Myujikku

Kamis, 28 November 2013

(FanFiction) Guardian Angle (2/3)


Tittle               : Guardian Angel (2/3)
Categories      : MultiChapter
Genre            : Romance, Angst, Friendship
Rating            : PG 13
Theme Song : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep
Author           : Hikari Natsumi
Cast                : Kota Yabu (Main character), Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis        :

The flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you’re free


(Universitas Waseda)
          “Baiklah saya akan mengajukan beberapa pertanyaan bagi kalian. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, maka dia akan mendapat kesempatan untuk tour di beberapa universitas lain di Jepang, diantara lain Universitas Tokyo, Universitas Internasional Sophia, Universitas Meiji dan masih banyak lagi.” Ucap Kitagawa sensei yang sedang mengajar di kelas Yabu. “Sebelumnya, saya akan mengabsen kalian terlebih dahulu.” Kitagawa sensei mengambil buku absen dari dalam tasnya dan mulai mengabsen.
          “Arioka Daiki?”
          “Hadir sensei.” Ucap lelaki chibi itu sambil mengangkat tangan kanannya.
          “Inoo Kei?”
          “....” pria berwajah cantik nan pintar itu hanya mengangkat tangannya.
          “Takaki Yuya?”
          “Selalu hadir sensei.”
          “Yaotome Hikaru?”
          “Hadir.”
          “Yabu Kota?” tidak ada jawaban. “Yabu Kota?” sensei memanggilnya sekali lagi. “Dimana Yabu Kota?”
          Daiki mengacungkan tangannya, “Sensei, dia sudah 4 hari tidak masuk.”
          “4 hari? Ada yang tau dia kenapa?”
          “Tidak ada keterangan sensei.” Jawab Daiki selanjutnya.
          Setelah mengabsen 20 murid yang berada di kelas tersebut, Kitagawa sensei mengajukan beberapa pertanyaan.
*******SKIP********
(Pulang Sekolah)
          Daiki sedang membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. “Anoo Hikaru! Apa kau benar-benar tidak tau dimana Yabu sekarang?”
          Hikaru yang sedang membenahi sepatunya menoleh ke arah Daiki. “Entahlah Daichan. Dia memang suka menghilang.”
          “Kenapa aku merasakan firasat buruk ya?”
          “Itukan hanya perasaanmu!” celetuk Kei.
          “Hei kau! Aku benar-benar merasakan hal buruk sedang terjadi.”
          “Akukan sudah bilang, itu hanya perasaanmu. Lagi pula, bagaimana bisa orang sepertimu mempunyai perasaan? Cihh lucu. Ha  ha  ha.” Tandas Kei. Dia memang terkenal dengan sifat dingin dan kata-katanya yang pedas. Namun, semuanya tau bahwa dia itu sebenarnya sangatlah peduli.
          Tiba-tiba terdengar suara ‘BRUG!’ kontan, Hikaru, Kei, dan Daiki menoleh ke arah sumber suara tadi. Terlihat Yuya yang sedang kesusahan berdiri karena posisi badannya berada di antara kursi dan meja, namun kakinya berada di atas meja.
          “Anak bodoh! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kei dengan dingin.
          “Diamlah! Tidak usah bertanya jika ujung-ujungnya kau mengataiku ‘bodoh’. Kaulah yang bodoh! Aku sedang jatuh tidak dibantu malah dipelototin.” Runtuk Yuya.
          “Baka Takaki. Hahahahah!!!!” Hikaru tertawa keras diikuti oleh Daiki. Sedangkan Kei hanya berlalu begitu saja. Hikaru dan Daiki segera membantu Yuya.
          “Kenapa kau bisa jatuh seperti itu?” Hikaru mengusap air matanya yang keluar gara-gara menertawakan Yuya.
          “Aku tadi hanya tertidur.”
          “Hahahahahah Yuyan benar-benar bodoh. Hahahaha!” Daiki terus tertawa sampai sebuah jitakan mendarat ke kepalanya.
          “Itaii,,, kenapa kau memukulku?” Daiki mengelus-elus kepalanya dengan gayanya yang imut.
          “Ekspresimu itu sangat kawaii Daichan.” Hikaru mencubit pipi gembul Daichan.
          “Berhenti mencubit pipiku!”
          Yuya tersenyum datar. “Oiya, apa kalian tidak ada niat menjenguk Yabu?”
          “Menjenguk Yabu? Dia sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya kepada sensei tadi? Kau ini benar-benar baka!”
          “Berhentilah mengataiku ‘bodoh’  chibi! Kalau aku bodoh, aku tidak mungkin bisa masuk Universitas Waseda. Aku sengaja tidak memberitahukan hal ini pada sensei dulu.” Yuya menduduki meja dan menaruh kakinya di sebuah kursi.
          Hikaru ikut duduk di sampingnya. “Nande?”
          “Aku tidak berselera mengatakannya pada sensei. Untuk apa aku mengatakannya?”
          “Tentu saja supaya dia tidak diskors yuyaaaaaaaaannnn!!” Daiki berteriak sekencang-kencangnya di telingan kanan Yuya.
          “Chiiibbbiiiiiiii hentikanlah sikapmu yang menyebalkan itu!” Yuya membalas perbuatan Diki dengan berteriak kembali ke telinga Daiki.
          “Itu karena kau baka.”
          “Sudahlah.. Yuyan, apa kau tau di mana Yabu?” sahut Hikaru.
          “Yang sakit itu sebenarnya bukan Yabu. Tapi Michi.” Jawab Yuya yang menggosok-gosok telinganya karena entah kenapa masih ada bunyi dengungan gara-gara teriak Daiki barusan.
          “Michi? Dare?”
          Daiki yang sedang menggosok-gosok telinga, akibat teriakan yuya, angkat bicara, “Dia itu pacarnya Yabu. Bisa dibilang calon istri Yabu.”
          Pernyataan itu berhasil membuat mata Hikaru yang tidak begitu lebar, membulat sempurna, sebulat maka Daiki. “Serius? Yabu udah punya pacar?”
          “Sepuluh rius. Kalau aku tidak salah ingat, hubungan mereka tidak direstui orang tua Yabu, sehingga Yabu membawa Michi kabur bersamanya. Michi, dia itu adalah anak dari keluarga konglomerat yang mempunyai cabang perusahaan di 37 negara. Ibunya telah meninggal 11 tahun yang lalu dan Ayahnya menikah lagi. Sayangnya ibu tirinya sangat tidak menyukai Michi. Suatu hari ayahnya terkena stroke, sehingga kekuasaan berpindah ke tangan ibu tiri Michi. Ibu tirinya berniat membuang Michi karena Michi dianggapnya tidak berguna. Michi mengidap kelainan pada jantung sehingga dia tidak bisa kerja berat. Akhirnya, ibu tiri Michi membuangnya ke panti asuhan yang berada di Finlandia.” Daiki menghela nafas. “Kau ingatkan saat Yabu ijin pergi ke luar negri?! Dia pergi ke Finlandia untuk mengunjungi neneknya yang sakit. Nah, di saat itulah Yabu dan Michi bersatu.”
          “Kau stalkerkan?” tuduh Yuya sembarangan sambil menunjuk-nunjuk pipi Daiki.
          “Kau kira aku teroris? Enak saja. Yabu sendiri yang menceritakannya padaku. Sudahlah aku mau pulang dulu.” Daiki menarik tangan Hikaru dan berjalan cepat keluar kelas meninggalkan Yuya yang sibuk membereskan barang-barangnya.
          “Chotto! Daichan! Kenapa kau menarik tanganku? Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!” tolak Hikaru.
          “Sudahlah Hikaru, Ayo ikut aku! Hari ini aku diantar sama otousanku, gara-gara mobilku sedang diservice.” Daiki mengeluarkan jurusnya. Puppy eyes dan chubby cheeks-nya yang digembungkan.
          “Hentikan itu!” Hikaru mencubit pipi Daiki. “Hari ini aku ada kencan dengan Nami. Jadi, pulanglah sendiri dan jangan bermanja seperti ini! Karena kau sudah berumur 18 tahun keatas.” Hikaru melepaskan cengkraman Daiki di pergelangan tangannya dan berlalu begitu saja.
          “Hikaru! Baka! Aku pulang dengan siapa?” teriak Daiki.
          Hikaru menghentikan langkahnya dan berbalik mmenghadap Daiki. “Kaukan bisa pulang dengan Yuyan.”
          “Tidak mau! Kalau aku pulang bersamanya nanti aku pasti diturunkan di tengah jalan lagi.”
          Hikaru tertawa sambil memegangi perutnya, “Itu masalahmu! Dasar pinguin!” Hikaru kembali melanjutkan jalannya dan melambaikan tangannya pada Daiki yang masih bingung. “Jyaa Daichan!”
          “Awas saja kau Hikaru! Aku akan merebut Nami darimu.”
          “Omaeeee!” Hikaru berbalik lagi dan berlari ke arah Daiki.
          Daiki berlari sambil tertawa menuju kelasnya. Dia telah memutuskan untuk meminta Yuyan mengantarnya pulang.
                                     ********SKIP********
(Rumah Sakit)
          Yabu baru saja menyantap sarapannya. Dia mengambil segelas air yang telah disediakan di meja dan beberapa obat yang harus diminumnya segera demi kesembuhannya. Lebih tepatnya, untuk mencegah bertumbuhnya kanker yang berada di dalam tubuhnya.
          ‘Tok tok tok’ Yabu mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang. “Silahkan masuk!” jawab Yabu.
          “Kouuucchhhaaaaann!!!!” teriak Daiki yang langsung memeluk Yabu, diikuti oleh Hikaru, Yuya, dan Nami yang mengikutinya dari belakang.
          “Eh! Kau?” Yabu sedikit terkejut dengan perlakuan Daiki. “Kenapa kau memanggilku Kouchan?”
          “He he he,, aku hanya ikut-ikut Yuuri oneesan saja kok.” Daiki melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Yabu. “Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat semakin kurus saja. Apa kau mau menjadi seperti tiang bambu? Hah? Kau itu sudah kurus seharusnya kau lebih menjaga kesehatanmu Yabu! Kau masih ingat akukan? Aku Daichan. A-ri-o-ka-Da-i-ki” omel Daiki.
          “Kau seperti ibu-ibu saja Daichan. Tentu saja aku mengenalmu.” Yabu tertawa geli. “Aku baik-baik saja. Sangat malah. Oneechan saja yang berlebihan.”
          Hikaru tersenyum mendengar jawaban Yabu. “Kau juga ingat akukan?”
“Un. Tentu.”
“Ah, Yabu perkenalkan. Ini Nami.” Hikaru nenunjuk ke arah kekasihnya.
          “Risako Nami desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Nami membungkukkan badannya di depan Yabu.
          Yabu tersenyum simpul. “Yabu Kota desu. Yoroshiku mo.”
          Selagi mereka berbincang-bincang, Yuyan mengotak-atik barang-barang Yabu yang ada di atas meja dekat sofa, dan dia tidak sengaja menemukan sebuah foto dengan bingkai kecil yang sederhana. ‘Nani kore?’ tanyanya dalam hati. Yuyan mengeluarkan foto itu dari bingkai dan membolak-baliknya. “Eh!” kejutnya.
          Yabu dan lainnya spontan langsung menoleh ke arahnya. “Yuyan, doushitano?” tanya Yabu.
          “Uhm.. iie, daijoubu.”
          “Kau tidak melakukan hal anehkan Yuyan?” tanya Daiki yang menyipitkan matanya dan menatap Yuya curiga.
          “Hei chibi, jangan memulainya lagi!”
          Yabu tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian ini dari dulu memang tidak pernah berubah. Ngomong-ngomong, dari mana kalian tau kalau aku sedang sakit?”
          “Yuuri oneesan-lah yang memberitahu kami.” Jawab Hikaru.
          Menyadari tidak ada yang sedang memperhatikannya, Yuya diam-diam keluar dari ruangan Yabu. Dia berjalan menuju ke bagian reception dengan membawa sebuah foto yang dipungutnya tadi. ‘Aku harus bertemu dengan Michi, apa yang sebenarnya terjadi?’ tanya Yuya dalam hati.
          “Sumimasen!”
          “Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya seorang suster yang mengurus bagian reception.
          “Anoo, dimana ruangan pasien yang bernama Michi Kawaguchi?”
          “Oh, nona Michi berada di ruang ICU untuk sementara ini Tuan.”
          “Ah, baiklah arigatou gozaimasu.”
          Yuya berjalan menuju ruang ICU berharap dapat bertemu  dengan kekasih Yabu dengan segera.
                                           *******SKIP******
Chiisana kata ni shoikonda bokura no mirai wa
Choudo kyou no yuuhi no you ni yureteta no ka naa

          Kei terbangun dari tidurnya. “Mnnnhhh!!” desah Kei ketika menyadari
Handphone-nya lah yang telah membangunkannya. Kei meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja. ‘Untuk apa anak ini menelfonku? Mengganggu saja’ gumamnya dalam hati saat menyadari bahwa Yuyalah yang menelfonnya.
          “Hai, moshi mosh! Doushitano? Kau mengganggu tidurku, baka!” ujar Kei yang bangkit dari tempat tidurnya.
          “Gomen. Kei bisakah kau ke rumah sakit sekarang? Ada yang perlu kubicarakan denganmu. Ini penting Kei.”
          Kei mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu? Ke rumah sakit? Kau sakit? Tumben, ternyata kau juga bisa jatuh sakit.” Kei selalu saja bersikap seperti itu.
          “Aku serius Kei. Sekarang juga!”
          “Iya iya bawel!” Kei segera mengganti pakaiannya dan bergegas menuju rumah sakit.
(Sesampainya di rumah sakit)
          “Yuyaaaann!!”
          Yuyan yang saat itu memakaikan headset di telinganya, tidak begitu jelas mendengar suara Kei. Yang dia lakukan hanya melirik ke arah kanan dan menyibukkan dirinya kembali bersama sebuah foto yang dia temukan ditumpukan barang-barang milik Yabu.
          “Takaaakkkiiii!!” Kei berlari ke arah Yuyan. “Kau ini, dari tadi aku sudah menelfonmu, tetapi kenapa kau tidak mengangkatnya?”
          Yuyan tidak mendengarkan omelan yang ditujukan padanya saat itu.
          “Yuya Takakiiiiii! Kau tuli ya?!” Kei menjitak keras kepala Yuyan an berhasil membuat orang itu tersadar.
          “Itaaiii! Inoo baka! Apa yang kau lakukan?” Yuyan mengaduh sambil mengelus-ngelus kepalanya yng terkena jitakan keras dari sahabatnya tersebut.
          “Aku baru saja menjitakmu. Kenapa? Kau mau membalasnya? Ayok!”
          “Tidak. Siapa juga yang mau menjitak kepala anehmu itu!”
          “Omaaeeeee!”
          “Sudahlah, sini duduk!” Yuyan menarik lengan Kei sehingga sahabatnya itu duduk persis di sebelahnya. “Baca Ini!” dia menyodorkan sebuah foto yang terdapat banyak coretan di bagian belakangnya.
          Kei membaca coretan-coretan tersebut, dan ekspresinya berubah seketika. “Nani kore? Di mana kau menemukan ini? Siapa yang menulis ini?”
          “Michi. Kekasih Yabu.” Ucap Yuya datar.
          “Michi?” tanya Kei.
          “Un. Kasian dia. Kau tau? Dia mengidap kelainan jantung dan dirawat di rumah sakit ini.”
          “Dan apa maksudnya dengan ini? Kalau Michi memang kekasih Yabu, kenapa dia menulis catatan seperti ini?”
          “Itu yang membuatku bingung. Apa yang diderita Yabu? Satu hal yang pasti_” ucapan Yuya terpotong oleh Kei.
          “Dia bukan hilang ingatan. Hilang ingatannya disebabkan oleh suatu penyakit. Yah.. dia tidak hanya sakit hilang ingatan, tapi juga menderita penyakit lain yang dapat merenggut nyawanya.” Sahut Kei.
          “Kita harus menemui Michi.”
          “Apa kau tahu ada di mana ruangannya sekarang?”
          “Tentu saja. Yoh!” Yuya dan Kei pergi menuju ruangan Michi untuk meminta penjelasan.
          Sesampainya di depan ruang ICU, Kei dan Yuya mengintip ke dalam ruangan dari celah kaca yang ada di pintu. Mereka melihat seorang gadis cantik yang sedang memandang kosong ke arah jendela. Wajahnya pucat pasi seakan tiada kebahagiaan yang ingin datang menjenguk hidupnya yang kelam.
          “Masuklah lebih dulu!” desak Kei yang menyiku lengan Yuya.
          “Kau saja!”
          “Kenapa harus aku?”
          “Dan kenapa juga harus aku?”
          Mendengar hal itu Kei langsung melotot tajam ke arah Yuya dan berhasil membuat Yuya mengalah. “Baiklah. Aku dulu.”
          “Akhirnya kau mengalah juga.”
          “Aku hanya tidak ingin matamu keluar hanya karena kau sering melototiku.”
          Kei mencubit lengan Yuya sekeras-kerasnya dan berhasil membuat Yuya mengaduh kesakitan.
          “Itai! Apa yang kau lakukan?!”
          “Siapa itu? Masuklah!” Mereka berdua mendengar suara lembut dari dalam ruangan yang tidak lain adalah suara Michi.
          Yuya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Michi dan diikuti oleh Kei yang berada di belakangnya. “Ohayou!” sapa Yuya yang mengangkat tangan kakannya sambil cengar-cengir.
          Michi memasang wajah bingung dan menyapa mereka. “Ohayou gozaimasu!” Michi menundukkan kepalanya. “Anata wa dare?”
          “Hajimemashite. Boku wa Takaki Yuya desu. Kochira wa Inoo Kei desu.” Kata Yuya sambil menunjuk ke arah Kei.
          “Ada yang bisa kubantu? Silahkan!” Michi mempersilahkan Yuya dan Kei untuk duduk di sofa.
          Mereka berdua menuruti kata-kata Michi. “Anoo kimi wa...”
          “Atashi wa... Michi.”
          “Anoo, kami adalah teman dekat Yabu.” Yuya memulai percakapan.
          “Yabu? Bagaimana keadaannya?”
          “Baik. Dia baik-baik saja.” Sahut Kei.
          Michi menerawang ke arah luar. “Bukan baik, tapi masih baik. Aku tak menyangka dia bisa melupakanku. Hanya aku. Dan kenapa harus aku? Dasar penyakit sialan.” Runtuk Michi yang masih memasang ekspresi datar.
          Yuya dan Kei saling menatap saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Michi. “Hanya melupakanmu?” tanya Yuya.
          “Penyakit sialan?” tanya Kei.
          Michi kembali memandangi  mereka berdua. “Ada apa dengan ekspresi kalian?”
          “Uhm.. Michi, sebenarnya Yuuri oneesan hanya memberitahu kami bahwa Yabu hanya menderita hilang ingatan ringan saja. Jadi kami berdua tidak mengerti dengan perkataanmu barusan.” Yuya menatap Kei untuk melanjutkan kata-katanya.
          “Dan apakah Yabu hanya melupakanmu? Bagaimana bisa? Dan apakah penyakit sialan yang kau maksud itu hilang ingatan?” lanjut Kei.
          “Chigau! Kau salah! Yabu..” Michi terdiam. Sebenarnya, dia masih tidak menyangka semua ini akan terjadi. Yabu yang sekarang ini telah melupakannya. Orang yang telah menyelamatkannya dari kehidupan yang kejam, sekarang sudah tidak ada lagi.
          “Kau kenapa? Apa yang terjadi pada Yabu?”tanya Yuya menyelidik. Namun Michi tetap diam saja.
          “Hei kau! Jawab pertanyaanku apa yang terjadi pada Yabu?”
          “Yuya, tenanglah!” sergah Kei. Yah.. disaat tertentu, hati dinginnya dapat berubah menjadi hati malaikat. Dan Kei akan menjadi orang yang sangat lembut.
          “Michi, bisakah kau memberitahu kammi apa yang sebenarnya terjadi pada Yuya?” tanya Kei dengan pelan.
          Michi kembali menatap ke arah keluar jendela dengan tatapan yang menerawang. Mereka bertiga lenyap dalam kesunyian, tidak ada satu orangpun yang ingin bertanya lagi, entah itu Kei, maupun Yuya.
          “Maaf jika kita hanya mengganggumu di sini! Kami pamit!” Kei berdiri dan menarik tangan Yuya.
          “Apa yang kau lakukan?”
          “Ikuti saja aku!” bisik Kei di telinga Yuya.
          Mereka berdua berjalan keluar ruangan dengan perlahan. Namun, beberapa saat kemudian, mereka mendengar isakan kecil yang bahkan dapat menyayat hati mereka. Michi menangis. Entah kenapa tangisannyapun dapat membuat orang yang mendengarnya mengetahui betapa sakit dirinya saat ini.
          Kei berbalik ke arahnya. “Tunggu di sini!” kata Kei kepada Yuya. Kei berjalan mendekati Michi dan menyentuh pundaknya. “Daijoubu desuka?”
          “Hiks.. hiks.. Yabu.. Yabu menderita kanker hati.. hiks.. hiks..”
          “YAPPARI!” teriak Yuya. Dia langsung berlari keluar dari ruangan Michi.
          Kei melihat ke arah Yuya yang sudah hilang di balik pintu. ‘Apa-apaan dia?!’ ucapnya dalam hati. Kei menoleh ke arah Michi yang masih terguncang hebat karena tangisnya. “Michi..daijoubu?”
          “Semua ini hiks.. karena..aku.”
          “Semua bukan salahmu. Bagaimana kau bisa menyalahkan dirimu sendiri?”
          “Dia terlalu lelah menjagaku.. hiks.. sehingga makannya tak teratur. Maagnya kambuh berkali-kali, tapi aku tak pernah memperhatikan itu. Dia terserang kanker hati yang sekarang mulai menyerang otaknya. Dan dia menderita amnesia ringan. Hiks.. aku benar-benar bodoh! Dia selalu menjagaku dan merawatku dengan baik, dan bagaimana bisa aku.. tidak memperhatikan kesehatannya sama sekali? Aku benar-benar bodoh!”
          “Michi tolong jangan salahkan dirimu! Itu takkan pernah ada gunanya! Sekrang sudah terlambat.” Kei menatap sendu gadis itu.
          “Belum.”
          “Apa yang kau maksud?”
          “Penyakit itu dapat disembuhkan jika ada seseorang yang mendonorkan hatinya untuk Yabu. Dan aku bisa melakukan itu.”
          “Dame! Kau tidak boleh melakukan itu! Jantungmu sudah lemah dan sekarang kau mau hidup tanpa hati. Apa kau sudah gila? Kau tidak akan pernah bisa hidup Michi!”
          Michi berbalik menatap Kei. Ditatapnya sahabat kekasihnya itu. “Kau sahabatnya bukan? Kau tidak ingin membuatnya sedihkan? Tolong jangan beritahu dia tentang ini! Dan jangan beritahukan ini pada siapapun. Termasuk Yuuri oneesan dan temanmu yang tadi.”
          “Gomen aku tidak bisa Michi. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal ini. Kau bisa mati Michi!”
          “Untuk apa aku hidup jika Yabu telah melupakanku? Untuk apa? Kalau saja dia sembuh, apakah dia bisa mengingatku lagi? Kalau Yabu tidak segera mendapatkan donor hati, dia juga akan mati! Dia adalah malaikat pelindungku Kei. Dia tidak boleh mati.”
          “Tapi Michi_”
          “Kau bukanlah Tuhan yang bisa mengatur semuanya! Jika kau dapat menyembuhkan Yabu, aku akan bersujud padamu.”
          Kata-kata Michi berhasil membuat Kei tertegun di tempatnya. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu telah mnyerah dengan semua permasalahan yang dihadapinya. “Aku akan membuatnya mengingatmu.”
          “Tidak mungkin!”
          “Mungkin saja.”
          “Jangan mengatakan sesuatu yang hanya menimbulkan harapan sia-sia.”
          “Ini tidak akan sia-sia.”
          “Berhentilah berkata seperti itu. Aku ingin istirahat.” Michi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memalingkan wajah dari Kei.
          Kei menghela nafasnya. “Aku akan tetap melakukannya.”
          “Terserah! Dan aku juga akan melakukan apa yang ingin kulakukan. Kau tidak punya hak untuk melarangku.” Michi memejamkan matanya, berusaha mengacuhkan Kei yang sekarang masih menatapnya sendu.
          “Jangan pernah melakukan hal bodoh! Aku pamit. Maaf telah mengganggumu.” Kei berjalan keluar dari ruangan Michi.
.
.
.
TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar