
Yuya
berjalan menuju ruang ICU berharap dapat bertemu dengan kekasih Yabu dengan segera.
*******SKIP******
Chiisana kata ni shoikonda bokura no mirai wa
Choudo kyou no yuuhi no you ni yureteta no ka naa
Choudo kyou no yuuhi no you ni yureteta no ka naa
Kei terbangun dari tidurnya. “Mnnnhhh!!” desah Kei ketika menyadari Handphone-nya lah yang telah membangunkannya. Kei meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja. ‘Untuk apa anak ini menelfonku? Mengganggu saja’ gumamnya dalam hati saat menyadari bahwa Yuyalah yang menelfonnya.
“Hai, moshi mosh! Doushitano? Kau
mengganggu tidurku, baka!” ujar Kei yang bangkit dari tempat tidurnya.
“Gomen. Kei bisakah kau ke rumah sakit
sekarang? Ada yang perlu kubicarakan denganmu. Ini penting Kei.”
Kei mengernyitkan dahinya, “Apa
maksudmu? Ke rumah sakit? Kau sakit? Tumben, ternyata kau juga bisa jatuh
sakit.” Kei selalu saja bersikap seperti itu.
“Aku serius Kei. Sekarang juga!”
“Iya iya bawel!” Kei segera mengganti
pakaiannya dan bergegas menuju rumah sakit.
(Sesampainya di rumah sakit)
“Yuyaaaann!!”
Yuyan yang saat itu memakaikan headset di telinganya, tidak begitu
jelas mendengar suara Kei. Yang dia lakukan hanya melirik ke arah kanan dan
menyibukkan dirinya kembali bersama sebuah foto yang dia temukan ditumpukan
barang-barang milik Yabu.
“Takaaakkkiiii!!” Kei berlari ke arah
Yuyan. “Kau ini, dari tadi aku sudah menelfonmu, tetapi kenapa kau tidak
mengangkatnya?”
Yuyan tidak mendengarkan omelan yang
ditujukan padanya saat itu.
“Yuya Takakiiiiii! Kau tuli ya?!” Kei
menjitak keras kepala Yuyan an berhasil membuat orang itu tersadar.
“Itaaiii! Inoo baka! Apa yang kau
lakukan?” Yuyan mengaduh sambil mengelus-ngelus kepalanya yng terkena jitakan
keras dari sahabatnya tersebut.
“Aku baru saja menjitakmu. Kenapa? Kau
mau membalasnya? Ayok!”
“Tidak. Siapa juga yang mau menjitak
kepala anehmu itu!”
“Omaaeeeee!”
“Sudahlah, sini duduk!” Yuyan menarik
lengan Kei sehingga sahabatnya itu duduk persis di sebelahnya. “Baca Ini!” dia
menyodorkan sebuah foto yang terdapat banyak coretan di bagian belakangnya.
Kei membaca coretan-coretan tersebut,
dan ekspresinya berubah seketika. “Nani kore? Di mana kau menemukan ini? Siapa
yang menulis ini?”
“Michi. Kekasih Yabu.” Ucap Yuya
datar.
“Michi?” tanya Kei.
“Un. Kasian dia. Kau tau? Dia mengidap
kelainan jantung dan dirawat di rumah sakit ini.”
“Dan apa maksudnya dengan ini? Kalau
Michi memang kekasih Yabu, kenapa dia menulis catatan seperti ini?”
“Itu yang membuatku bingung. Apa yang
diderita Yabu? Satu hal yang pasti_” ucapan Yuya terpotong oleh Kei.
“Dia bukan hilang ingatan. Hilang
ingatannya disebabkan oleh suatu penyakit. Yah.. dia tidak hanya sakit hilang
ingatan, tapi juga menderita penyakit lain yang dapat merenggut nyawanya.”
Sahut Kei.
“Kita harus menemui Michi.”
“Apa kau tahu ada di mana ruangannya
sekarang?”
“Tentu saja. Yoh!” Yuya dan Kei pergi
menuju ruangan Michi untuk meminta penjelasan.
Sesampainya di depan ruang ICU, Kei
dan Yuya mengintip ke dalam ruangan dari celah kaca yang ada di pintu. Mereka
melihat seorang gadis cantik yang sedang memandang kosong ke arah jendela.
Wajahnya pucat pasi seakan tiada kebahagiaan yang ingin datang menjenguk
hidupnya yang kelam.
“Masuklah lebih dulu!” desak Kei yang
menyiku lengan Yuya.
“Kau saja!”
“Kenapa harus aku?”
“Dan kenapa juga harus aku?”
Mendengar hal itu Kei langsung melotot
tajam ke arah Yuya dan berhasil membuat Yuya mengalah. “Baiklah. Aku dulu.”
“Akhirnya kau mengalah juga.”
“Aku hanya tidak ingin matamu keluar
hanya karena kau sering melototiku.”
Kei mencubit lengan Yuya
sekeras-kerasnya dan berhasil membuat Yuya mengaduh kesakitan.
“Itai! Apa yang kau lakukan?!”
“Siapa itu? Masuklah!” Mereka berdua
mendengar suara lembut dari dalam ruangan yang tidak lain adalah suara Michi.
Yuya melangkahkan kakinya masuk ke
dalam ruangan Michi dan diikuti oleh Kei yang berada di belakangnya. “Ohayou!”
sapa Yuya yang mengangkat tangan kakannya sambil cengar-cengir.
Michi memasang wajah bingung dan
menyapa mereka. “Ohayou gozaimasu!” Michi menundukkan kepalanya. “Anata wa
dare?”
“Hajimemashite. Boku wa Takaki Yuya
desu. Kochira wa Inoo Kei desu.” Kata Yuya sambil menunjuk ke arah Kei.
“Ada yang bisa kubantu? Silahkan!”
Michi mempersilahkan Yuya dan Kei untuk duduk di sofa.
Mereka berdua menuruti kata-kata
Michi. “Anoo kimi wa...”
“Atashi wa... Michi.”
“Anoo, kami adalah teman dekat Yabu.”
Yuya memulai percakapan.
“Yabu? Bagaimana keadaannya?”
“Baik. Dia baik-baik saja.” Sahut Kei.
Michi menerawang ke arah luar. “Bukan
baik, tapi masih baik. Aku tak menyangka dia bisa melupakanku. Hanya aku. Dan
kenapa harus aku? Dasar penyakit sialan.” Runtuk Michi yang masih memasang
ekspresi datar.
Yuya dan Kei saling menatap saat
mendengar apa yang baru saja dikatakan Michi. “Hanya melupakanmu?” tanya Yuya.
“Penyakit sialan?” tanya Kei.
Michi kembali memandangi mereka berdua. “Ada apa dengan ekspresi
kalian?”
“Uhm.. Michi, sebenarnya Yuuri oneesan
hanya memberitahu kami bahwa Yabu hanya menderita hilang ingatan ringan saja.
Jadi kami berdua tidak mengerti dengan perkataanmu barusan.” Yuya menatap Kei
untuk melanjutkan kata-katanya.
“Dan apakah Yabu hanya melupakanmu?
Bagaimana bisa? Dan apakah penyakit sialan yang kau maksud itu hilang ingatan?”
lanjut Kei.
“Chigau! Kau salah! Yabu..” Michi
terdiam. Sebenarnya, dia masih tidak menyangka semua ini akan terjadi. Yabu
yang sekarang ini telah melupakannya. Orang yang telah menyelamatkannya dari
kehidupan yang kejam, sekarang sudah tidak ada lagi.
“Kau kenapa? Apa yang terjadi pada
Yabu?”tanya Yuya menyelidik. Namun Michi tetap diam saja.
“Hei kau! Jawab pertanyaanku apa yang
terjadi pada Yabu?”
“Yuya, tenanglah!” sergah Kei. Yah..
disaat tertentu, hati dinginnya dapat berubah menjadi hati malaikat. Dan Kei
akan menjadi orang yang sangat lembut.
“Michi, bisakah kau memberitahu kammi
apa yang sebenarnya terjadi pada Yuya?” tanya Kei dengan pelan.
Michi kembali menatap ke arah keluar
jendela dengan tatapan yang menerawang. Mereka bertiga lenyap dalam kesunyian,
tidak ada satu orangpun yang ingin bertanya lagi, entah itu Kei, maupun Yuya.
“Maaf jika kita hanya mengganggumu di
sini! Kami pamit!” Kei berdiri dan menarik tangan Yuya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Ikuti saja aku!” bisik Kei di telinga
Yuya.
Mereka berdua berjalan keluar ruangan
dengan perlahan. Namun, beberapa saat kemudian, mereka mendengar isakan kecil
yang bahkan dapat menyayat hati mereka. Michi menangis. Entah kenapa
tangisannyapun dapat membuat orang yang mendengarnya mengetahui betapa sakit
dirinya saat ini.
Kei berbalik ke arahnya. “Tunggu di
sini!” kata Kei kepada Yuya. Kei berjalan mendekati Michi dan menyentuh
pundaknya. “Daijoubu desuka?”
“Hiks.. hiks.. Yabu.. Yabu menderita
kanker hati.. hiks.. hiks..”
“YAPPARI!” teriak Yuya. Dia langsung
berlari keluar dari ruangan Michi.
Kei melihat ke arah Yuya yang sudah
hilang di balik pintu. ‘Apa-apaan dia?!’ ucapnya dalam hati. Kei menoleh ke
arah Michi yang masih terguncang hebat karena tangisnya. “Michi..daijoubu?”
“Semua ini hiks.. karena..aku.”
“Semua bukan salahmu. Bagaimana kau
bisa menyalahkan dirimu sendiri?”
“Dia terlalu lelah menjagaku.. hiks..
sehingga makannya tak teratur. Maagnya kambuh berkali-kali, tapi aku tak pernah
memperhatikan itu. Dia terserang kanker hati yang sekarang mulai menyerang
otaknya. Dan dia menderita amnesia ringan. Hiks.. aku benar-benar bodoh! Dia
selalu menjagaku dan merawatku dengan baik, dan bagaimana bisa aku.. tidak
memperhatikan kesehatannya sama sekali? Aku benar-benar bodoh!”
“Michi tolong jangan salahkan dirimu!
Itu takkan pernah ada gunanya! Sekrang sudah terlambat.” Kei menatap sendu
gadis itu.
“Belum.”
“Apa yang kau maksud?”
“Penyakit itu dapat disembuhkan jika
ada seseorang yang mendonorkan hatinya untuk Yabu. Dan aku bisa melakukan itu.”
“Dame! Kau tidak boleh melakukan itu!
Jantungmu sudah lemah dan sekarang kau mau hidup tanpa hati. Apa kau sudah
gila? Kau tidak akan pernah bisa hidup Michi!”
Michi berbalik menatap Kei. Ditatapnya
sahabat kekasihnya itu. “Kau sahabatnya bukan? Kau tidak ingin membuatnya sedihkan?
Tolong jangan beritahu dia tentang ini! Dan jangan beritahukan ini pada
siapapun. Termasuk Yuuri oneesan dan temanmu yang tadi.”
“Gomen aku tidak bisa Michi. Aku tidak
akan membiarkanmu melakukan hal ini. Kau bisa mati Michi!”
“Untuk apa aku hidup jika Yabu telah
melupakanku? Untuk apa? Kalau saja dia sembuh, apakah dia bisa mengingatku
lagi? Kalau Yabu tidak segera mendapatkan donor hati, dia juga akan mati! Dia
adalah malaikat pelindungku Kei. Dia tidak boleh mati.”
“Tapi Michi_”
“Kau bukanlah Tuhan yang bisa mengatur
semuanya! Jika kau dapat menyembuhkan Yabu, aku akan bersujud padamu.”
Kata-kata Michi berhasil membuat Kei
tertegun di tempatnya. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu telah mnyerah dengan
semua permasalahan yang dihadapinya. “Aku akan membuatnya mengingatmu.”
“Tidak mungkin!”
“Mungkin saja.”
“Jangan mengatakan sesuatu yang hanya
menimbulkan harapan sia-sia.”
“Ini tidak akan sia-sia.”
“Berhentilah berkata seperti itu. Aku
ingin istirahat.” Michi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan
memalingkan wajah dari Kei.
Kei menghela nafasnya. “Aku akan tetap
melakukannya.”
“Terserah! Dan aku juga akan melakukan
apa yang ingin kulakukan. Kau tidak punya hak untuk melarangku.” Michi
memejamkan matanya, berusaha mengacuhkan Kei yang sekarang masih menatapnya
sendu.
“Jangan pernah melakukan hal bodoh!
Aku pamit. Maaf telah mengganggumu.” Kei berjalan keluar dari ruangan Michi.
.
.
.
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar