Tittle : Guardian Angel (3/3)
Categories : MultiChapter
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rating : PG 13
Theme Song : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep
Author : Hikari Natsumi
Cast : Kota Yabu (Main character),
Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya
Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis :
The flowers cut
and brought inside
Black cars in a
single line
Your family in
suits and ties
And you’re free
“Hahahahahaha,, benarkah? Itu benar-benar konyol!”
Yabu tertawa mendengar cerita dari Daiki yang sekarang mencoba menghiburnya.
“Dari dulu diakan memang sering begitu. Tertidur di
kelas dan jatuh dari kursinya dengan posisi yang menggelikan.”
“Kau benar Daichan. Aku jadi ingin
melihatnya saat jatuh.” Yabu menghapus air matanya karena kebanyakan tertawa
saat itu.
“Eh, Daichan!” panggil Hikaru.
Daiki menoleh ke arah Hikaru yang baru
saja memanggilnya. “Ada apa?”
“Kemana perginya si Yuyan?”
“Eh benar juga ya, mungkin dia sedang
jalan-jalan ke taman.” Jawab Daiki.
“Kei mana?” tanya Yabu tiba-tiba.
“kalau yang kau maksud itu Inoo,
mungkin dia sedang tidur di rumahnya. Kenapa? Kangen?” Daiki menggoda Yabu
terus menerus. “Iyakan? Kamu kangen sama Inoo?”
“Sudahlah hentikan itu! Itu tidak
lucu!” jawab Yabu kesal.
********SKIP*******
Sudah seminggu Yabu diperbolehkan
pulang oleh dokter, dengan syarat, setiap 2 hari sekali, dia harus memeriksakan
keadaannya.
(Di taman kota)
“Ahhhh aku tidak bisa mengerjakan ini!
Ini benar-benar memeras otakku!” Yabu menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon
yang besar dan rindang.
“Kau harus menyelesaikannya Yabu!
Inikan bagianmu.” Ucap Kei yang duduk di depan Yabu sambil menyantap bento yang
dibawanya dari rumah.
“Berikan bentomu padaku! Aku lapar
Kei. Otakku tidak akan berjalan dalam keadaan perut kosong.”
“Uso! Sebelum aku sampai di sini, aku
yakin kau sudah memakan sesuatu. Sudahlah jangan mencari banyak alasan! Cepat
kerjakan tugasmu!” Kei kembali menyantap bentonya.
“kenapa otakmu sangat cerdas? Padahal
kita sama-sama makan bento di pagi hari.”
“Aku lebih banyak memakan kari buatan
okaasanku. Mungkin itu yang membuat otakku lebih CERDAS darimu.” Kei menekankan
pada kata ‘CERDAS’ pada suaranya.
Yabu kembali berusaha mengerjakan
tugas Kimia yang diberikan oleh Kitagawa sensei. Padahal Kei sudah mengambil bagian-bagian
yang tersulit, namun Yabu tetap tidak dapat mengerjakan bagian yang mudah
dengan lancar. Dibandingkan Yabu, Kei jauh lebih cerdas.
“Yabu!”
“Uhm?”
“Kau ingat Michi?”
Yabu menghentikan kegiatannya dan
menatap Kei. “Dari dulu kau selalu bertanya ‘Kau ingat Michi?’ Yuuri oneechan
juga selalu menanyakan hal itu padaku. Siapa sebenarnya Michi? Apa dia begitu
penting di hidupku? Aku tidak peduli siapa dia!” Yabu membanting alat tulis
yang digenggamnya dan kembali bersandar pada pohon yang berada di belakangnya.
“Ini!”
“Apa ini?”
“Bacalah! Aku memintanya dari Yuyan
dan dia mencurinya dari ruanganmu saat kau dirawat di rumah sakit.”
Yabu melihat sebuah foto yang sudah
kusut. “Siapa perempuan ini?”
Kei mengalihkan pandangannya saat Yabu
menatapnya penuh kebingungan.
“Apa dia Michi?” Yabu mengalihkan
pandangannya ke arah foto tersebut. Terlihat dia sedang memeluk seorang gadis.
Yabu membalik foto itu dan ditemukannya beberapa coretan kecil yang membuatnya
tercengang. ‘Dulu kita bersama, dan sekarang sudah tidak lagi.’ ‘Yabu, kapan
kau akan mengingatku seperti dulu?’ ‘Kau adalah malaikat pelindungku, namun itu
dulu.’ ‘Aku akan melakukan apapun demi kesembuhanmu.’ ‘Get well soon Yabu!’
‘Aku Michi. Kau ingat aku?’ dan masih banyak coretan kecil yang berada dalam
foto tersebut.
“Kalau
kau sudah sembuh, apa yang kau inginkan?”
“Aku
ingin.. menikah denganmu.”
“Kalau
itu sudah pasti”
“K..Kei..” Yabu memegangi kepalanya
yang tiba-tiba terasa ada yang mencengkram kuat.
Kei menoleh ke arah Yabu. “Daijoubu?
Yabu?”
“Kau
itu malaikat pelindungku Yabu.”
“Benarkah?”
“Un.”
“Dan
kau?”
“Kalau
aku adalah orang yang beruntung mempunyai malaikat sepertimu.”
Tersirat kekhawatiran di raut wajah
Kei. “Yabu kau kenapa?”
Yabu mencengkram kepalanya yang terasa
sangat sakit. “Arrrrgggghhh! Perutku!”
“Kepalamu kenapa? Perutmu kenapa? Yabu
jawab aku!”
“Apakah
kita harus melakukan ini semua?”
“Kita
harus pergi Michi. Aku ingin hidup bersamamu!”
“Tapi
bukan seperti ini caranya Yabu.”
“Sudahlah
Michi ayo kita pergi!”
Yabu mencengkram kuat perut dan
kepalanya yang terasa sangat sakit. Pandangannya buram, dia hanya melihat
seorang gadis yang tersenyum kepadanya. “Michi?”
“Hahahaha
baka! Untung saja temanmu membangunkanmu.”
“Tapi
dia terlambat!”
“Itu
salahmu sendiri Yabu!”
Yabu
berdiri dengan langkah gontai, dia berjalan tanpa arah.
“Yabu! Kau kenapa?” Kei mengikuti Yabu dari belakang dan memegang
bahunya.
Yabu menoleh ke arah Kei dengan
tatapan kosong. Dia hanya dapat melihat gadis yang tersenyum manis padanya.
“Michi! Michi! Michi!” lama-kelamaan segalanya menghilang dalam kegelapan.
*******SKIP*******
Maiorita
tenshi no youna Kimi no egao wa
Kamisama
ga boku ni kureta
Saikou
no purezento
“Moshi mosh Inoo? Doushitano?”
“Daichan cepat ke rumah sakit
sekarang!”
“Ada apa?”
“Yabu.. dia..”
“Hah!” Daiki berdiri dari tempat
duduknya. “Baiklah aku akan ke sana segera.”
“Doushitamashita?” tanya Hikaru
khawatir.
“A, bikkurishita! Aku sedang makan
nih!” protes Yuya.
“Kei menelfonku dan mengatakan bahwa
Yabu sedang kritis di rumah sakit!”
“HAH!!!!” teriak Hikaru dan Yuya.
Mereka bertigapun segera pergi ke
rumah sakit.
******SKIP******
“Suster! Suster!” panggil Michi.
Tidak lama kemudian, datang seorang
suster dengan membawa sebuah catatan di lengannya. “Ada apa nona?”
“Aku dengar hari ini ada pasien
bernama Yabu Kota yang masuk ruang UGD?” tanya Michi terburu-buru.
“Benar nona.”
“Apa dia baik-baik saja?”
“Keadaannya sangat buruk. Dia tidak
sadarkan diri. Kata dokter, hari ini dia harus segera mendapatkan donor hati.
Jika tidak_”
“Jika tidak?” potong Michi.
Suster itu menggelengkan kepalanya dan
menunduk. “Dia akan kehilangan nyawanya.”
Michi terkejut mendengar perkataan
suster itu. Yabu, orang yang telah lama dicintainya akan meninggalkannya begitu
saja. “Bisakah.. aku yang menjadi pendonornya?”
Suster itu terlihat lebih terkejut.
“Tidak mungkin nona!”
“Kenapa? Hanya jantungku yang
bermasalahkan? Hatiku masih baik-baik saja.”
“Itu berbahaya nona!”
“Ini hakku. Aku yang punya hak. Tolong
katakan pada dokter, aku ingin menjadi pendonornya.” Ucap Michi tegas.
Keputusannya telah bulat. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi padanya.
Selama Yabu hidup, itu sudah cukup baginya. Entah Yabu akan mengingatnya atau
tidak, dia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.
“Tapi... baiklah nona, saya akan
segera kembali.”
“Terimakasih suster, tapi, tolong
jangan katakan aku yang menjadi pendonor!”
“Baiklah nona.” Dengan berat hati
suster itupun segera meninggalkan ruangan Michi dan menuju ke ruangan dokter.
‘Yabu, bertahanlah! Kamisama berikan
kekuatan untuk Yabu’ Michi meletakkan kedua tangannya di depan dada. Sekarang
ini, dia hanya bisa berdo’a. ‘Kamisama tasukete.. jagalah Yabu..
Onegaishimasu!’
*******SKIP********
“Kita harus segera mencari pendonor
hati tersebut.”
“Tapi siapa dokter? Siapa?” tanya
Yuuri yang terlihat sangat gelisah.
Mereka dikagetkan dengan tiba-tibanya
pintu terbuka oleh seorang suster.
“Ada apa suster?”
“Sumimasen sensei! Saya telah
menemukan orang yang bersedia mendonorkan hatinya kepada Tuan Yabu.
“Siapa suster?” tanya Yuuri terkejut.
“Sumimasen. Orang itu tidak ingin
disebutkan identitasnya.”
“Baiklah, kalau begitu kita akan
memulai operasinya hari ini. Suster, siapkan ruang operasi segera! Aku akan
segera memeriksa keadaan Tuan Yabu sekarang ini juga.”
“Baik dokter.” Suster itupun segera
berlalu.
Yuuri terlihat sangat bahagia, namun,
dia tetap memikirkan siapa orang yang telah rela mendonorkan hatinya untuk
Yabu. ‘Arigatou Kamisama. Hontou ni arigatou!’ seru Yuuri dalam hatinya.
(Di
ruang UGD)
“Apakah Yabu akan sadar? Kenapa dia
tidak segera membuka matanya?” tanya Daiki yang melihat nanar ke arah Yabu yang
sekarang tubuhnya telah dipenuhi oleh peralatan-peralatan rumah sakit.
“Mi..chi. Mi..chi!”
“Yabu! Kau! Buka matamu Yabu!” Kei
mendengar Yabu bersuara.
“Ada apa Inoo?” tanya Hikaru yang
berada di samping Daiki.
“Di..dia sadar!” jawab Kei.
Yuya, Daiki, Hikaru dan Kei
mengelilingi tempat tidur Yabu yang belum juga membuka matanya.
“Michi? Mi..Michi?”
“Apakah dia mengigau?”
“Kei! Bisakah kau membawa Michi
kemari?” tanya Yuya.
“Un. Baiklah.” Kei segera keluar dari
ruang UGD dan berlari menuju ruangan Michi.
Sesampainya di ruangan Michi, dia
tidak melihat seorangpun yang ada di sana. “Kemana Michi?” Kei keluar dari
ruangan Michi dan bertanya kepada seorang suster. “Sumimasen, apakah suster
tahu pasien bernama Michi yang dirawat di ruangan ini?”
“Oh, nona Michi berencana untuk
mendonorkan hatinya untuk pasien bernama Yabu Kota. Sekarang dia sedang dipersiapkan
di ruang operasi.” Jawab suster tersebut.
“APA? Terimakasih suster!” Kei segera
berlari ke ruang operasi untuk menemui Michi. ‘Dia sudah gila! Benar-benar
gila!’ batin Kei.
Sesampainya di ruang operasi, Kei
melihat ke dalam lewat celah pintu yang masih terbuka sedikit. Terlihat Michi
yang sedang berbaring di atas tempat tidur lengkap dengan baju operasi yang
berwarna hijau tua. Dia menangis dan tersenyum. Kei tidak bisa melakukan
apa-apa saat itu. Sulit baginya untuk meyakinkan Michi. Kei melangkahkan
kakinya kembali ke ruang UGD tempat Yabu dirawat.
“Dimana Michi? Daritadi Yabu terus
memanggil namanya Kei!” seru Hikaru saat melihat Kei yang baru saja tiba di
ruangan Yabu.
Kei berjalan mendekati Yabu dan
menggenggam tangannya. “Gomen. Gomen ne Yabu! Gomen!” Kei menitikkan air
matanya. “Gomen Yabu! Aku tak dapat mencegahnya.”
“Apa yang kau maksud Kei? Dimana
Michi?” tanya Daiki yang melihat Kei menangis.
Beberapa saat kemudian, muncul seorang
dokter dan beberapa suster yang sudah siap dengan pakaian dan masker yang akan
dipakainya saat mengoperasi Yabu nanti.
“Dokter!” Kei menatap dokter itu penuh
harap. “Apakah Michi akan selamat?”
Dokter itu menatap ke arah Yabu dan
menatap Kei kembali. “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya.” Dokter dan
suster-suster itu langsung membawa Yabu ke ruang operasi. Diikuti oleh Kei dan
yang lainnya.
*******SKIP*******
Yabu membuka matanya. Dia merasakan
ada sesuatu yang mengganjal di perut sebelah kanannya. “Ini dimana?” Dia
melihat ke arah kiri dan mendapati seorang gadis yang masih terkulai lemas.
“Michi? Apa itu kau?”
Yabu berusaha bangun dari tempat
tidurnya. Namun, hal itu terasa sangatlah sulit. Perutnya sangat sakit karena
luka bekas operasi belum mengering. Dia membatalkan niatnya dan kembali
merebahkan tubuhnya di tempat tidur. “Michi bangunlah!” Karena tidak jawaban
dari Michi, Yabu memutuskan untuk kembali tidur.
“Yabu?” suara lembut seorang gadis
mengurungkan niat Yabu untuk kembali tidur.
“Michi? Kau sudah bangun?” Yabu
menatap gadis itu penuh arti.
Wajahnya pucat pasi, namun dia tetap
memaksakan seulas senyum untuk Yabu. “Daijoubu ka?”
“Un. Kimi wa?”
“Daijoubu desu.” Jawab gadis itu.
“Bagaimana kita bisa berada dalam satu
ruangan Michi?”
“Aku yang memintanya.” ujar Michi
berbohong.
“Hontou ni?”
Michi mengangguk lemas dan kembali
mengulas senyumnya. Dia hanya merasakan kekosongan di perut sebelah kanannya.
‘Apakah hatiku sudah berada di tubuhmu Yabu?’ tanya Michi dalam hati.
“Nee Michi! Kenapa kau terlihat sangat
pucat?” tanya Yabu khawatir. Dia merasakan ada yang aneh.
“Aku baik-baik saja Yabu.”
“Bisakah kita pergi jalan-jalan besok?
Aku ingin pergi berdua bersamamu Michi! Aku akan meminta ijin pada dokter,
kalau dia tidak mau aku akan terus memaksanya. Apa kau mau? janji ya?”
“Baiklah, aku berjanji.” Michi terus
mengulas senyumnya, hanya itu yang bisa diberikannya pada Yabu. ‘Baiklah aku
mau Yabu. Tapi, apakah besok aku masih hidup?’ tanya Michi dalam hati. Michi
memejamkan matanya dan berharap keajaiban akan selalu menyertainya.
(Keesokan
Harinya)
“Ohayou
Yabu!!!” teman-temannya datang menjenguknya, yang tidak lain adalah Kei,
Hikaru, Yuya, dan Daiki.
“Ohayou!” sapa Yabu yang duduk di
sebelah tempat tidur Michi. “Kenapa kalian tidak masuk?”
“Otanjoubi Omedatou! Otanjoubi
Omedatou! Omedatou Yabu Kota, Otanjoubi Omedatou! Otanjoubi Omedatou
Yabuuuuu!!” seru mereka berempat.
“Hah?”
Michi mengecup lembut lembut pipi
kekasihnya. “Otanjoubi Omedatou Yabu!”
Yabu menatap Michi bingung. “Ini
hari..”
“Kau lupa? Hari ini ulang tahunmu
Yabu” Michi tersenyum.
“Nee Yabu, gomen. Kami tidak membawa
kue seperti biasanya karena dokter belum mengijinkanmu untuk makan sembarangan.
Tapi tenag saja, kami membawa kado yang sangat istimewa untukmu Yabu.” Ucap
Yuya antusias.
“Apa itu?” tanya Yabu yang memasang
wajah penasarannya.
“Tadaaaa!” orang tua Yabu muncul dari
belajang mereka, Yuuri juga ada di sana.
“Otousan! Okaasan!” panggil Yabu.
“Otanjoubi Omedatou Kouchan!” Ibu Yabu
langsung memeluk anak tersayangnya. “Maafkan ibu sayang! Karena ibu baru bisa
menjengukmu sekarang! Otanjoubi Omedatou!”
“Okaasan!” Yabu memeluk erat seorang
wanita yang sekarang berada dalam pelukannya. “Aku sangat merindukanmu! Maafkan
aku okaasan!”
Yabu melepaskan pelukannya dan memeluk
sang ayah. “Otousan! Maafkan Kota Otousan!”
“Daijoubu.” Ucap ayah Yabu.
“Yabu?” panggil Michi.
Ibu Yabu memandang ke arah Michi.
Sebelumnya Yuuri telah mengatakan padanya bahwa Michilah yang mendonorkan
hatinya kepada Yabu. Ibu Yaby mendekati Michi dan langsung memeluknya dan
menangis.
“Arigatou Michi! Arigatou!”
“Obasan!”
“Jangan panggil aku seperti itu! Mulai
sekarang kau boleh memanggilku Okaasan. Michi, mulai sekarang kau adalah
anakku.”
“Okaasan!”
“Yah.. panggil aku seperti itu
sayang!” Ibu Yabu memeluk Michi sekali lagi.
Yabu tersenyum melihat Ibunya dan
Michi berpelukan. Dia memandang ke arah ayahnya. “Otousan?”
“Ini adalah kado ulang tahunmu Kota.
Ayah merestui hubungan kalian”
“Arigatou otousan!”
***********SKIP************
“Kau yakin tidak mau kutunggu?” tanya
Hikaru yang masih ada dalam mobil.
“Tidak usah, biarkan aku bersama Michi
sendirian. Nanti aku akan menghubungimu.” Jawab Yabu yang berdiri di belakang
Michi yang duduk di atas kursi roda.
“Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi
aku segera ya! Jyaa naa!” Hikaru melambaikan tangannya dan segera melaju pergi
meninggalkan Yabu dan Michi di Okinawa. Mereka berdua jalan-jalan bersama,
persis dengan janji yang mereka buat tadi malam.
Yabu mendorong kursi roda Michi dan
pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan di sana. “Michi?”
“Uhm?”
“Janji kepadaku kau takkan
meninggalkanku ya?”
Michi terdiam mendengar perkataan
Yabu. ‘Gomen ne Yabu’
“Michi?”
“Un. Aku berjanji. Yabu aku tidak ingin
duduk di sini. Aku ingin berjalan.” Pinta Michi yang menarik-narik lengan baju
Yabu.
“Kau bisa?”
“Kan kau bisa membantuku.”
Yabu tersenyum simpul. “Baiklah.
Hati-hati!” Yabu membantu Michi berdiri dan membopongnya berjalan.
Di sepanjang perjalanan, mereka
tertawa bersama dan bercanda bersama. Seakan tak tahu kematian berada tepat di
depan mereka. Mereka berdua duduk di bawah pohon yang sangatlah rindang,
berpelukan seakan tak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
“Yabu,, kalau nanti aku pergi, apa kau
akan melepaskanku?”
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti
itu? Tentu saja aku akan terus memegang tanganmu dan tidak akan mengijinkanmu
pergi dariku.”
“Aku serius Yabu.”
“Iya iya.. uhm.. jika kepergianmu itu
membuatmu bahagia, aku akan melepaskanmu. Aku pasti akan melepaskanmu.” Yabu
tersenyum dan mempererat pelukannya.
“Yabu?”
“Uhm?”
“Otanjoubi Omedatou! Daisuki.”
“Arigatou..Aishiteru Michi.”
“Ini pertamakalinya kau mengucapkan
kata itu Yabu.”
“Mulai sekarang, aku akan sering
mengucapkannya. Aishiteru!”
Michi meneteskan air matanya. Rasanya
benar-benar bahagia. Yabu memeluk erat dirinya dari belakang. Namun, entah
kenapa dia merasakan kantuk yang sangat.
“Bolehkah aku
beristirahat sebentar? Aku lelah Yabu.”
“Tidurlah sayang, tidurlah!”
Michi memejamkan matanya perlahan.
“Aishiteruyo!”
“Boku mo.”
Berjam-jam telah berlalu, namun, Michi
tidak kunjung bangun dari tidurnya. Hal itu membuat Yabu menjadi khawatir.
“Michi? Kau tidur lama sekali! Oiya apa kau tahu orang yang mendonorkan hatinya
untukku? Aku ingin bertemu dengan orang itu. Aku ingin berterimakasih karena
dia bersedia mendonorkan hatinya untukku. Namun, apakah masih mungkin? Apa
menurutmu dia masih hidup?”
Tetap saja tidak ada jawaban dari
Michi.
“Michi bangunlah! Kenapa kau tidur
terus?” kekhawatiran Yabu memuncak saat tubuh Michi terasa sangat lemas.
“Michi? Apa kau baik-baik saja?
Bangunlah Michi!”
Yabu melepaskan pelukannya dan melihat
darah segar keluar dari hidung Michi. “Miichiiiii!!!!” Yabu menangis. “Kau
kenapa Michi? Buka matamu! Aku mohon!” Yabu memberanikan menyentuh pergelangan
kekasihnya, namun, dia tidak merasakan apa-apa.
Tangis Yabu memuncak, tubuhnya
terguncang hebat, dia memeluk kekasihnya yang telah beristirahat dengan tenang.
“Tidurlah Michi! Beristirahatlah
dengan tenang!”
*******SKIP*******
(Flashback END)
Seseorang menyentuh bahunya dari belakang. “Douzo!”
“Apa ini?”
“Bacalah! Aku pergi dulu!”
“Arigatou Daichan!” Yabu membuka
surat yang diberikan oleh Daiki.
Gomen
Yabu, mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada. Dengan
kepergianku ini, jangan anggap aku sudah lenyap dari hadapanmu! Karena ‘hatiku’
selalu berada dalam tubuhmu. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Akulah
orang yang telah mendonorkan ‘hati’ku
padamu. Apa kau marah?
Yabu mulai meneteskan air matanya.
“Michi!”
Aku tidak ingin kau pergi, jadi
biar saja aku yang pergi. Karena untuk selamanya, kau adalah malaikat
penjagaku. Kau harus menjaga ‘hati’ku dengan baik-baik. Janji?!
“Un. Aku berjanji” jawab Yabu lirih.
Aku merasa benar-benar beruntung
memilikimu. Kau menyelamatkanku dari kehidupanku yang kelam. Kau melindungi
dari kemmatian yang selama ini mengincarku. Tapi, kau tidak boleh menyalahkan
dirimu atas kepergianku ini, karena aku sendirilah yang menyerahkan diriku pada
kematian.
Terserah
padamu apakah kau mau melupakanku atau tidak. Yang terpenting, jangan
membenciku! Atau aku akan membencimu^.^,,, aku punya satu permintaan dan kau
harus mengabulkannya. Dapatkah sekarang juga kau tersenyum dan melihat ke arahku?
Akukan juga ingin melihatmu tersenyum. ayo tersenyum sekarang! Ayolah cepat
tersenyum! *^_^*
Yabu tersenyum dan melihat ke arah pemakaman Michi. ‘Aku akan terus
tersenyum untukmu Michi.’
Sayonara Yabu Kota! Aishiteru!
Aishiteruyo!
‘Arigatou Michi. Arigatou!
Aishiteru!’ kata Yabu dalam hati. Dia berjanji akan selalu mengingat Michi
sepanjang hidupnya.
******Aishiteru******

Tidak ada komentar:
Posting Komentar