Myujikku

Kamis, 24 Juli 2014

FanFiction (3 Times Chii cry because Yamada + 1 time They cry together)




Tittle     :  3 times Chinen cry because Yamada and 1 time they cry togeter
Genre   :  romance, angst
Rating   :  PG 15
Author  :  ME!!

1.
“hm.... yummy >///<” pipi gembul nan montok bagaikan pantat bayi(?) itu bergerak perlahan dikarenakan pemiliknya sedang menikmati sekardus buah stroberi pemberian ibunya. “Ah..Chii!!” teriaknya, setelah melihat malaikat kecilnya.
Chii-pun menoleh kearahnya “nande?”
Yamada segera berlari kearah Chii dan menyodorkan beberapa stroberi berharganya. “Apa kau mau stroberi? Okaasan baru saja membelikanku sekardus besar, ini untuk___”
“Maaf Yamachan. Aku sudah bosan dengan stroberi. Tadi Daican sudah membelikanku stroberi dan beberapa permen.” Jawab Chii sambil mengeluarkan beberapa lolipop dari sakunya.
‘lagi lagi Daichan’ umpat Yamada dalam hati. “Kau bisa memakan stroberi ini nantikan.”
“Tapi aku sudah benar-benar bosan Yamachan. Sekarang ini aku lebih suka permen daripada stroberi.”
‘itu artinya kau lebih suka Daichan daripada aku Chii’ raut wajah Yamada berubah suram “Jadi kau lebih suka Daichan?”
“Eh!”
“Jawab Chii! Kau lebih suka Daichan daripada aku?” sahut Yamada dengan nada yang sedikit ditinggikan.
Chii mulai panik, takut jika orang yang dicintainya-diam-diam akan membencinya hanya karena hal sepele “Bu..bukan_”
“Baiklah! Makan saja pemberian Daichan itu! Silahkan makan permen itu! Jangan pernah merengek minta stroberi lagi kepadaku, karena aku tidak akan pernah memberikan satupun stroberiku kepadamu! Jangan pernah datang lagi kepangkuanku! Lakukan semua itu dengan Daichan!” Yamada membanting stroberi yang tadinya akan diberikan kepada Chinen didepan Chinen dan pergi begitu saja.
Chinen yang masih kaget dengan perkataan Yamada hanya bisa berdiri memaku melihat stroberi yang berserakan didepannya. Cairan bening mulai turun dari mata ke pipinya. “hiks.. aku ti.. hiks.. tidak bermaiksud begitu..” Chinen menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya kedalam kedua lengannya. “Bukan.. kau salah.. hiks.. bukan Daichan.. tapi kau. Kau yang aku suka Ryosuke.. hiks”

2.
Ditengah latihan, tidak sengaja Yamada menabrak Chinen dan  membuatnya terjatuh dengan keras. Melihat itu, Yamada segera menghampirinya, namun terlambat. Daiki sudah dulu ada jongkok disamping Chinen dengan khawatirnya.
“Chii, Daijoubu? Oi Yamachan! Kau harus minta maaf pada Chinen!” teriak Daiki sedikit kesal.
Melihat kejadian itu, membuatnya mengingat kejadian 2 hari yang lalu ketika Chinen mengatakan lebih suka permen pemberian Daiki daripada stroberinya, membuatnya semakin kesal. “Salah siapa dekat-dekat denganku!” Yamada membalikkan badannya, ketika dia hendak melangkahkan kakinya pergi, dia mendengar isakan Chinen.
“hiks.. sakit.. hiks” Chinen menangis sambil memegangi pergelangan kakinya.
Yamada menghembuskan nafas berat dan berbalik ke arah Chinen. “Dasar cengeng!” dan segera meninggalkan ruangan.
“Yamachan! Oi Yamachan!” teriak Yabu.
Bukan sakit pada pergelangan kaki yang menyebabkan Chinen terisak, namun justru hatinya yang sakit ketika orang yang benar-benar ia suka, bukan.. lebih dari suka. Ya,, orang yang dia cinta membencinya.

3.
Dengan kaki yang berbalut gips dan berjalan tertatih, Chinen menyusuri koridor seorang diri sambil membawa tas berat yang berisikan perlengkapan-perlengkapan miliknya. Tanpa sengaja, ada salah satu junior yang menabraknya dan membuat Chinen dan tasnya jatuh, namun namanya juga junior (anak-anak ingusan ._.), dia langsung pergi begitusaja (ceritanya lagi maen kejar2an).
Chinen bersusah payah berjongkok untuk mengambil tasnya, namun dia melihat ada tangan seseorang yang membantu mengambil tasnya, Chinen mendongakkan kepalanya
“Ya... Ya..”
Orang itu segera memberikan tas kepada Chinen dan beranjak pergi, belum sebelum Chinen mencegahnya.
“Kau.. kau salah paham.. tolong dengarkan aku.”
Orang itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Chinen. “Sudahlah.. “ dia mengambil nafas berat dan menghembuskannya. “Aku__”
“Oeeyy Chiii!! Aku sudah mencarimu kesana kemari.” Daiki menghampiri Chinen dengan membawa beberapa permen favoritnya. “Ini! Permen ini pasti bisa menghiburmu. Kau ini sudah hampir seminggu wajahmu tidak berbentuk (-__-   ). Sebenarnya ada apa? kalau ada masalah ceritalah padaku! Aku pasti akan membantu. Jangan diam saja dan jarang makan. Nanti kau bisa sakit!”
Mendengar penjelasan Daiki, Yamada menoleh kearah Chinen. “Kau...”
“Eh.. Yamachan! Oh gomen, aku tidak menyadari keberadaanmu. Kau mau minta maaf sama Chii ya?! Bagus deh.. oiya habis ini aku mau pergi sama Chii makan siang, kau mau ikut?”
Yamada mengalihan pandangannya ke arah Daiki dan kembali ke arah Chinen sambil tersenyum getir. “Gomen, aku mengganggu acaramu dengan Daichan.” Dan pergi begitu saja.
Chinen berusaha mengejar Yamada namun karena kakinya sakit, dia hanya bisa berteriak memanggil nama orang yang dikasihinya itu. “Yamachaan! Yamachaaaann!” ‘kau salah paham.. aku mohon jangan lagi’... Chinen mulai menitikkan air matanya melihat kepergian Yamada.
Daiki hanya melihat Chinen dengan kebingungan. “Chii, ada apa? Kau kenapa?”
“Daichan.. aku mohon jelaskan pada Yamachan semua ini hanya salah paham.”
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud Chii!”
“Aku... aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai Yamachan. Dia mengira bahwa.. kita.. bahwa kita..”
Daiki mengerti apa yang akan dikatakan Chinen. Dia segera berlari menyusul Yamada-yang –menuju-atap.
“Yamachan!!”
Yamada menoleh ke arah sumber suara dan tiba2 pemilik suara itu memukulnya dengan keras.
“Apa-apaan kau Daichan?!!”
“Kau yang apa-apaan!”
“Apa maksudmu?!” Yamada mencengkram kerah baju yang dipakai Daiki.
Daiki melepas cengkraman Yamada. “Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada Chinen?”
“Huh?”
“Kau.. sudah hampir seminggu ini kalian berjauhankan?  Bukan.. lebih tepatnya kau menjauhi Chinen. Apa kau sadar sudah berapakali kau membuatnya menangis?” bentak Daiki.
Yamada hanya bisa terdiam mendengar apa yang sahabatnya katakan. “Aku melakukannya untukmu! Buat apa juga dia menangis kalau__”
Belum sempat Yamada menyelesaikan kalimanya, Daiki melayangkan pukulannya yang kedua sehingga membuat sudut bibir Yamada terlihat berdarah. “Dia menyukaimu!! Dia benar-benar menyukaimu! Apa kau tak bisa melihatnya bodoh!!”
“Ap..apa?”
“Sekali lagi kau membuatnya menangis, aku benar-benar akan memukulmu sampai mati” Daiki segera pergi meninggalkan Yamada yang hanya bisa terdiam .

+1
Chinen melihat beberapa kenangannya bersama Yamada, yah.. Chinen mempunyai sebuah album foto khusus untuknya dan Yamada. ‘Kalau dia membenciku, apa gunanya aku menyimpan semua ini..’ Chinen menghembuskan nafas berat untuk kesekian kalinya. Chinen berdiri dari tempatnya ‘eh,, kakiku’ dia tersenyum simpul dan berjalan seperti biasanya ke atap. Dia berencana ingin membuang album itu di atap.
Sesampainya di atap, Chinen menuju bak sampah (itu loo yg biasanya buat bakar sesuatu ._.). dia melemparkan album kesayangannya kedalamnya dan menyalakan korek api.
“Apa yang kau lakukan?”
Chinen menoleh dengan cepat. “Yamachan?!”
“Apa yang akan kau bakar?” Yamada menoleh ke dalam bak sampah. “ Itu..”
“Kupikir itu sudah tidak ada gunanya.”
“Chii..” lirih Yamada. “Gomen. Gomennee.. aku mengaku salah Chii.”
Tanpa sadar Chinen meneteskan air matanya. Belum sempat Chinen menjawab, dia mendengar sebuah isakan kecil.
“Hiks.. gomen. Aku hanya.. ingin kau menomor satukan aku. Maaf kalau aku terlalu egois”
“Yamachan..” Chinen berdiri tepat di depan Yamada dan memegang tangannya. “Ku kira kau akan membenciku.. kukira kau benar2 akan membenciku... hiks.. aku tidak mau Yamachan membenciku.. hiks..”
Yamada memeluk Chinen erat sambil terus meneteskan air mata. “Itu hanya keegoisanku Chii. Aku tidak mungkin bisa membencimu. Maaf telah membuatmu menangis. Aku janji tidak akan melaukannya lagi. Aku benar2 menyayangimu.”
Entah kenapa, tangis Chinen terdengar semakin keras. “Kau kenapa? Apa aku salah lagi? Kenapa menangis lebih kencang?” tanya Yamada yang kebingungan.
“Aku juga benar2 menyayangi Yamachan. Bukan.. lebih dari itu. Aku benar2 mencintai Yamachan.”
Mendengar hal itu, Yamada memeluk Chinen lebih erat.

OMAKE
Beberapa hari kemudian...
“Chiiii~~~~ “ Daiki mencari Chinen sambil membawa beberapa permen lolipop kesukaan Chinen. “Kau dimana Chii??” Dia mencari Chinen dibalik pintu, dibawah meja, didalam rice cooker (-__- saking mungilnya Chinen). “Ah! Attaa!!” Daichan berlari ke arah balkon dan mendapati Chinen dan Yamada sedang berduaan di sana. “Eh.. Yamachan?”
“Ada apa Daichan?” tanya Chinen.
“Tada!!! Aku membelikanmu permen favoritmu lagiii!!! Ali ini rasa stroberi. Kau pasti suka!”
Chinen melihat ke arah permen yang dibawa Daiki lalu mengalihkan andangannya ke arah Yamada yang sedang tersenyum simpul ke arahnya. “Gomenne Daichan. Tapi aku sudah punya permen.”
“Eh?”
“Permenku yang ini lebih enak daripada yang kau bawa itu!”
“Benarkah? Boleh aku mencobanya?” terlihat mata Daiki yahng berbinar2.
“DAME!! Permen yang satu ini hanya untukku. Untukku seorang. Tidak ada orang lain yang boleh mencicipinya ataupun membelinya.”
“Mana coba permenmu?”
Chinen tersenyum dan menunjuk ke arah Yamada. “Itu!”
“Eh?” kata Daiki dan Yamada bersamaan.
“Aku akan memakannya nanti malam.” Chinen tersenyum penuh arti dan meninggalkan AriYama yang kebingungan.
OWARI desuuuuu~~

Jumat, 04 Juli 2014

Fanfiction "NO REGRET LIFE" (2/?)


Tittle              : No Regret Life (2/... .)
Author            : Hikari Natsumi (aku ndiri)
Categories      : Multichapter
Rating             : PG 15 (nggak tau kaya’ beginian, tinggal tulis aja XD)
Genre              : Romance, Mystery, Angst, AU, Fluffy (nggak menjamin).
Cast                : Kota Yabu (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Akayama Raikha (Rainukha Inoo), Hikari Natsumi (author ikut nampang), Ryutaro Morimoto (Hey! Say! JUMP) OC OC lainnya J
 Disclamer      : Kota Yabu, Kei Inoo, Ryutaro Morimoto milik Tuhan, bapaknya, emaknya, dan eyang Jojon. Setengah dari Kei punya Author (‘.’) *dibakar masa*, Akayama Raikha milik Tuhan, emak dan bapaknya. Hikari Natsumi milik Tuhan, emak dan bapaknya. OC OC juga milik Tuhan.
Synopsis         : datangnya sesuatu tak terduga yang membuat hidup pria bernama Kota Yabu ini menjadi lebih rumit. Kebingungan karena harus memilih adiknya (satu-satunya keluarga yang dimiliki) atau kekasihnya untuk ditinggalkan.

            PART 2!!!! Tetap aku ingatkan! WARNING 1 !! TYPO, kata-kata ancur, alur nggak jelas, cerita nggak merasuk di hati, penghayatan yang menyedihkan (ancur maksudnya),,, WARNING 2 kejang-kejang saat membaca karya awal yang masih berantakan. Hai.. douzoooo !! selamat membaca ^^

Tanggal 01 MEI
            “Kouchan!!”
            “Raichan?” bisik pemuda jangkung yang terbangun dari tidurnya.
            “Kouchan! Tasukete!”
            Pemuda itu membuka matanya dan melihat ke segala arah, dia bangkit dari tumpukan dedaunan kering yang sedaritadi ditidurinya. ‘Dimana ini?’ pikirnya.
“Kouchan?!”
Merasa seperti mendengar suara, pemuda itu langsung mencari darimana suara tersebut berasal. “Raichan?”
            “Kouchan!! Onegai! Tasukete! Tasukete kudasai!”
            “Raichan?!!” dia berlari kesegala arah, dan kembali memudarkan pandangannya. Namun, sejauh mata memandang yang dia lihat hanyalah pohon-pohon sakura yang lebat. Yabu kembali berlari dan meneriakkan sebuah nama. Dia berhenti di depan pintu yang tampak menyinarkan cahaya di sela-selanya. “Raichan?” Yabu membuka pintu itu dengan perlahan dan melihat tiga orang yang sama-sama memakai pakaian putih dan bercahaya. “Raichan?! Kemarilah!”
            “Kou..” muncul raut ketakutan dari sang pemilik suara. Matanya terlihat sembab, terlihat jelas terdapat bendungan kecil air mata di sana yang membuat mata gadis itu menjadi lebih indah, namun tidak untuk pria yang sekarang berdiri di depannya. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya sedikit terguncang karena isakan kecil yang dia keluarkan. Sedikit demi sedikit buliran air mata yang bening mulai turun ke pipinya.
            “Raichan?!” Yabu melangkahkan kakinya, mendekat dan mendekat. Namun,  ada kilatan cahaya yang tiba-tiba saja membuatnya terpental ke tanah. Buugghh!! “Arrgghh!”
            “Kou-nii..”
            Yabu mencengkram lengannya yang terasa sangat sakit, dan mendongakkan kepalanya. “Hikka?!”
            Hikari tersenyum dan melemparkan sebuah kalung ke arah Yabu. “Aku mau pinjam neechanku dulu ya!” Hikari mengenggam erat tangan Raikha dan orang yang ada di sebelah kirinya. “Niichan,, ikou!”
            Lelaki yang dimaksud Hikari mengembangkan senyumnya ke arah suara yang memanggilnya ‘niichan’ itu. Senyumnya mengatakan seperti apa yang dia inginkan, akan segera didapatkannya.
            “Sayonara!” ucap Raikha yang dalam sekejap telang hilang bersama Hikari dan Ryosuke.
            “Raichan! Raichaann!!! RAICHAAAANN!!!!!”
#Yabu POV
            “RAICHAAAANN!!!!!” aku bangkit dari tempat tidurku dengan nafas yang berat. ‘hanya mimpi!’ batinku. Tubuhku penuh dengan keringat, sampai baju dan rambutku terasa basah. Badanku terasa sakit semua. Kupegang kepalaku yang terasa pening. Apakah karena kelelahan? Aku beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Kumasukkan tubuhku ke dalam bathup yang telah berisi air hangat. Aahhh~!! Nyaman sekali. Kupejamkan mataku untuk merasakan sensasi air panas yang menyelimuti setiap inci dari kulitku. Kutenggelamkan kepalaku, mencoba untuk menghilangkan penat dalam pikiranku. Dan...... “Raichan?!!!” aku menyembulkan kepalaku dari air dan mengusap wajahku berkali-kali. Aku melihat wajah gadis yang kucintai di dalam bathup? “Aku benar-benar sudah gila!”.....................
            Kurapikan tempat tidurku yang terlihat sangat berantakan. “Apa yang terjadi padamu tadi malam Kou?” tanyaku pada diri sendiri. “Itai!! Sakiitt!!” tiba-tiba saja aku merasakan ada yang menusuk kakiku, kulihat ke bawah dan... “I..i..itu! kalung itu!”
#Author POV
            Yabu mengulurkan tangannya untuk mengambil benda yang melukai kakinya tadi. Tangannya bergetar dan pikirannya berkecamuk. ‘Hikka? Ini kalung yang diberikan Hikari dalam mimpiku. Tapi mana mungkin?’
Trust! Believe! My Future!
Trust in my way
Don't looking back
Reading the wind
Never give up
Taiyou wo tsukamu you ni
Kakageta kono te de
            Yabu tersadar dari lamunannya dan segera meraih ponsel yang ditaruhnya di atas meja tadi malam. “Moshi moshi”
            “KOTA YABU!!! Sampai kapan kau akan mengingkari janjimu??!!” teriak orang yang menelfon tadi.
            Yabu sedikit membuat jarak antara telinga dan telfonnya untuk menghindari rusaknya gendang telinga “Ma..maksudmu?”
            “Sebenarnya ada apa denganmu? Kau itu sudah seperti orang yang sedang dihantui saja!”
            “Aku memang sedang dihantui, Inoo.” Ucap Yabu dengan nada pelan yang seharusnya tidak dapat didengar oleh temannya.
            “HA? APA? Kau apa tadi? Dihantui?”
            “Eh, betsuni! Aku akan ke sana sekarang!” Yabu mematikan ponselnya dan segera merapikan tempat tidurnya lagi.
<<<<<........................................................................................>>>>>
            Seorang gadis berhenti tepat di depan sebuah kursi taman. “Inoo?!” ucap gadis itu kepada pria yang sedang menikmati buble teanya.
            Merasa namanya dipanggil, Kei mendongakkan kepalanya dan meninggalkan permainan ‘NOVA’ yang sedaritadi dimainkannya. “Raichan?! Kenapa kau ada di sini? Ah.. apa kau mau membeli beberapa snack di toko seberang sana?” terka Kei.
            Gadis itu memiringkan kepalanya. “Katanya kau mau menjaga Hikkachan di rumah sakit, lalu apa yang kau lakukan di sini?”
            Lelaki yang diajak bicara itupun ikut memiringkan kepalanya. “Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Tadi kau bilang, kau sedang di rumah sakit, makanya aku ke sini untuk bertemu dengan Yabu.”
            “Apa maksud_”
            “HEI, KALIAN !!!”
            Mereka berdua mennoleh ke arah yang sama, terlihat Yabu yang sedang berlari ke arah mereka. “Gomen Inoo, aku telat!” pria jangkung itu berusaha mengatur nafasnya yang berat setelah berlari cukup jauh. “Raichan?!”
            “Kou? Kenapa kau berlari seperti itu?” Raikha menghampiri Yabu dan memberikan sebotol air putih. “Ini, minumlah!”
            “Arigatou” setelah selesai minum, Yabu menyeka keringat di dahinya. “Huh, melelahkan sekali! Tadi, saat aku berangkat ke sini, tiba-tiba mobilku berhenti dengan sendirinya.”
            “Mogo’?”
            “Bukan. Entahlah aku tidak tau. Mesinnya baik-baik saja dan bensinnya juga masih penuh. Tidak ada kesalahan sama sekali. Dan daripada  aku kena omelanmu, aku meninggalkan mobilku dan berlari ke sini. Ngomong-ngomong, kalau kalian berdua di sini, siapa yang menjaga Hikari?” Yabu duduk di samping Kei sambil menyeka keringat di lehernya.
            “Dia!” jawab Kei dan Raikha bersamaan. Kei menunjuk tepat di depan wajah Raikha, dan Raikha menunjuk tepat di depan hidung Kei. Hal itu cukup untuk membuat Yabu mengernyitkan dahinya.
            “Kenapa aku? Kau yang mengatakan akan menjaga Hikari!”
            “Tapi kau menelfonku dan mengatakan kalau kau sudah ada di rumah sakit!” sahut Kei tidak mau kalah.
            “Apa maksudmu? Aku tidak menelfonmu.” Kata Raikha sedikit emosi. “Kau yang berkata seperti itu kepadaku.”
            “Kapan aku mengatakannya?”
            “Kau memang tidak mengatakannya, tapi kau mengirimiku email!”
            “Aku tidak pernah mengirimimu email!_”
            “AAAAA YAMETE!!!!” teriak Yabu yang menerlentangkan tangannya ke arah Raikha dan Kei. “Apa maksud kalian? Kalau kalian tidak melakukannya lalu siapa?”
            “Aku yang melakukannya
            “Iya. Aku tau kau, tapi kau siapa?” tanya Yabu lagi.
            Kei dan Raichan berpandangan sejenak. “Dia bicara dengan siapa?” gumam mereka bersamaan.
            “Kenapa kalian diam?” kata Yabu setengah berteriak.
            “Kau bicara pada siapa Kou?”
            ‘Hah? Lalu tadi yang bicara siapa?’ batin Yabu.
            “Kenapa wajahmu tegang? Hei, kau kenapa?” tanya Kei yang masih memegangi buble tea-nya.
            Perlahan, tubuh Yabu menengok ke belakang. ‘Apa jangan-jangan...’ mata Yabu membulat sempurna saat mendapati Ryosuke yang tersenyum manis ke arahnya dan dengan cepatnya, sosok itu menghilang. Yabu segera berlari ke tempat dimana dia melihat Ryosuke dan terus mencari sosok itu disekelilingnya. Kei dan Raikha hanya saling menatap dalam kebingungan atas tingkah laku Yabu. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke tempat Raikha dan Kei berdiri.
            “Cepat kembali ke rumah sakit! Ada sesuatu yang harus kulakukan.” Jelasnya dengan raut wajah khawatir.
            “Kou... kau kenapa?” Raichan menghampiri kekasihnya dan menggenggam erat tangannya. Dia menyadari ada hal yang tak beres.
             “Tenanglah! Semuanya akan berakhir dengan segera Raichan. Aku berjanji!” ucap Yabu sambil tersenyum, dia tidak ingin membuat Raikha khawatir. Kemudian, dia mendaratkan kecupan lembut di kening kekasihnya dan pergi ke tempat mobilnya diparkir. Kei yang melihat kepergian Yabu merasa ada sesuatu yang besar yang akan menimpa kekasihnya yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit, langsung menarik tangan Raikha dan berlari bersama menuju rumah sakit.
            “Kenapa? Ada apa?” tanya Raikha yang sesekali menatap ke arah Kei dan jalanan tempat mereka berlari. Kei mengacuhkan pertanyaan Raikha dan lebih fokus untuk mempercepat langkah kakinya menuju rumah sakit.
Sementara itu, lelaki yang tadi mendapat bisikan ghoib dari si bontot terus berlari menuju tempat mobilnya tadi. ‘Apa jangan-jangan...’ . pikirannya berkecamuk, takut, sedih, bingung, khawatir, itulah yang ia rasakan. Setelah kurang lebih setengah jalan berlari, Yabu melihat mobilnya yang masih bertengger manis di tepi jalanan yang sepi. Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Setelah dirasa cukup, dia berlari kecil menuju mobilnya. Lama dia berlari, namun dia tidak kunjung sampai ke mobilnya. ‘kenapa jauh sekali, padahal tadi jaraknya dekat!’ keluhnya sampil menyeka peluh yang telah bercucuran dari tadi. Dia melanjutkan larinya, kali ini dia melangkahkan kakinya dengan cepat, namun setelah beberapa menit berlari, dia tetap belum bisa menjangkau mobilnya.
Dia berhenti sejenak karena hampir kehabisan nafas. “KKUUSSOOOOOOO!!!!!” dia berteriak dan terus berlari ke arah mobilnya yang MENURUTNYA masih tediam manis di sana. Beberapa menit kemudian, Yabu tersungkur di jalanan yang sepi tempat mobilnya diparkir dengan nafas terengah-engah, dengan wajah yang kusut pula. ‘Ini pasti kerjaan setan itu!’ ucapnya dalam hati. Yabu berusaha untuk bangkit, namun kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan, dia menyerah. Yabu berusaha untuk duduk sambil memegangi kakinya yang mungkin sudah terserang pegal linu akut.
“SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENYIKSAKU?” teriak Yabu yang sudah mulai habis kesabarannya. Dia tahu, semua ini kerjaan setan yang selalu membuntutinya. Tiba-tiba ‘pak, pak, pak!!’ terdengar suara tepukan tangan yang dirasa mengejeknya.
“Padahal aku hanya bermain dengan cara ringan. Tapi, kenapa kau langsung menyerah begitu saja? Kau begitu lemah! Jika kau lemah seperti ini, bagaimana kau bisa melindungi Raichan? Tsk tsk tsk adikku benar-benar memilih orang yang salah!”
Yabu kenal, siapa pemilik suara itu. Dia menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya untuk menatap tajam pria yang mempunyai wajah malaikat itu, “Sampai kapan kau akan mengerjaiku seperti ini?” nafasnya terdengar sangat berat karena ulah Ryosuke.
            Ryosuke tersenyum, manis sekali. Tapi bagi Yabu, itu adalah senyum yang paling licik yang pernah ia lihat. “So weak!” dia mengangkat tangan kanannya dan diarahkan pada Yabu. Seketika keluar cahaya putih kekuningan dari tangan itu yang mengarah ke tubuh Yabu. Karena cahaya itu terlalu silau, Yabu mengangkat lengannya untuk menutupi matanya. Beberapa saat kemudian, Ryosuke menurunkan tangannya dan cahaya itupun menghilang.
Yabu menurunkan lengannya, langsung berdiri dan mundur beberapa langkah “Apa yang kau lakukan?!”
Ryosuke melipat kedua tangannya di depan dada dan duduk pada kursi tranparan yang ia buat dengan cepat sehingga tubuhnya terlihat seperti melayang di udara. “Apa kau merasakannya?” tanya Ryosuke enteng.
Yabu merasakan tubuhnya kembali bugar, nafasnya teratur, dan rasa sakit di kakinya telah menghilang begitu saja. “K..Kau.. benar-benar jin!!”
Tidak merasa tersinggung, orang yang berada di depan Yabu malah tertawa kecil, “Aku tau.. aku ini mirip Jin Akanishi! Ekspresimu jangan berlebihan seperti itu! Kau membuatku malu saja..”
(-.- )( -.-) “SIAPA YANG BERKATA SEPERTI ITU????” teriak Yabu frustasi. ‘dasar setan aneh!’ ejeknya dalam hati.
Ryosuke pura-pura menutup telinganya. “Suaramu cempreng amat! Kau tuli? Akukan baru saja mengatakannya bodoh!” Ryosuke menghilang secara tiba-tiba meninggalkan Yabu yang masih duduk di tengah jalanan yang sepi itu.
‘Kemana lagi setan itu’ pikir Yabu. Dia berjalan menuju mobilnya. Kali ini dia tidak merasa keanehan lagi. Yah.. dia berhasil mencapai mobilnya. Yabu segera mengeluarkan kunci dari saku kirinya dan segera memasuki mobil. Sialnya, ketika Yabu baru saja menaruh beban tubuhnya, sosok itu kembali muncul.
“Mobilmu jelek ya! Beli yang agak bagusan kek!”
Yabu sedikit terperanjat ketika melihat tiba-tiba ada kepala yang muncul di sampingnya dan si pemilik kepala itu kembali duduk di kursi belakang. “Tutup saja mulutmu itu!” kini ia menoleh ke belakang, “Bisakah kau sedikit lebih sopan?”
Ryosuke mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan memencet hidung Yabu, “Eits, ingat aku niichanmu. Seharusnya kau yang sopan padaku, bukannya berkata kasar begitu!” tangannya melepaskan hidung Yabu dan membetulkan duduknya.
“Tapi kelakuanmu itu selalu membuatku jantungan, apa kau tau?!” Yabu kembali menghadap depan dan segera melajukan mobilnya.
“Yang penting kau masih hidup.” Ucap Ryosuke enteng.
Yabu melirik ke belakang melalui kaca yang ada di bagian depan mobil untuk melirik Ryosuke. ‘sebenarnya dia setan seperti apa sih, kenapa ada setan yang masih memperhatikan kuku seperti itu’ terlihat olehnya Ryosuke sedang merapikan kuku-kukunya. Yabu kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
....................................
Gomen.. sementara segini dulu ya (‘.’)

Fanfiction "No Regret Life" (1/?)


 
Tittle              : No Regret Life (1/...)
Author            : Hikari Natsumi (aku ndiri)
Categories      : Multichapter
Rating             : PG 15 (nggak tau kaya’ beginian, tinggal tulis aja XD)
Genre              : Romance, Mystery, Angst, AU, Fluffy (nggak menjamin).
Cast                : Kota Yabu (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Akayama Raikha (Rainukha Inoo), Hikari Natsumi (author ikut nampang), Ryutaro Morimoto (Hey! Say! JUMP) OC OC lainnya J
Disclamer       : Kota Yabu, Kei Inoo, Ryutaro Morimoto milik Tuhan, bapaknya, emaknya, dan eyang Jojon. Setengah dari Kei punya Author (‘.’) *dibakar masa*, Akayama Raikha milik Tuhan, emak dan bapaknya. Hikari Natsumi milik Tuhan, emak dan bapaknya. OC OC juga milik Tuhan.
Synopsis         : datangnya sesuatu tak terduga yang membuat hidup pria bernama Kota Yabu ini menjadi lebih rumit. Kebingungan karena harus memilih adiknya (satu-satunya keluarga yang dimiliki) atau kekasihnya untuk ditinggalkan.

            Perasaan lama banget aku buat FF ini =_=.. WARNING 1 !! TYPO, kata-kata ancur, alur nggak jelas, cerita nggak merasuk di hati, penghayatan yang menyedihkan (ancur maksudnya),,, WARNING 2 kejang-kejang saat membaca karya awal yang masih berantakan. Nah berikut ceritanya, cekibroott (read : check it out) Selamat membaca ^^

            Semua hal yang kumiliki sekarang ini sudah cukup bagiku. Harta, kasih sayang, dan cinta. Namun, ‘dia’ merenggut semuanya. Entah sejak kapan ‘dia’ mengincarku, dan entah kenapa ‘dia’ menginginkanku.  Aku ingin pergi darinya. Sangat ingin. Tapi apakah itu mungkin? Dan sampai suatu hari, seseorang datang kepadaku dan memintaku untuk bertemu dengan’nya’ secara damai. Orang itu, menginginkan aku bertemu dengan ‘kematian’.... .
#Author POV
            Kei berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Dia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya seperti ini. Kei tertunduk lesu meraih dan membenamkan wajahnya di lengannya, membekap tubuhnya yang terguncang hebat.
“Hiks..Kamisama.. ini tidak adil. Hiks.. hiks.. beri dia kesempatan. Onegaishimasu.” Kei memohon dalam tangis yang sia-sia. Yah.. semuanya tak akan berubah. Hanya keajaiban yang bisa mengendalikannya.
“Inoochan !!” panggil seseorang dari kejauhan yang lalu mendekat. Pandangannya nanar saat melihat Kei.
“Rai.. hiks.. Raichan.. apakah Tuhan tuli? Apakah dia tidak mendengar apa yang kuucapkan? Hiks.” Tanya Kei dalam tangis.
“Inoochan,, ku mohon jangan seperti ini!” jawab Raikha lirih.
“Rai.. apa dia berbuat kesalahan besar? Apakah Tuhan tidak bisa memaafkannya? KENAPA TUHAN TIDAK MENDENGARKU RAICHAN !!” bentak Kei. “JAWAB AKU Raichan.. aku mohon jawab aku.. hiks.. kenapa harus dia Raichan..”
Turun sebulir air dari pelupuk mata Raikha, dia tidak sanggup melihat orang yang sudah ia anggap seperti adiknya, menjadi seperti ini. “Inoochan,, Tuhan pasti mendengar.. pasti. Yah.. pasti ada keajaiban untuk Hikari. Pasti ada Inoochan” Kei pun larut dalam pelukan hangat Raikha.
*Esok harinya
            “Hai, moshi moshi.. Yabu” jawab Kei setelah mengangkat keitainya yang berdering.
            “Inoo, apa kau ada jadwal kosong hari ini? Ada yang perlu kubicarakan denganmu.” Kata pria jangkung yang menelfon Kei.
            “Sepertinya ada. Tapi, mungkin agak siangan. Aku mau menemani Hikari di rumah sakit pagi ini.”
            “Ah~! Baiklah. Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu, segera hubungi aku ya, jyaa na” ucap Kota sebelum memutuskan sambungan keitainya.

*Di rumah sakit
            ‘Aku tidak sabar bertemu dengannya’ senyum mengembang di sudut bibir indah Kei. Dia memegang sebuah buket bunga mawar biru yang sangat indah. Langkahnya terlihat sangat bahagia di sepanjang joridor rumah sakit. Dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Dia melihat seseorang berada di ruangan yang ditempati oleh kekasihnya.
            ‘Yabu...?’ tanyanya dalam hati.
            “INOOCHAN.. ohayou~~”..
“HUUAAAAAAA~~!!!” teriak Kei dengan kencangnya.
Raikha segera membekap mulutnya. “ssssttt... ini di rumah sakit Inoochan. Kenapa harus berteriak begitu!!!”
“A, bikkurishita, jantungku hampir cipoooott”
“copot kaliiii” raikha terkekeh geli. “Eh Kouchan ?” Raikha mengalihkan pandangannya ke arah Kota yang duduk di samping Hikari dan mendekatinya.
“Raichan.. ohayou” jawabnya sambil melemparkan senyum termanis kepada kekasihnya itu.
“Yabu, kenapa kau di sini?” tanya Kei dengan nada sedikit curiga.
“Oh.. ohayou Inoochan. Bukannya kau yang menyuruhku ke sini?! Aku mencarimu daritadi?” tanya Kota.
#FLASHBACK (Kota POV)
            “Moshi moshi Inoo, ada  apa?” tanyaku padanya.
            “Kota datanglah ke rumah sakit segera. Cepat, cepat Kou CEPAT!!” ada apa dengan Inoo? Kenapa dia memanggilku ‘Kota’, dan kenapa dia menyuruhku ke Rumah sakit?
            “Memangnya ada apa Inoo, kau baru saja menelfonku dan sekarang kenapa kau menjadi panik seperti ini?”
            “Kou cepat ke sini. Tolong Hikari Kota,, tolong Hikari, aku mohon tolong Hikari!!!” nada bicaranya semakin tinggi. Dan aku mulai khawatir. Ada apa sebenarnya?
            Aku segera melajukan mobilku menuju rumah sakit. Dan ketika aku sampai di depan ruangan Hikari, aku melihat seseorang. Pakaiannya rapih, sangat rapih. Entah kenapa aku seperti melihat cahaya yang mengelilinginya. Apakah dia,, oh tidak mungkin. Aku langsung masuk ke dalam ruangan Hikari dan...... . .
            ‘Di..dia.. kemana orang tadi?’ tanyaku dalam hati. Yah.. orang itu menghilang. Ada apa ini? Mana Inoo?
            “Hikari daijoubu desuka?” tanyaku padanya, walaupun aku tau dia tidak akan bisa menjawab pertanyaanku. Aku segera memeriksa keadaanya, terutama nadinya. Aku letakkan ibu jariku di bagian pergelangan tangannya.
            ‘Ada apa ini? Mana denyutannya?’ jantungku berdebar kencang seperti saat yuto memukul drumnya. Aku memberanikan diriku untuk menatap elektrokardiogram. Dan.. tidak mungkin.. alat itu menunjukkan jantungnya normal. Langsung kupencet tombol darurat, dan tidak lama setelah itu, dokter datang dan segera memeriksa Hikari.
            “Dia tidak apa-apa. Tidak ada kesalahan sedikitpun.” Jelas dokter Ryuu. (jiaahh Ryuu jadi dokter XD)
            “Tap.. tapi dok, tadi.. denyut nadinya tidak ada!” jawabku masih panik.
            Dokter Ryuu segera memeriksa denyut nadi Hikari. “Ini masih ada. Mungkin kau saja yang terlalu khawatir. Coba kau pegang!”
            Aku segera memegang pergelangan tangan Hikari.. dan.. ‘Ada apa ini? Denyut nadinya normal!!!’ pikirku.
            “Benarkan?! Ya sudah saya kembali dulu.” Dokter Ryuu keluar dari ruangan Hikari.
#FLASHBACK END
            Inoo mengernyitkan dahinya. “Kapan aku menyuruhmu ke sini Yabu?”
            ‘APA!!! Lalu siapa yang menelfon tadi? Tapi.. suaranya benar benar suara Inoo. Apa ini ada hubungannya dengan pria tadi?’ “Ah ya.. Raichan kau menginap di sini tadi malam kan?” aku mngalihkan pembicaraan ini.
            “Un.. nande?” aku menangkap mimik khawatir di wajah Inoo dan Raikha.
            “Uhm.. nandemonai” aku tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Oiya, Inoo nanti jangan lupa ya... aku tunggu di restoran Death Bell 4 jam lagi.”
            “DEATH BELL??????!!!” katanya hampir berteriak.
            “Nande?”
            “Kowaiiii yooo pindah restoran saja. Kenapa harus restoran itu sih. Dari dulu aku selalu ngerasa aneh kalo’ ngunjungin tempat itu, tau!!” Inoo memasang ekspresi takutnya, rasanya aku ingin tertawa sekerasnya.
            “PE-NA-KUT! Pokoknya harus datang. PENTING!” aku tidak peduli bagaimana dia merespon, aku langsung melangkahkan kakiku keluar ruangan Hikari dan segera menuju tempat parkir. Beberapa menit kemudian, aku sampai di tempat parkir dan langsung menuju mobil. Entah kenapa perasaanku memburuk. Pikiranku tentang lelaki tadi, tidak bisa dimusnahkan. Siapa dia sebenarnya? Apa yang dilakukannya pada Hikari?
            Aku merogoh kunci mobil dari sakuku, dan saat aku membuka pintu mobilku.. aku merasa ada seseorang yang mengintaiku. Aku beranikan diri untuk menoleh kebelakang. ‘Tidak ada siapa-siapa, aahhh aku memang terlalu parno’ pikirku. Akupun segera masuk ke dalam mobilku. Sesaat setelah menyalakan gasnya. ‘BUGHH’ ada yang menghantam bagian belakang mobilku dengan sesuatu, dan hal itu sukses membuatku menoleh dengan cepat. “HEI!!” ‘DEG! DEG!’ aku pejamkan mataku berulang kali untuk memastikan yang kulihat hanyalah halusinasi. Dan bukan! Di sana! Tepat di belakang mobilku, aku melihat seorang pria memakai baju serba putih duduk membelakangiku. Aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil untuk menemui orang tadi. Setelah aku keluar dari mobilku dan melihat ke belakang mobiku, aku tidak melihat seorangpun di sana. Yang kulihat hanyalah secarik kertas yang bertuliskan “Yoroshiku yabu-kun”. Apa maksudnya? Kuremas kertas tadi dan kubuang ke sembarang tempat. Akupun langsung melajukan mobilku menuju pemakaman. Yah.. aku memang ingin datang ke pemakaman nenekku.
*Di rumah sakit (KEI POV)
            “Ohayou Hikari, o genki desuka? Nee, aku membawakan ini untukmu. Semoga kau menyukainya.” Aku meletakkan boneka tedy bear warna biru kesukaannya. Kupautkan jari-jariku di jemarinya yang terasa dingin dan menggenggamnya erat.
            “maaf sayang, jika waktu itu aku tidak menyuruhmu untuk melakukan hal bodoh itu, kau tidak akan seperti ini. Maaf.. maaf Hikari.” Aku menyeka air mataku yang entah kapan jatuhnya. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya, walaupun aku tau dia tidak akan bisa melihatku. “Sayang.. aku... rindu saat kita yang dulu. Aku rindu kau yang dulu. Kau tau?! Senyumanmu adalah senyuman terindah yang pernah aku lihat selama aku hidup di dunia ini. Aku bersumpah dan tidak berbohong. Aku mohon.. buka matamu sayang. Aku ingin melihat mata indahmu itu. Sangat ingin. Hikari sayang.. janji padaku ya! Kau tidak akan meninggalkanku sendirian.” Kukecup keningnya, pelan namun sangat dalam.

#FlashBack (Author POV)
            Besok adalah hari yang paling indah di kehidupan dua sejoli, Hikari dan Kei. (wewkekekekeke *author ketawa riang*)
            ‘Besok hari anniversaryku dan Kei yang ke 2 tahun. Haaahh,, senangnya’  Hikari duduk di tepi jendela kamarnya dan membayangkan betapa bahagia dirinya dan Kei besok.
            Ketika waktu menunjukkan pukul 00.01, Hikari terbangun dari tidur lelapnya dia mencari banda yang sedari tadi menimbulkan bunyi yang membuatnya terbangun “Moshi moshi Kei.” Hikari  mengangkat telfon dari Kei.
            “Happy 2nd Anniversary Hikari!!!!!” ucap Kei dengan bahagia.
            “Anniversary?” tanya  Hikari bingung.
            “Kau lupa ya! Baka! Hari ini adalah anniversary kita yang ke 2.”
            “Besok Kei, bukan hari ini. Sudahlah aku masih ngantuk. Oyasu_” ucapan Hikari terpotong saat dia mendengar sesuatu dilemparkan ke jendelanya. Hikari membuka jendelanya dan mendapati Kei yang tersenyum ke arahnya dengan membawa buket bunga mawar putih.
            “Happy Anniversary Baby” ucap Kei dengan nada bahagia. “Ayo turunlah! Apa kau mau membiarkan kekasihmu kedinginan di sini?!”
            “Tapi Kei,, ini bukannya masih_”
            “Ini pukul 12 malam lebih satu menit Hikari.” Jelas Kei dengan wajah agak cemberut.
            “haah? Hontou ni?!” Hikari melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Dan mengalihkan pandangannya ke kekasihnya yang telah lama menunggunya di depan rumahnya. “Aku akan turun ke sana. Tunggu sebentar!”
            Beberapa menit kemudian, Hikari turun ke lantai pertama dan menghampiri Kei di depan rumahnya. “Happy Anniversary!” Kei memberikan sebuket bunga mawar putih yang sangat indah.
            Hikari tidak menjawab apa-apa dan langsung memeluk Kei yang dibalas dengan pelukan hangat dari kekasihnya tersebut. “Arigatou Kei. Arigatou!”
            “Ayo jalan-jalan! Mari kita merayakan hari bahagia kita. Yoh!” Kei melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Hikari erat.
            “Kita mau kemana?”
            “Ikuti aku saja!”
            Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan yang sepi dan gelap.
            “K..Kei..Kei!” ucap Hikari lirih.
            “Uhm?”
            “Kita mau kemana Kei? Aku takut..”
            “Kau memang penakut.” Ledek Kei dengan berlari meninggalkan Hikari. “Ayo kejar kalau bisa! Tunjukkan kalau kau bukan seorang penakut!”
            “KEI!!!” Hikari segera berlari ke arah Kei. Dan saat Hikari berhasil mendekati kekasihnya, tiba-tiba Kei berbalik dan menangkap kekasihnya dengan pelukan hangat. “Baka!”
            Kei tersenyum puas setelah mengerjai kekasihnya. “Lihat ke atas sayang!”
            Hikari yang mendengar pinta Kei langsung menurutinya. Betapa terkejutnya dia setelah dia melihat kembang api yang sangat indah yang membentuk tulisan ‘Will You Marry Me, Hikari Natsumi?’ (wekekekekekeke *ketawa lagi*)
            “I..i..in..ini..” Hikari memalingkan wajah ke arah Kei. “Kei..”
            “Nande? Doushitamashita? Kau.. tidak suka? Gom__”
            “Iie.. aku suka ini.. sangat Kei. Sangat suka. Arigatou Kei.” Seru Hikari sembari memeluk Kei.
            Kei membalas pelukannya, “Kau belum menjawab pertanyaannya Hikari!”
            “Yes. I will.”
            “Tunggu dulu!” Kei melepaskan pelukannya, sedangkan Hikari hanya menatap Kei dengan tatapan bingung. “Memangnya kau mencintaiku?”
            “Tentu saja.” Seru Hikari.
            “Kalau aku tidak?” Kei berusaha menggoda kekasihnya itu.
            “Maksudmu? Kalau kau tidak mencintaiku, mana mungkin kau membuat malam ini seperti tadi?”
            “I need evidence.” Ucap Kei singkat.
            “Ok, what evidence is it?”
            “Kau, sebrangi jalan ini hanya dengan 2 langkah. Bagaimana?” senyum Kei mengembang.
            Hikari mengerutkan dahinya, dia berfikir bahwa kekasihnya sudah gila. “Tapi Kei, jalan ini sangat luas. Mana mungkin hanya 2 langkah. Kau itu mahasiswa yang bodoh!” kali ini dia memajukan bibirnya.
            Sinyal itupun tertangkap oleh Kei dan semakin membuat Kei ingin mengerjainya. “Ya sudah.. itu artinya, kau tidak mencintaiku. Baiklah aku pulang saja.” Dia berpura-pura membalikkan badannya dan pulang. Tapi, sebuah tangan cepat menarik tubuhnya.
            “Ok. Aku coba.”
            Kei melihat Hikari dari tepi jalan dan Hikari berusaha menyebrangi jalan itu dengan 2 langkah. Saat hendak melakukan langkah yang kedua, Hikari menoleh ke sisi jalan yang lainnya, dia tidak melihat apapun kecuali cahaya yang sangat terang. Dan tiba-tiba “BBBRRUUUGGGHH”.
            “HIKARRIIIIIII!!!!!!” Kei berlari menghampiri Hikari yang terpental cukup jauh setelah tubuhnya dihantam oleh sebuah truk yang entah kapan sedang melintas di jalan tersebut. “Hikari bertahanlah.. aku akan mencari bantuan. BERTAHANLAH HIKARI!!” Kei membawa Hikari ke dalam pelukannya. Penuh darah dimana-mana. Kei mengambil keitainya dengan tangan yang telah berlumur darah. “Rumah Sakit? Tolong tolong suster.. aku ada di jalan__ Hikari!”
            Belum sempat Kei mengatakan posisinya sekarang, Hikari mengambil keitai milik Kei. “Kei..” katanya lemah.
            “Ssstt jangan berbicara Hikari. Bertahanlah sayang!” jawab Kei panik.
            “Ti..tid..tidak. per..lu..K..Kei...” ucap Hikari terbata-bata.
            “Apa maksudmu? Hiks.. apa maksudmu hiks.. tidak perlu?” Kei menatap Hikari dengan tatapan nanar, tubuhnya terguncang, isak tangisnya semakin terdengar.
            “Ja..jang..ngan.. mena..ngis Kei!” Hikari bersusah payah mengusap air mata Kei.
Kei menggenggam tangan Kekasihnya dan mengecup lembut kening Hikari.
“K..Kei.. A..a...”
Kei menangis, dia terus menangis dan menggelengkan kepalanya. “Dame.. dame hiks.. dame Hikari!! Dame.. hiks..”
            “A..Ai..Aishi..tteru.. Kei.. Aishi..ter..ru.. Aishiteru Kei..Inoo.” Hikari tersenyum.
            “Aishiteru.. hiks.. Aishiteru Hikari..hiks..bertahanlah!” jawab Kei. Sedetik kemudian, Hikari tidak sadarkan diri.
#Flashback end
Raikha berjalan menyusuri koridor, berharap dia menemukan keajaiban untuk kesembuhan adik tersayangnya.
“Sayonara” to ieba kimi no kizu mo sukoshi wa ieru darou?
“Aitai yo…” to naita koe ga ima mo mune ni hibiite iru

Bukiyou sugiru futari mo kisetsu wo koereba
Mada minu shiawasena hi ni meguri au ka naa

Nantonaku kyori wo tamotezu ni hanikande wa
Hagayui tabiji no tochuu de nekoronda ne

“Sayonara” to ieba kimi no kizu mo sukoshi wa ieru darou?
“Aitai yo…” to naita koe ga ima mo mune ni hibiite iru
            “Hai, moshi moshi Kou.. “ Raikha mengangkat keitainya yang dari tadi berdering.
            “Daijoubu desuka? Raichan.. kenapa lama sekali mengangkat telfonnya?” tanya Kota dari seberang (seberang telfon maksudnya).
            “Ah... daijoubu, gomen. Aku hanya mel.. ah.. maksudku nada deringnya tidak terdengar.” Kata Raikha berbohong.
            “Kau, kenapa?.. Sayang?” tanya Kota dengan nada yang sangat lembut. Suaranya benar-benar berarti bagi Raikha. Bagi Raikha suaranya adalah penenang paling ampuh.
            “Aku.. hanya..” Raikha menggantungkan kalimatnya.
            “Hanya?”
            “Takut Kou.” Suara Raikha terdengar bergetar.
            “Kau di mana?” tanya Kota khawatir.
            “Koridor lantai 3.”
            “Tunggu aku di sana. 30 menit lagi aku sampai.” Jelas Kota.
            “Kau di mana Kou?”
            “Di makam nenekku.”
            “Baiklah, aku akan menunggumu. Hati-hati Kouchan. Aku menyayangimu.”
            “Boku mo.”
#KOTA POV (di pemakaman)
            ‘Ada apa dengan Raichan?’ tanyaku dalam hati.
Aku melangkahkan kaki mendekati makam nenekku. Kuletakkan karangan bunga mawar mutih, bunga favorit nenekku, di depan nisannya. “Oma.. Kota kangen. Kota mau cerita sesuatu sama oma. Kekasih sahabat Kota sedang sakit, nah.. kakaknya adalah kekasihku oma. Namanya Raichan, lengkapnya Akayama Raikha. Apakah oma tau?! Dia gadis yang sangat cantik, baik hati, dan penyayang. Itu yang membuat Kota jatuh cinta padanya. Oma, Kota nggak mau terus menerus melihatnya menangis. Jika Raichan menangis, Kota juga akan sedih, sangaaat sedih. Kota bingung, Kota ingin melihat dia tersenyum lagi. Tapi Kota tidak bisa berbuat apa-apa oma, Kota sakit,, hiks.. oma..” aku merasakan basah dipipiku. Benar saja, aku menangis. Segera kuhapus air mataku.
            “Hei!” sapa seseorang yang ada dibelakangku.
            Aku tersentak, dan segera menoleh ke arah belakang. “K..K..Kau!!” dia adalah seseorang yang kulihat tadi pagi di kamar rawat Hikari. Pakaiannya sangat rapih, wajahnya lumayan. 11:12 lah denganku, dan lagi-lagi cahaya putih seperti meneranginya. “Siapa kau? Kenapa kau ada di sini? Dan _”
            “Yamada Ryosuke desu. Yoroshiku” orang itu membungkukkan badannya.
            “Yamada Ryosuke? Boku wa_”
            “Yabu Kota.” Potongnya
            “Kau, tau darimana? Apa yang kau inginkan?” tanyaku tergesa.
            “tentu saja aku tahu. Aku tahu semuanya Kota-kun. Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Tenang saja” dia tersenyum.
            “Apa yang kau lakukan di sini? Dan tadi pagi, kau berada di kamar rawat Hikari kan?” siapa dia sebenarnya?
            “Apa yang kulakukan? Aku menjaga orang-orang baik yang ada di sini. Termasuk nenekmu. Kalau tentang gadis yang bernama Hikari itu_”
            “APA?” sentakku. Aku benar-benar tidak tahan dengan orang ini. “Apa kau malaikat? Apa pagi itu kau akan mencabut nyawa Hikari?” tanyaku menebak. Dia tertawa kecil, apa maksud tawanya itu?
            “Kota-kun. Jangan suka memotong perkataan orang.”
#AUTHOR POV
            “Kota-kun.. jangan suka memotong perkataan orang.” Lelaki dengan rambut kecoklatan itu menghela nafas dan mengembangkan senyumnya. “Hikari. Hikari Natsumi bukan? Dia cantik ya! Sayang dia sudah mempunyai kekasih.” Senyum Ryosuke memudar mengingat hal itu.
            “Apa hubunganmu dengan Hikari? Siapa kau sebenarnya? HAH?!” sentak Kota.
            Ryosuke berjalan menjauhinya. Dan melambaikan tangan kanannya tanpa membalikkan badan. “Jyaa na!”
            “HEI!! BERHENTI” teriak Kota.
            “KITA AKAN BERTEMU LAGI. TENANG SAJA KOTA-KUN, JANGAN LUPA RAICHAN MENUNGGUMU DI KORIDOR 3!!” lama perlahan Ryosuke menghilang dalam kabut yang entah kapan datangnya.
            Kota tercekat. ‘bagaimana dia bisa tau?’ batin Kota. Fikirannya masih saja terpusat dengan lelaki yang bernama Ryosuke itu. Dia mencoba melupakannya dan segera menemui Raikha di rumah sakit yang telah menunggunya.
#DI RUMAH SAKIT
            “RAICHAAANN!” teriak Kota yang segera berlari ke arah kekasihnya.
            Raikha segera berdiri dari tempat duduknya dan langsung memeluk Kota. “Kou..hiks..hiks..” dia menumpahkan seluruh ketakutannya dalam dekapan hangat Kota.
            “Menangislah Raichan.. menangislah!!” Kota mendekapnya lebih erat, mengusap lembut  rambut Raikha yang tergurai indah, berharap kekasihnya akan kembali tenang dengan dekapannya.
            “Hiks..Kouchan.. aku takut.. hiks.. aku sangat menyayanginya Kou.. hiks.. kapan dia akan membuka.. hiks.. matanya.. hiks.. Kouchan.. hiks.. aku harus bagaimana Kou? Hiks.. Kouchan..apa yang harus kulakukan?” tangis Raikha semakin memecah.
            “Sayang.. sudahlah. Ada aku di sini. Kau tidak usah takut lagi sayang. Hikari pasti sembuh. Percayalah padaku. Pasti.” Ucap Kota menenangkan Raikha.
            “Kalau tidak bagaimana Kou? Hiks.. hanya dia yang kupunya hiks.. kau taukan..hiks.. orang tua kami telah meninggal.. hiks.. aku tidak punya siapa-siapa lagi..hiks.. bagaimana jika dia_”
            “Sssssttt jangan bicara seperti itu. Dia pasti sembuh. Lagipula kau tidak sendirian. Masih ada aku. Tenang saja!” Kota melepaskan pelukan mereka dan mengecup lembut bibir plum Raikha. Tanpa disadari, ada seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka dari kejauhan. Seseorang yang benar-benar sedang memenuhi pikiran Kota.
#RYOSUKE POV
            ‘Ck ck ck anak muda zaman sekarang, tidak peduli dimanapun pasti ujung-ujungnya chu chu-an juga’ ucapku dalam hati. Aku berjalan mendekati mereka yang sedang berciuman ria(?). Kusentuh pelan bahu Kota-kun dan kubisikkan sesuatu. Aku menahan tertawaku ketika melihat ekspresi bingungnya itu, kubiarkan saja, dan akupun segera pergi dari tempat itu.
*Beberapa hari kemudian*
            “HEI KAU!!” teriak seseorang dari kejauhan. Aku sudah dapat menebaknya. Dia pasti....
            “Kota-kun... hisashiburi!! bagaimana keadaan Hikari? Hah?” sapaku.
            “Kau gila. Kau benar-benar gila. Apa yang akan terjadi jika Raichan melihatmu saat itu?” aku melihat ekspresinya yang kesal.
            “Dia tidak akan bisa melihatku, jika aku tidak menginginkannya.”
            Kota-kun menatapku dengan tatapannya yang aneh.. yah.. dia selalu menatapku dengan seperti itu. “Apa.. kau benar-benar malaikat? Hantu? Jin? Atau apa? Utusan Tuhan? Kenapa kau menampakkan dirimu padaku?”
            “Aku bukan malaikat, hantu, jin. Tapi, aku hanyalah sosok yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menemani Hikari, dan membawanya pergi. Dan kenapa aku memilihmu.. karena aku tidak mungkin memilih Kei, karena dia adalah kekasih Hikari. Aku tidak mungkin memilih Raikha, karena dia adalah kakak Hikari, sekaligus adikku.” Jelasku.
            “Apa maksudmu? Membawa Hikari pergi? Dan.. kau.. kakak Raichan?” tersirat kekhawatiran di wajahnya.
            “Aku adalah kakak Hikari dan Raikha. Okaasanku keguguran saat kehamilan anak pertamanya menginjak usia 4 bulan. Dan.. jadilah aku yang sekarang.”
            “Tapi.. namamu?”
            “Akayama Ryosuke. Aku hanya menggantinya menjadi Yamada Ryosuke. Bagaimana? Kerenkan?!! Setelah kelahiran Raikha, orang tuaku bercerai. Setahun setelah itu, otousanku meninggal karena kecelakaan, lalu okaasanku menikah lagi, dan lahirlah Hikari. Dengan nama Hikari Natsumi. Aku tidak percaya bahwa, adikku yang ke dua ini sangatlah cantik..coba saja jika aku tidak mati, mungkin, aku akan jatuh cinta padanya...” aku mengambil nafas dalam-dalam dan menatap Kota-kun yang sedari tadi diam saja mendengar ceritaku. “5 tahun setelah kelahiran Hikari, ayahnya meninggal karena kecelakaan, dan okaasanku meninggal karena terserang penyakit jantung setelah mendengar kabar tersebut. Dan,, aku hanyalah bisa membantu Raikha dan Hikari dari kejauhan. Aku tidak berani muncul di hadapan mereka, karena,, aku tidak ingin membuat mereka kebingungan atas keberadaanku.”
            “Dan,, lalu kau memilih diriku?” tanya Kota-kun.
            “Ya. Tentu saja. Siapa lagi.” Aku mengembangkan senyumku yang mungkin akan membuat semua wanita jatuh hati. (PD amat lu =,=)
            “Kau bilang, kau akan membawa Hikari pergi? Apakah dia akan mati?”
            “Dia akan mati.” Ucapku mantap.
#KOTA POV
            Emosiku telah meningkat, ku cengkram kerah bajunya dan menatapnya tajam. “Apa yang kau katakan?! Kapan kau akan mengambil nyawanya?”
            “Lepaskan tanganmu itu!” akupun melepasan cengkramanku pada kerah bajunya. “Aku tidak sejahat yang kau kira. Jangan menatapku seperti itu! Aku akan memberi kebahagiaan kepada adikku itu. Sebelum dia meninggal, aku akan membuatnya bahagia dulu, supaya nantinya, dia tidak marah padaku.” Lelaki itu tersenyum. Dan lagi-lagi senyumnya itu benar-benar membuatku gila,
            Kamisama, apakah aku sedang bermimpi? Kenapa ada makhluk aneh seperti dia di dunia ini? Apa yang sedang kau rencanakan Kamisama? “Caranya?”
            Dia berbalik ke arahku dan tersenyum. Senyum yang sangat kubenci, menjengkelkan sekali setiap melihat senyumnya itu. “Dia akan sadar. Tepat dihari ke 3 sebelum ulang tahunnya. Itu berarti,, tanggal 2 Mei. Sekarang tanggal 30 April. Jadi,, 2 hari lagi. Waahh,, aku tidak sabar melihat mata indahnya itu.”
            “Kau kakak yang aneh! Benar-benar gila. Walaupun begitu.. apakah kau tidak akan menunjukkan dirimu pada Raikha dan Hikari.. Ryosuke-nii?” kota bodohnya kau!! Kenapa kau memanggilnya seperti itu?!!!
            “Nani??? Ryosuke-nii? Kau tau, dari dulu aku sangat ingin dipanggil seperti itu, bodoh! Kenapa kau tidak memanggilku seperti itu dari tadi?!!” dia tersenyum senang dan tiba-tiba saja memeluk bahuku. “Aku sempat lupa kalau kau ini kekasih adikku. Dengar adik kecil, jangan sampai ada orang yang tahu tentang diriku. Ok? Aku jamin semuanya akan berakhir dengan bahagia.” Dia mengusap kepalaku seakan aku ini kucing peliharannya. Kurang ajar!
            “Aku bukan anak keci lagi, berhenti melakukan itu!” aku mendorongnya dan membuat jarak di antara kita. “Bagaimana bisa bahagia? Bagaimana perasaan Inoo? Apa kau tak memikirkannya?”
            “Adik kecil, masalah itu akan diselesaikan oleh Hikari. Hanya Hikarilah yang bisa menjinakkan lelaki cantik seperti macam Kei itu.” Lagi-lagi dia memanggilku adik kecil =,=
            “Berhenti memanggilku adik kecil! Usiaku sudah 20 lebih!”
            “Adik kecil marah ya!!” dia mengusap kepalaku. “Aku.. benar-benar ingin merasakan hal seperti ini dari dulu. Dipanggil dengan panggilan Oniisan, memanjakan adikku, bermain bersamanya, merasakan pelukan hangat orang tua dan semuanya.” Tiba-tiba saja tatapannya berubah. Dia menatap langit dengan tatapan yang aneh.  “Ijinkan aku memanggilmu adik kecil saja ya, Jyaa” dan dengan sekejap dia langsung menghilang dari hadapanku.
            Orang itu benar-benar gila, kalau saja dia bukan kakaknya Raichan, sudah kutendang pantatnya dari tadi.
Trust! Believe! My Future!
Trust in my way
Don't looking back
Reading the wind
Never give up
Taiyou wo tsukamu you ni
Kakageta kono te de

            “Moshi moshi!”
            “Ah, Yabu.. kau di mana?” tanya orang yang menelfonku yang ternyata adalah Inoo.
            “Makam nenekku. Doushite?” tanyaku.
            “Hei kau. Dasar!!! Kemarin lusa aku sudah menunggumu di restoran Death Bell. Kenapa kau tidak datang? Lagipula kenapa hari-hari ini kau suka sekali ke makam nenekmu?”
            Dia memang seperti perempuan, dasar cerewet. Untung saja aku diciptakan sebagai pria tampan yang penuh dengan kesabaran.  “Gomen, kemarin lusa aku ada urusan.”
            “Apa kau tau, di sana semua orang melirikku, aku jadi merinding tau!! Aku tau aku ini tampan, tapi setidaknya mereka tidak perlu seperti itu jugakan?! Sudah kukatakan bahwa restoran itu benar-benar aneh. Lagi pula kenapa kau sering sekali pergi ke makam?” ya ampun ni anak makan apa sih!!!!!!!
            “Bukan apa-apa. Aku hanya.. rindu nenekku” jawabku bohong. “Lagipula, tentang orang-orang yang melirikmu di resto Death Bell itu bukan karena kau tampan! Tapi, mereka heran. Bagaimana bisa ada lelaki secantik dirimu itu,,, SAyang.” Kutekan nada bicaraku, sengaja untuk menggodanya.
            “KAU MULAI TIDAK WARAS?? Tadi pagi kau makan apa?” tanyanya mulai sewot.
            “Tadi, aku cuman makan okonomiyaki ditambah dengan Buble Tea. Aku memang tidak waras. Dan semua itu gara-gara kamu. Inoochan sayang.” Dari dulu, aku punya hoby menggoda Inoo seperti ini, karena, reaksinya selalu berhasil membuatku tertawa. Satu-satunya yang dapat membantuku meringankan pikiran adalah hanya seorang Inoo Kei, sahabatku.
            “YAMETE YABUUUU!! Temui aku di taman Tokyo nanti jam 3 sore. Nggak pakek tapi, dan harus datang. HARUS.”
            “Baiklah lagipula ada yang harus kubicarakan denganmu. Ini penting.”
            “Masalah apa? Jangan bilang masalah kuliah! Aku sudah memutuskan untuk vakum dari kuliahku dulu, aku ingin menemani Hikari.”
            “Bukan itu. Tapi ini menyangkut masalah Hikari, Raichan, dan Akayama Ryosuke.”
            “Dare? Akayama Ryosuke?”
            “Makanya, nanti akan kubicarakan.”
            “Baiklah, jangan sampai telat! Awas kalau sampai telat, aku akan membeberkan rahasia kecil kepada Raichan.” Ancamnya.
            “maksudmu?” rahasia kecil? Apa maksudnya? Waduh gawat nih..
            “KAU-MENGOMPOL-DI-KASUR-TEMPAT-TIDURKU-SAAT-PESTA-TIDUR-2-HARI-YANG-LALU.” Dia mengatakannnya dengan artikulasi yang sangat jelas.
            “HEIIII Awas kau Inoo,, jangan kau beritahukan pada Raichan. Ku mohon!!” ini sangat memalukan (>.<) bagaimana aku bisa melakukan hal bodoh itu. Padahal aku hanya bermimpi sedang kencing, dan ternyata hal itu terjadi di dunia nyata T_T
            “Makanya turuti kata-kataku. Hahahahaahhahahaha” dia tertawa -__- menyebalkan. “Ya sudah, aku mau menjaga Hikari lagi. Jyaa na!”
            “Jyaa!” ucapku datar dan langsung mematikan telfonnya. Aaarrrgghhh Kota Yabu kenapa kau bodoh sekaliiiiiiiiiii ‘Aho Aho Aho!’ runtukku dalam hati.
            Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku ingin istirahat. Tubuhku terasa penat. Sesungguhnya bukan tubuhku yang ingin kuistirahatkan, namun pikiranku. Entah hal macam apa yang sedang memenuhi pikiranku sekarang ini. ‘bagaimana ada hal seperti itu?’ tanyaku dalam hati. Bagaimana bisa ada orang yang sudah meninggal, hidup lagi dan berwujud manusia di hadapanku?