Tittle : Guardian Angel (1/3)
Categories : MultiChapter
Genre :
Romance, Angst, Friendship
Rating : PG 13
Theme Song : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep
Author :
Hikari Natsumi
Cast : Kota Yabu (Main character),
Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya
Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis :
The flowers cut
and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you’re free
Yabu berdiri jauh dari pemakaman
kekasihnya. Berharap hari itu adalah sebuah drama yang akan segera berakhir.
“Terimakasih Michi. Aishiteru. Aishiteruyo.”
(flashback)
“Yabu..” panggil gadis
cantik yang terbaring lemah di atas kasur yang berbalut cover bed putih.
“Michi.. kau sudah
sadar? Syukurlah. Sebentar akan kupanggilkan dokter.” Saat yabu hendak beranjak
dari tempat duduknya, Michi menarik lengannya. “Doushitano?”
“Jangan pergi.
Temani aku sebentar saja Yabu.”
Yabu tersenyum
simpul dan mengusap lembut kening Michi. “Baiklah..” Yabu kembali duduk di
samping tempat tidur Michi.
“Yabu...”
“Hmm”
“Kufikir..semua ini
akan sia-sia.”
“Apa yang kau
maksud sayang?” Yabu menatap kekasihnya dengan penuh pertanyaan.
“Sebelumnya..
terimakasih. Karena kau telah menemaniku selama ini. Terimakasih karena kau
telah menjadi malaikat pelindungku selama ini. Terimakasih telah menghiasi
hidupku Yabu.” Michi tersenyum dan memandangi wajah kekasihnya yang masih
kebingungan.
“Tidak perlu
berterimakasih. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai calon suamimu.”
Michi terlihat diam
sesaat. “Kau akan menyesal Yabu.”
“Menyesal.. nande?”
“Karena kau telah
memilih wanita lemah dan tidak berguna sepertiku. Aku tidak punya banyak waktu
lagi untuk hidup di dunia yang keras ini.” Raut wajah Michi berubah.. bagi
Yabu, hanya dengan perubahan raut wajah kekasihnya saja, itu dapat membuat
hatinya sakit.
Yabu menggenggam
tangan Michi dan mengecupnya. “Ssstt.. jangan berkata seperti itu. Aku, Kota
Yabu. Bersumpah akan selalu berada di samping Michi Kawaguchi dalam keadaan
suka maupun duka. Selalu menjaga Michi, selalu melindunginya dari apapun. Aku
bersumpah, aku rela mati untuk melindungi Michi, untuk mengembangkan senyum Michi,
untuk membuat Michi bahagia selamanya. Aku bersumpah akan menjadi ayah yang
baik bagi anak-anakku dan Michi kelak. Akan menjadi suami yang bertanggung
jawab dan tidak akan membiarkan keluarganya dalam kesusahan. Aku bersumpah akan
hidup bersama Michi hingga maut yang memisahkan.” Michi yang mendengar sumpah
Yabupun tidak kuasa menghalau air matanya. Yabu yang melihat kekasihnya itu
hanya bisa tersenyum bahagia dan memeluk Michi dengan erat seakan tidak ingin
membiarkan kematian untuk mengambil kekasihnya.
“Arigatou Yabu..
hiks,, hiks,,”
“Douita honey..” Yabu mengusap lembut kepala
kekasihnya dan mengecup keningnya.
11 menit lamanya
mereka berpelukan. Yabu mulai merasakan kejanggalan. Pelukan Michi tak seerat
sebelumnya. Dan tubuhnya sangat lemas.
“Michi!” panggil
Yabu. “Sayang.. Michi.. kau kenapa?” Yabu melepaskan pelukannya dan melihat
kekasihnya mengeluarkan darah pada hidungnya. “Oh Kamisama Michiiii bangun
Michi.. Michi bangun sayang. Jangan bercanda! Michi bangun!” Yabu menekan
tombol darurat yang berada di meja dekat Tempat tidur.
“Michi banguuunn!!!
Bangun sayang! Ayo bangunlah kumohon..” Yabu menggoyang tubuh kekasihnya
berkali-kali.
Tidak lama
kemudian, dokterpun segera masuk ke dalam ruang ICU yang ditempati Michi. “Tuan
tolong keluar sebentar!” pinta seorang suster yang membawa berbagai alat dokter
tersebut.
“Tapi suster.. aku
harus menunggunya.”
“Tuan, saya mohon
keluar sebentar! Biar dokter memeriksanya.”
Yabu menghampiri
dokter yang sedang memakai stetoskop “Dokter, tolong selamatkan tunangan saya
dokter! Tolong dok!”
“Akan saya usahakan
Tuan. Silahkan tunggu sebentar di luar.”
Yabupun keluar dari
ruang ICU. Dengan langkah gontai dia menuju ruang tunggu. Yabu terduduk lesu.
Kakinya yang selama ini membawanya kemana-mana seakan tidak berfungsi,
fikirannya berkecamuk tak tentu arah, isakannya mulai terdengar, isakan yang
dalam dan menyakitkan.
“Hiks.. hiks..
hiks.. Michi.. bertahanlah sayang! Hiks.. hiks.. Kamisama aku mohon jangan
ambil nyawanya. Kamisama aku mohon jangan ambil nyawanya.. hiks.. hiks..
Kamisama Onegaishimasu. Onegaishimasu. Onegai.. entah kenapa di saat yang
memilukan itu, dia merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Yabu meringis
kesakitan entah ada apa dengan dirinya. “Arrghh itai..”ucapnya sambil memegangi
perutnya. Rasanya ada sesuatu yang ditusuk tusukkan ke perutnya. Kepalanya
berdenyut, cengkraman tangan pada bajunya semakin kuat, pandangannya kabur dan
semua berputar, Yabu memejamkan matanya sekuat mungkin. Dia membuka matanya dan
segalanyapun menjadi gelap.
Beberapa menit
kemudian dokter keluar dari ruangan Michi. Dokter itu mencari-cari Yabu yang
ternyata tertidur dengan pipi basah dan wajah yang memilukan di samping deretan
kursi untuk menunggu pasien. Dokter itu menghampiri Yabu yang terkulai lemas.
‘Kasian sekali pemuda ini’ batin sang dokter.
“Tuan.. bangunlah
tuan!” dokter tersebut menyentuh pundak Yabu. Namun, tidak ada balasan sama
sekali. “Tuan.. bangun tuan!” dokter itu berjongkok tepat di depan Yabu dan
menyentuh wajah pemuda itu. Ekspresi datar sang dokter langsung berubah
seketika saat dia merasakan ada yang tidak beres dengan pemuda itu.
“Suster! Cepat
kemari suster! Bawakan kursi roda!” dokter itu berteriak dengan nada khawatir.
Beberapa saat
kemudian datang beberapa suster yang segera membawa Yabu ke ruang UGD.
*****SKIP*****
Yabu membuka
perlahan matanya, merasakan masih ada sesuatu yang menusuk perutnya walaupun
tidak sesakit yang tadi. Sinar matahari pagi yang telah membangunkannya. Dia
melihat sekeliling dan menemukan sebuah buket bunga dan juga kakak perempuannya
yang tertidur pulas di atas sofa.
‘Apa yang terjadi?’
tanyanya dalam hati.
“Uuunnggghhh...”
Yabu menoleh ke arah kakaknya yang terbangun. Tatapannya sayu.
“Kouchan kau sudah
bangun.” Kakak Yabu segera mmenghampirinya. “Syukurlah kau sudah sadar Yabu.
Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Dia menggenggam tangan adiknya sangat erat.
Hangat, itulah yang dirasakan Yabu.
“Oneechan.. ada apa
denganku? Sejak kapan aku terbaring di sini?”
“Sudah tiga hari
kau tak sadarkan diri Kouchan. Kau pingsan saat berada di ruang tunggu rumah
sakit.”
Yabu terdiam
sejenak. “Untuk apa aku berada di ruang tunggu rumah sakit oneechan?” Yabu
menatap kakaknya dengan penuh kebingungan.
Kakaknya tersenyum
kecil “Tentu saja untuk Michi. Siapa lagi. Kau yang selalu bersikeras untuk
menjaganya, bukan? Apa kau lupa?”
“Dare? Michi?
Dia... siapa?”
Yuuri, kakak Yabu,
benar-benar terkejut dengan pertanyaan adiknya. “Kau tidak kenal dengan Michi?
Dia tunanganmu Yabu! Apa saat kau pingsan ada yang mengotak-atik otakmu?”
“Tunangan? Kapan aku
mempunyai tunangan oneechan? Bukannya otousan mau menjodohkanku?”
“Kau sakit ya Kou?”
Yuuri menyentuh dahi adiknya. “Kau tidak demam. Apa kau salah makan?
Jangan-jangan kau jajan sembarangan lagi ya sebelum pingsan? Kau menolak
perjodohan itu Kouchan. Kau pergi dari rumah bersama Michi karena otousan tidak
menyetujui hubungan kalian. Kami sekeluarga telah mencarimu kemana-mana. Sampai
suatu hari, okaasan yang sekarang berada di Mexico bersama otousan, mendapat
telfon dari rumah sakit ini dan mengabarkan bahwa kau pingsan dan sakit keras.
Mereka langsung menghubungiku dan mengatakan tentang keadaanmu.”
Yabu masih terdiam.
Tidak paham dengan apa yang baru saja dikatakan kakaknya.
“Kau tidak hilang
ingatankan? Michi adalah gadis yang sangat kau cintai. Michi adalah gadis yang
menderita kelainan pada jantungnya. Sebab itulah otousan tidak menyetujui
hubungan kalian.” Raut wajah Yuuri semakin khawatir.
Yabu mencoba
mengingat siapa gadis yang bernama Michi tersebut. Namun tiba-tiba dia
merasakan sakit di kepalanya. “Arrghh itai.. itai..” Yabu meringis kesakitan
sambil memegangi kepalanya.
“Kouchan!
Doushitamashita? Kau kenapa?” Yuuri panik, tentu saja, dia panik setengah mati
dan segera memencet tombol darurat. “Kouchan kau kenapa?”
Beberapa saat
kemudian dokter datang, “Suster tolong ambilkan obat penenang!”
“Kouchan.. hiks..
kau kenapa Kouchan.. hiks..hiks... Kouchan!” tangis Yuuri pecah.
Dokter segera
menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Yabu. Obat penenang itu bekerja
sangat cepat, Yabupun langsung terhanyut dalam tidurnya.
“Dokter.. ada apa
dengan adik saya?” tanya Yuuri.
“Kita bicarakan di
luar saja nona!”
Yuuri menatap wajah
letih adiknya dan mengecup lembut kening adiknya.
Di luar ruang UGD,
dokter menjelaskan tentang keadaaan Yabu kepada Yuuri.
“Apakah.. dia
pernah terserang kanker sebelumnya?”
“Ya dok. Dia pernah
terserang kanker hati sebelumnya. Tapi, itu sudah lama sekali dan sudah
sembuh.”
Dokter tersebut
terlihat berfikir sejenak. “Apakah dia mempunyai maag?”
“Memangnya kenapa
dok? Yah.. dia mempunyai maag, tapi itu maag ringan.”
Dokter itu terlihat
memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya. “Seperti yang duga. Tuan Yabu
mengidap kanker hati. Dan kanker itu mulai menyerang otaknya.” Suara dokter itu
melemah.
“Tidak mungkin.”
Yuuri menutup mulutnya untuk mencegah isakan tangisnya. “Bagaimana bisa dok?
Bagaimana bisa?”
“Kalau menurut
saya,karena Tuan Yabu sering kelelahan dan maagnya sering kambuh, kanker itu
kembali. Maag Tuan Yabu tidak dapat dikategorikan sebagai maag ringan lagi
nona. Sehingga Maag tersebut menimbulkan kanker untuk kesekian kalinya. Dan
karena kanker tersebut mulai menyerang otak, Tuan Yabu akan mengalami hilang
ingatan ringan. Biasanya orang yang akan dilupakan adalah orang yang benar-benar
sangat disayangi oleh pasien.”
“Apakah ada cara
untuk menyembuhkannya dok?”
“Hanya ada satu
nona, donor hati. Namun, sekarang ini sangatlah sulit untuk mencari seorang
donor hati. Karena donor hati dapat menghilangkan nyawa pendonornya. Pihak
rumah sakit akan ikut membantu nona untuk mencarikan donor hati yang tepat.
saya ikut berduka atas hal ini. Saya permisi dulu nona!” dokter itupun pergi
meninggalkan Yuuri yang hanya diam dalam isak tangisnya.
******SKIP******
Keesokan harinya,
Yuuri mendatangi kamar Michi. Ketika dia membuka pintu, dia menyadari satu hal.
Michi semakin terlihat berbeda. Aura yang dipancarkannya tak sebahagia yang
dulu.
“Michi..
ohisashiburi!”
Michi melihat Yuuri
yang berdiri di ambang pintu. “Yuuri Oneesan ohisashiburi desunee..silahkan
masuk!”
Yuuri tersenyum dan
menghampiri Michi. “Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat semakin kurus Michi.
Apakah kau jarang makan? Adikku tidak mengurusmu dengan baik ya?” canda Yuuri.
“Chigau.. bukan
karena itu oneesan. Yabu benar-benar telah merawatku dengan baik selama ini.
Tapi aku heran, sudah 3 hari dia tidak menjengukku. Oneesan tidak akan mengambilnya
pergikan?” Michi menatap Yuuri dengan tatapan khawatir.
“Tenang Michi.. aku
menyetujui hubungan kalian sejak awal. Aku sangaaaaaattt menyetujuinya. Kau
tau, bahkan aku pernah menghayal aku sedang menggendong keponakanku.” Yuuri
tersenyum. Namun, sinar matanya tetaplah redup.
“Oneesan, ada apa
datang kemari?”
“Aku ke sini untuk membicarakan tentang keadaan Kouchan. Kuharap kau bisa menerima
apa yang akan kukatakan.” Yuuri mulai bersikap serius. Jujur, dia tidak sanggup
untuk mengatakan hal ini. Dia takut keadaan Michi akan semakin memburuk.
“Yabu? Dia
baik-baik sajakan oneesan?” tersirat kekhawatiran di cahaya mata Michi.
Yuuri menghela
nafas dengan beratnya. Mau tidak mau, dia harus mengatakannya. “Kouchan.. dia..
terserang kanker.”
Suasana ruangan
Michi hening seketika. “Kanker?!” suara Michi memecah keheningan. Yuuri
menghela nafas berat dan menganggukkan kepalanya.
Michi tersenyum
pahit. Seakan tidak cukup cobaan yang dihadapinya. “Lalu? Bagaimana keadaannya?”
Michi bertanya sedatar mungkin. Dia tidak ingin memperburuk keadannya. Yabu
yang telah mengajarkannya bagaimana cara mengendalikan perasaan. Yabu telah
mengajarkan banyak hal kepada Michi. Itulah yang sangat dikagumi Michi dari Yabu.
Yabu telah mengajarkan banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan.
“Kankernya..
hiks...” terdengar isakan kecil dari Yuuri.
“Teruskan oneesan!”
Michi sudah berlinangan air mata. Tapi, dia tetap berusaha untuk mengendalikan
perasaanya.
“Kankernya mulai
menyebar ke otak. Dan...” Yuuri menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. “Hiks.. hiks.. dia
mengalami hilang ingatan Michi.”
Michi merasakan ada
petir yang menyambar dirinya. Petir itu seakan menusuk langsung tepat pada
jantungnya yang sekarang ini sedang susah payah dikendalikan oleh si pemilik.
Petir itu menyerap seluruh tenaga Michi yang tersisa. Menghancurkan segala harapan
yang telah dia bangun bersama Yabu selama ini. Air matanya tak terbendung lagi.
Michi menangis dalam kebisuan. Dia menggenggam erat tangan yang lain,
diletakkannya di depan dada.
“Kouchan.. tidak
mengingat apapun hiks.. tentang..dirimu Michi..hiks.. hiks.. gomen, gomen ne,
gomen michi!”
“Apa? Kamisama,
kenapa kau melakukan ini? Kamisama kenapa kau melakukan ini pada orang yang aku
cinta? Apakah Yabu melakukan kesalahan? Kamisama kenapa kau lakukan ini?” Michi
berteriak sejadi-jadinya. “Hiks.. hiks.. hiks.. Kamisama.. hentikan semua ini!
Aku tidak kuat Kamisama.. apa kau belum puas membuat hidupku semenderita ini?”
“Michi... jangan
berkata seperti itu Michi! Hiks.. Michi..”
“Nande? Kenapa aku
tidak boleh berkata seperti itu? Hiks.. Kamisama tidak adil. Dia benar-benar
tidak adil. Kenapa dia membuat hidupku semenderita ini oneesan? Hiks.. hiks..
Kamisama.. hentikan semua ini hiks.. hiks.. onegaishimasu!”
Yuuri memeluk tubuh Michi yang terguncang
hebat. “Michi, jangan seperti ini!”
“Oneesan.. apa yang
harus kulakukan? Hiks.. hiks.. aku sangat mencintainya oneesan..” Michi
membalas pelukan Yuuri dengan erat.
Michi tidak habis
pikir, apakah ada cobaan yang akan menimpanya lagi nanti? Kenapa Tuhan belum
puas menguji dirinya? Sekarang ini, dia tidak peduli dengan kesehatannya. Dia
meyakinkan dirinya bahwa dialah yang akan membantu malaikat pelindungnya itu
sembuh. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya, dia pasti akan rela. Asal Yabu
bahagia, dia akan mengorbankan semua yang dimilikinya.
.
.
TBC
hehehe TBC dulu ya ^-^, comment please ^-^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar