Tittle : No Regret Life (1/...)
Author : Hikari Natsumi (aku ndiri)
Categories : Multichapter
Rating : PG 15 (nggak tau kaya’ beginian,
tinggal tulis aja XD)
Genre : Romance, Mystery, Angst, AU,
Fluffy (nggak menjamin).
Cast :
Kota Yabu (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Akayama Raikha (Rainukha Inoo), Hikari Natsumi
(author ikut nampang), Ryutaro Morimoto (Hey! Say! JUMP) OC OC lainnya J
Disclamer :
Kota Yabu, Kei Inoo, Ryutaro Morimoto milik Tuhan, bapaknya, emaknya, dan eyang
Jojon. Setengah dari Kei punya Author (‘.’) *dibakar masa*, Akayama Raikha
milik Tuhan, emak dan bapaknya. Hikari Natsumi milik Tuhan, emak dan bapaknya.
OC OC juga milik Tuhan.
Synopsis :
datangnya sesuatu tak terduga yang membuat hidup pria bernama Kota Yabu ini menjadi
lebih rumit. Kebingungan karena harus memilih adiknya (satu-satunya keluarga
yang dimiliki) atau kekasihnya untuk ditinggalkan.
Perasaan lama banget aku buat FF ini
=_=.. WARNING 1 !! TYPO, kata-kata
ancur, alur nggak jelas, cerita nggak merasuk di hati, penghayatan yang
menyedihkan (ancur maksudnya),,, WARNING
2 kejang-kejang saat membaca karya awal yang masih berantakan. Nah berikut
ceritanya, cekibroott (read : check it out) Selamat membaca ^^
Semua hal yang kumiliki sekarang ini
sudah cukup bagiku. Harta, kasih sayang, dan cinta. Namun, ‘dia’ merenggut
semuanya. Entah sejak kapan ‘dia’ mengincarku, dan entah kenapa ‘dia’
menginginkanku. Aku ingin pergi darinya.
Sangat ingin. Tapi apakah itu mungkin? Dan sampai suatu hari, seseorang datang
kepadaku dan memintaku untuk bertemu dengan’nya’ secara damai. Orang itu,
menginginkan aku bertemu dengan ‘kematian’.... .
#Author POV
Kei berlari sekuat tenaga
meninggalkan tempat itu. Dia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya
seperti ini. Kei tertunduk lesu meraih dan membenamkan wajahnya di lengannya,
membekap tubuhnya yang terguncang hebat.
“Hiks..Kamisama.. ini tidak adil. Hiks.. hiks.. beri dia kesempatan.
Onegaishimasu.” Kei memohon dalam tangis yang sia-sia. Yah.. semuanya tak akan
berubah. Hanya keajaiban yang bisa mengendalikannya.
“Inoochan !!” panggil seseorang dari kejauhan yang lalu
mendekat. Pandangannya nanar saat melihat Kei.
“Rai.. hiks.. Raichan.. apakah Tuhan tuli? Apakah dia tidak
mendengar apa yang kuucapkan? Hiks.” Tanya Kei dalam tangis.
“Inoochan,, ku mohon jangan seperti ini!” jawab Raikha lirih.
“Rai.. apa dia berbuat kesalahan besar? Apakah Tuhan tidak
bisa memaafkannya? KENAPA TUHAN TIDAK MENDENGARKU RAICHAN !!” bentak Kei.
“JAWAB AKU Raichan.. aku mohon jawab aku.. hiks.. kenapa harus dia Raichan..”
Turun sebulir air dari pelupuk mata Raikha, dia tidak sanggup
melihat orang yang sudah ia anggap seperti adiknya, menjadi seperti ini. “Inoochan,,
Tuhan pasti mendengar.. pasti. Yah.. pasti ada keajaiban untuk Hikari. Pasti
ada Inoochan” Kei pun larut dalam pelukan hangat Raikha.
*Esok
harinya
“Hai, moshi moshi.. Yabu” jawab Kei
setelah mengangkat keitainya yang berdering.
“Inoo, apa kau ada jadwal kosong
hari ini? Ada yang perlu kubicarakan denganmu.” Kata pria jangkung yang
menelfon Kei.
“Sepertinya ada. Tapi, mungkin agak
siangan. Aku mau menemani Hikari di rumah sakit pagi ini.”
“Ah~! Baiklah. Kalau kau sudah
selesai dengan urusanmu, segera hubungi aku ya, jyaa na” ucap Kota sebelum
memutuskan sambungan keitainya.
*Di
rumah sakit
‘Aku tidak sabar bertemu dengannya’
senyum mengembang di sudut bibir indah Kei. Dia memegang sebuah buket bunga
mawar biru yang sangat indah. Langkahnya terlihat sangat bahagia di sepanjang
joridor rumah sakit. Dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat langkahnya
terhenti. Dia melihat seseorang berada di ruangan yang ditempati oleh
kekasihnya.
‘Yabu...?’ tanyanya dalam hati.
“INOOCHAN.. ohayou~~”..
“HUUAAAAAAA~~!!!” teriak Kei dengan kencangnya.
Raikha segera membekap mulutnya. “ssssttt... ini di rumah
sakit Inoochan. Kenapa harus berteriak begitu!!!”
“A, bikkurishita, jantungku hampir cipoooott”
“copot kaliiii” raikha terkekeh geli. “Eh Kouchan ?” Raikha
mengalihkan pandangannya ke arah Kota yang duduk di samping Hikari dan
mendekatinya.
“Raichan.. ohayou” jawabnya sambil melemparkan senyum termanis
kepada kekasihnya itu.
“Yabu, kenapa kau di sini?” tanya Kei dengan nada sedikit curiga.
“Oh.. ohayou Inoochan. Bukannya kau yang menyuruhku ke sini?!
Aku mencarimu daritadi?” tanya Kota.
#FLASHBACK (Kota POV)
“Moshi
moshi Inoo, ada apa?” tanyaku padanya.
“Kota
datanglah ke rumah sakit segera. Cepat, cepat Kou CEPAT!!” ada apa dengan Inoo?
Kenapa dia memanggilku ‘Kota’, dan kenapa dia menyuruhku ke Rumah sakit?
“Memangnya
ada apa Inoo, kau baru saja menelfonku dan sekarang kenapa kau menjadi panik
seperti ini?”
“Kou
cepat ke sini. Tolong Hikari Kota,, tolong Hikari, aku mohon tolong Hikari!!!”
nada bicaranya semakin tinggi. Dan aku mulai khawatir. Ada apa sebenarnya?
Aku
segera melajukan mobilku menuju rumah sakit. Dan ketika aku sampai di depan
ruangan Hikari, aku melihat seseorang. Pakaiannya rapih, sangat rapih. Entah
kenapa aku seperti melihat cahaya yang mengelilinginya. Apakah dia,, oh tidak
mungkin. Aku langsung masuk ke dalam ruangan Hikari dan...... . .
‘Di..dia..
kemana orang tadi?’ tanyaku dalam hati. Yah.. orang itu menghilang. Ada apa
ini? Mana Inoo?
“Hikari
daijoubu desuka?” tanyaku padanya, walaupun aku tau dia tidak akan bisa
menjawab pertanyaanku. Aku segera memeriksa keadaanya, terutama nadinya. Aku
letakkan ibu jariku di bagian pergelangan tangannya.
‘Ada
apa ini? Mana denyutannya?’ jantungku berdebar kencang seperti saat yuto
memukul drumnya. Aku memberanikan diriku untuk menatap elektrokardiogram.
Dan.. tidak mungkin.. alat itu menunjukkan jantungnya normal. Langsung kupencet
tombol darurat, dan tidak lama setelah itu, dokter datang dan segera memeriksa
Hikari.
“Dia
tidak apa-apa. Tidak ada kesalahan sedikitpun.” Jelas dokter Ryuu. (jiaahh Ryuu jadi dokter XD)
“Tap..
tapi dok, tadi.. denyut nadinya tidak ada!” jawabku masih panik.
Dokter
Ryuu segera memeriksa denyut nadi Hikari. “Ini masih ada. Mungkin kau saja yang
terlalu khawatir. Coba kau pegang!”
Aku
segera memegang pergelangan tangan Hikari.. dan.. ‘Ada apa ini? Denyut nadinya
normal!!!’ pikirku.
“Benarkan?!
Ya sudah saya kembali dulu.” Dokter Ryuu keluar dari ruangan Hikari.
#FLASHBACK END
Inoo mengernyitkan dahinya. “Kapan
aku menyuruhmu ke sini Yabu?”
‘APA!!! Lalu siapa yang menelfon
tadi? Tapi.. suaranya benar benar suara Inoo. Apa ini ada hubungannya dengan
pria tadi?’ “Ah ya.. Raichan kau menginap di sini tadi malam kan?” aku
mngalihkan pembicaraan ini.
“Un.. nande?” aku menangkap mimik
khawatir di wajah Inoo dan Raikha.
“Uhm.. nandemonai” aku tersenyum,
mencoba mencairkan suasana. “Oiya, Inoo nanti jangan lupa ya... aku tunggu di
restoran Death Bell 4 jam lagi.”
“DEATH BELL??????!!!” katanya hampir
berteriak.
“Nande?”
“Kowaiiii yooo pindah restoran saja.
Kenapa harus restoran itu sih. Dari dulu aku selalu ngerasa aneh kalo’ ngunjungin
tempat itu, tau!!” Inoo memasang ekspresi takutnya, rasanya aku ingin tertawa
sekerasnya.
“PE-NA-KUT! Pokoknya harus datang.
PENTING!” aku tidak peduli bagaimana dia merespon, aku langsung melangkahkan
kakiku keluar ruangan Hikari dan segera menuju tempat parkir. Beberapa menit
kemudian, aku sampai di tempat parkir dan langsung menuju mobil. Entah kenapa perasaanku
memburuk. Pikiranku tentang lelaki tadi, tidak bisa dimusnahkan. Siapa dia
sebenarnya? Apa yang dilakukannya pada Hikari?
Aku merogoh kunci mobil dari sakuku,
dan saat aku membuka pintu mobilku.. aku merasa ada seseorang yang mengintaiku.
Aku beranikan diri untuk menoleh kebelakang. ‘Tidak ada siapa-siapa, aahhh aku
memang terlalu parno’ pikirku. Akupun segera masuk ke dalam mobilku. Sesaat
setelah menyalakan gasnya. ‘BUGHH’ ada yang menghantam bagian belakang mobilku
dengan sesuatu, dan hal itu sukses membuatku menoleh dengan cepat. “HEI!!” ‘DEG! DEG!’ aku pejamkan mataku berulang
kali untuk memastikan yang kulihat hanyalah halusinasi. Dan bukan! Di sana!
Tepat di belakang mobilku, aku melihat seorang pria memakai baju serba putih
duduk membelakangiku. Aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil untuk
menemui orang tadi. Setelah aku keluar dari mobilku dan melihat ke belakang
mobiku, aku tidak melihat seorangpun di sana. Yang kulihat hanyalah secarik
kertas yang bertuliskan “Yoroshiku yabu-kun”. Apa maksudnya? Kuremas kertas
tadi dan kubuang ke sembarang tempat. Akupun langsung melajukan mobilku menuju
pemakaman. Yah.. aku memang ingin datang ke pemakaman nenekku.
*Di
rumah sakit (KEI POV)
“Ohayou Hikari, o genki desuka? Nee,
aku membawakan ini untukmu. Semoga kau menyukainya.” Aku meletakkan boneka tedy
bear warna biru kesukaannya. Kupautkan jari-jariku di jemarinya yang terasa
dingin dan menggenggamnya erat.
“maaf sayang, jika waktu itu aku
tidak menyuruhmu untuk melakukan hal bodoh itu, kau tidak akan seperti ini.
Maaf.. maaf Hikari.” Aku menyeka air mataku yang entah kapan jatuhnya. Aku
tidak ingin terlihat lemah di hadapannya, walaupun aku tau dia tidak akan bisa
melihatku. “Sayang.. aku... rindu saat kita yang dulu. Aku rindu kau yang dulu.
Kau tau?! Senyumanmu adalah senyuman terindah yang pernah aku lihat selama aku
hidup di dunia ini. Aku bersumpah dan tidak berbohong. Aku mohon.. buka matamu
sayang. Aku ingin melihat mata indahmu itu. Sangat ingin. Hikari sayang.. janji
padaku ya! Kau tidak akan meninggalkanku sendirian.” Kukecup keningnya, pelan
namun sangat dalam.
#FlashBack (Author POV)
Besok adalah hari yang paling indah
di kehidupan dua sejoli, Hikari dan Kei. (wewkekekekeke *author ketawa riang*)
‘Besok hari anniversaryku dan Kei
yang ke 2 tahun. Haaahh,, senangnya’ Hikari duduk di tepi jendela kamarnya dan
membayangkan betapa bahagia dirinya dan Kei besok.
Ketika waktu menunjukkan pukul
00.01, Hikari terbangun dari tidur lelapnya dia mencari banda yang sedari tadi
menimbulkan bunyi yang membuatnya terbangun “Moshi moshi Kei.” Hikari mengangkat telfon dari Kei.
“Happy 2nd Anniversary
Hikari!!!!!” ucap Kei dengan bahagia.
“Anniversary?” tanya Hikari bingung.
“Kau lupa ya! Baka! Hari ini adalah
anniversary kita yang ke 2.”
“Besok Kei, bukan hari ini. Sudahlah
aku masih ngantuk. Oyasu_” ucapan Hikari terpotong saat dia mendengar sesuatu
dilemparkan ke jendelanya. Hikari membuka jendelanya dan mendapati Kei yang
tersenyum ke arahnya dengan membawa buket bunga mawar putih.
“Happy Anniversary Baby” ucap Kei
dengan nada bahagia. “Ayo turunlah! Apa kau mau membiarkan kekasihmu kedinginan
di sini?!”
“Tapi Kei,, ini bukannya masih_”
“Ini pukul 12 malam lebih satu menit
Hikari.” Jelas Kei dengan wajah agak cemberut.
“haah? Hontou ni?!” Hikari melirik
jam dinding yang ada di kamarnya. Dan mengalihkan pandangannya ke kekasihnya
yang telah lama menunggunya di depan rumahnya. “Aku akan turun ke sana. Tunggu
sebentar!”
Beberapa menit kemudian, Hikari
turun ke lantai pertama dan menghampiri Kei di depan rumahnya. “Happy
Anniversary!” Kei memberikan sebuket bunga mawar putih yang sangat indah.
Hikari tidak menjawab apa-apa dan
langsung memeluk Kei yang dibalas dengan pelukan hangat dari kekasihnya
tersebut. “Arigatou Kei. Arigatou!”
“Ayo jalan-jalan! Mari kita
merayakan hari bahagia kita. Yoh!” Kei melepaskan pelukannya dan menggenggam
tangan Hikari erat.
“Kita mau kemana?”
“Ikuti aku saja!”
Mereka berdua berjalan menyusuri
jalanan yang sepi dan gelap.
“K..Kei..Kei!” ucap Hikari lirih.
“Uhm?”
“Kita mau kemana Kei? Aku takut..”
“Kau memang penakut.” Ledek Kei
dengan berlari meninggalkan Hikari. “Ayo kejar kalau bisa! Tunjukkan kalau kau
bukan seorang penakut!”
“KEI!!!” Hikari segera berlari ke
arah Kei. Dan saat Hikari berhasil mendekati kekasihnya, tiba-tiba Kei berbalik
dan menangkap kekasihnya dengan pelukan hangat. “Baka!”
Kei tersenyum puas setelah mengerjai
kekasihnya. “Lihat ke atas sayang!”
Hikari yang mendengar pinta Kei
langsung menurutinya. Betapa terkejutnya dia setelah dia melihat kembang api
yang sangat indah yang membentuk tulisan ‘Will You Marry Me, Hikari Natsumi?’ (wekekekekekeke
*ketawa lagi*)
“I..i..in..ini..” Hikari memalingkan
wajah ke arah Kei. “Kei..”
“Nande? Doushitamashita? Kau.. tidak
suka? Gom__”
“Iie.. aku suka ini.. sangat Kei.
Sangat suka. Arigatou Kei.” Seru Hikari sembari memeluk Kei.
Kei membalas pelukannya, “Kau belum
menjawab pertanyaannya Hikari!”
“Yes. I will.”
“Tunggu dulu!” Kei melepaskan
pelukannya, sedangkan Hikari hanya menatap Kei dengan tatapan bingung.
“Memangnya kau mencintaiku?”
“Tentu saja.” Seru Hikari.
“Kalau aku tidak?” Kei berusaha
menggoda kekasihnya itu.
“Maksudmu? Kalau kau tidak
mencintaiku, mana mungkin kau membuat malam ini seperti tadi?”
“I need evidence.” Ucap Kei singkat.
“Ok, what evidence is it?”
“Kau, sebrangi jalan ini hanya
dengan 2 langkah. Bagaimana?” senyum Kei mengembang.
Hikari mengerutkan dahinya, dia
berfikir bahwa kekasihnya sudah gila. “Tapi Kei, jalan ini sangat luas. Mana
mungkin hanya 2 langkah. Kau itu mahasiswa yang bodoh!” kali ini dia memajukan
bibirnya.
Sinyal itupun tertangkap oleh Kei
dan semakin membuat Kei ingin mengerjainya. “Ya sudah.. itu artinya, kau tidak
mencintaiku. Baiklah aku pulang saja.” Dia berpura-pura membalikkan badannya
dan pulang. Tapi, sebuah tangan cepat menarik tubuhnya.
“Ok. Aku coba.”
Kei melihat Hikari dari tepi jalan
dan Hikari berusaha menyebrangi jalan itu dengan 2 langkah. Saat hendak
melakukan langkah yang kedua, Hikari menoleh ke sisi jalan yang lainnya, dia
tidak melihat apapun kecuali cahaya yang sangat terang. Dan tiba-tiba
“BBBRRUUUGGGHH”.
“HIKARRIIIIIII!!!!!!” Kei berlari
menghampiri Hikari yang terpental cukup jauh setelah tubuhnya dihantam oleh
sebuah truk yang entah kapan sedang melintas di jalan tersebut. “Hikari
bertahanlah.. aku akan mencari bantuan. BERTAHANLAH HIKARI!!” Kei membawa
Hikari ke dalam pelukannya. Penuh darah dimana-mana. Kei mengambil keitainya
dengan tangan yang telah berlumur darah. “Rumah Sakit? Tolong tolong suster.. aku
ada di jalan__ Hikari!”
Belum sempat Kei mengatakan
posisinya sekarang, Hikari mengambil keitai milik Kei. “Kei..” katanya lemah.
“Ssstt jangan berbicara Hikari.
Bertahanlah sayang!” jawab Kei panik.
“Ti..tid..tidak. per..lu..K..Kei...”
ucap Hikari terbata-bata.
“Apa maksudmu? Hiks.. apa maksudmu
hiks.. tidak perlu?” Kei menatap Hikari dengan tatapan nanar, tubuhnya
terguncang, isak tangisnya semakin terdengar.
“Ja..jang..ngan.. mena..ngis Kei!”
Hikari bersusah payah mengusap air mata Kei.
Kei menggenggam tangan Kekasihnya dan mengecup lembut kening
Hikari.
“K..Kei.. A..a...”
Kei menangis, dia terus menangis dan menggelengkan kepalanya.
“Dame.. dame hiks.. dame Hikari!! Dame.. hiks..”
“A..Ai..Aishi..tteru.. Kei..
Aishi..ter..ru.. Aishiteru Kei..Inoo.” Hikari tersenyum.
“Aishiteru.. hiks.. Aishiteru
Hikari..hiks..bertahanlah!” jawab Kei. Sedetik kemudian, Hikari tidak sadarkan
diri.
#Flashback end
Raikha berjalan menyusuri koridor, berharap dia menemukan
keajaiban untuk kesembuhan adik tersayangnya.
“Sayonara” to ieba kimi no kizu mo sukoshi wa ieru darou?
“Aitai yo…” to naita koe ga ima mo mune ni hibiite iru
Bukiyou sugiru futari mo kisetsu wo koereba
Mada minu shiawasena hi ni meguri au ka naa
Nantonaku kyori wo tamotezu ni hanikande wa
Hagayui tabiji no tochuu de nekoronda ne
“Sayonara” to ieba kimi no kizu mo sukoshi wa ieru darou?
“Aitai yo…” to naita koe ga ima mo mune ni hibiite iru
“Hai, moshi moshi Kou.. “ Raikha
mengangkat keitainya yang dari tadi berdering.
“Daijoubu desuka? Raichan.. kenapa
lama sekali mengangkat telfonnya?” tanya Kota dari seberang (seberang telfon
maksudnya).
“Ah... daijoubu, gomen. Aku hanya
mel.. ah.. maksudku nada deringnya tidak terdengar.” Kata Raikha berbohong.
“Kau, kenapa?.. Sayang?” tanya Kota
dengan nada yang sangat lembut. Suaranya benar-benar berarti bagi Raikha. Bagi
Raikha suaranya adalah penenang paling ampuh.
“Aku.. hanya..” Raikha
menggantungkan kalimatnya.
“Hanya?”
“Takut Kou.” Suara Raikha terdengar
bergetar.
“Kau di mana?” tanya Kota khawatir.
“Koridor lantai 3.”
“Tunggu aku di sana. 30 menit lagi
aku sampai.” Jelas Kota.
“Kau di mana Kou?”
“Di makam nenekku.”
“Baiklah, aku akan menunggumu.
Hati-hati Kouchan. Aku menyayangimu.”
“Boku mo.”
#KOTA POV (di pemakaman)
‘Ada apa dengan Raichan?’ tanyaku
dalam hati.
Aku melangkahkan kaki mendekati makam nenekku. Kuletakkan
karangan bunga mawar mutih, bunga favorit nenekku, di depan nisannya. “Oma..
Kota kangen. Kota mau cerita sesuatu sama oma. Kekasih sahabat Kota sedang
sakit, nah.. kakaknya adalah kekasihku oma. Namanya Raichan, lengkapnya Akayama
Raikha. Apakah oma tau?! Dia gadis yang sangat cantik, baik hati, dan
penyayang. Itu yang membuat Kota jatuh cinta padanya. Oma, Kota nggak mau terus
menerus melihatnya menangis. Jika Raichan menangis, Kota juga akan sedih,
sangaaat sedih. Kota bingung, Kota ingin melihat dia tersenyum lagi. Tapi Kota tidak
bisa berbuat apa-apa oma, Kota sakit,, hiks.. oma..” aku merasakan basah
dipipiku. Benar saja, aku menangis. Segera kuhapus air mataku.
“Hei!” sapa seseorang yang ada
dibelakangku.
Aku tersentak, dan segera menoleh ke
arah belakang. “K..K..Kau!!” dia adalah seseorang yang kulihat tadi pagi di
kamar rawat Hikari. Pakaiannya sangat rapih, wajahnya lumayan. 11:12 lah
denganku, dan lagi-lagi cahaya putih seperti meneranginya. “Siapa kau? Kenapa
kau ada di sini? Dan _”
“Yamada Ryosuke desu. Yoroshiku”
orang itu membungkukkan badannya.
“Yamada Ryosuke? Boku wa_”
“Yabu Kota.” Potongnya
“Kau, tau darimana? Apa yang kau
inginkan?” tanyaku tergesa.
“tentu saja aku tahu. Aku tahu
semuanya Kota-kun. Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Tenang saja” dia
tersenyum.
“Apa yang kau lakukan di sini? Dan
tadi pagi, kau berada di kamar rawat Hikari kan?” siapa dia sebenarnya?
“Apa yang kulakukan? Aku menjaga
orang-orang baik yang ada di sini. Termasuk nenekmu. Kalau tentang gadis yang
bernama Hikari itu_”
“APA?” sentakku. Aku benar-benar
tidak tahan dengan orang ini. “Apa kau malaikat? Apa pagi itu kau akan mencabut
nyawa Hikari?” tanyaku menebak. Dia tertawa kecil, apa maksud tawanya itu?
“Kota-kun. Jangan suka memotong
perkataan orang.”
#AUTHOR POV
“Kota-kun.. jangan suka memotong
perkataan orang.” Lelaki dengan rambut kecoklatan itu menghela nafas dan
mengembangkan senyumnya. “Hikari. Hikari Natsumi bukan? Dia cantik ya! Sayang
dia sudah mempunyai kekasih.” Senyum Ryosuke memudar mengingat hal itu.
“Apa hubunganmu dengan Hikari? Siapa
kau sebenarnya? HAH?!” sentak Kota.
Ryosuke berjalan menjauhinya. Dan
melambaikan tangan kanannya tanpa membalikkan badan. “Jyaa na!”
“HEI!! BERHENTI” teriak Kota.
“KITA AKAN BERTEMU LAGI. TENANG SAJA
KOTA-KUN, JANGAN LUPA RAICHAN MENUNGGUMU DI KORIDOR 3!!” lama perlahan Ryosuke
menghilang dalam kabut yang entah kapan datangnya.
Kota tercekat. ‘bagaimana dia bisa
tau?’ batin Kota. Fikirannya masih saja terpusat dengan lelaki yang bernama
Ryosuke itu. Dia mencoba melupakannya dan segera menemui Raikha di rumah sakit
yang telah menunggunya.
#DI
RUMAH SAKIT
“RAICHAAANN!” teriak Kota yang
segera berlari ke arah kekasihnya.
Raikha segera berdiri dari tempat
duduknya dan langsung memeluk Kota. “Kou..hiks..hiks..” dia menumpahkan seluruh
ketakutannya dalam dekapan hangat Kota.
“Menangislah Raichan..
menangislah!!” Kota mendekapnya lebih erat, mengusap lembut rambut Raikha yang tergurai indah, berharap
kekasihnya akan kembali tenang dengan dekapannya.
“Hiks..Kouchan.. aku takut.. hiks..
aku sangat menyayanginya Kou.. hiks.. kapan dia akan membuka.. hiks.. matanya..
hiks.. Kouchan.. hiks.. aku harus bagaimana Kou? Hiks.. Kouchan..apa yang harus
kulakukan?” tangis Raikha semakin memecah.
“Sayang.. sudahlah. Ada aku di sini.
Kau tidak usah takut lagi sayang. Hikari pasti sembuh. Percayalah padaku.
Pasti.” Ucap Kota menenangkan Raikha.
“Kalau tidak bagaimana Kou? Hiks..
hanya dia yang kupunya hiks.. kau taukan..hiks.. orang tua kami telah
meninggal.. hiks.. aku tidak punya siapa-siapa lagi..hiks.. bagaimana jika
dia_”
“Sssssttt jangan bicara seperti itu.
Dia pasti sembuh. Lagipula kau tidak sendirian. Masih ada aku. Tenang saja!”
Kota melepaskan pelukan mereka dan mengecup lembut bibir plum Raikha. Tanpa
disadari, ada seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka dari kejauhan.
Seseorang yang benar-benar sedang memenuhi pikiran Kota.
#RYOSUKE POV
‘Ck ck ck anak muda zaman sekarang,
tidak peduli dimanapun pasti ujung-ujungnya chu chu-an juga’ ucapku dalam hati.
Aku berjalan mendekati mereka yang sedang berciuman ria(?). Kusentuh pelan bahu
Kota-kun dan kubisikkan sesuatu. Aku menahan tertawaku ketika melihat ekspresi
bingungnya itu, kubiarkan saja, dan akupun segera pergi dari tempat itu.
*Beberapa hari kemudian*
“HEI KAU!!” teriak seseorang dari
kejauhan. Aku sudah dapat menebaknya. Dia pasti....
“Kota-kun... hisashiburi!! bagaimana
keadaan Hikari? Hah?” sapaku.
“Kau gila. Kau benar-benar gila. Apa
yang akan terjadi jika Raichan melihatmu saat itu?” aku melihat ekspresinya
yang kesal.
“Dia tidak akan bisa melihatku, jika
aku tidak menginginkannya.”
Kota-kun menatapku dengan tatapannya
yang aneh.. yah.. dia selalu menatapku dengan seperti itu. “Apa.. kau
benar-benar malaikat? Hantu? Jin? Atau apa? Utusan Tuhan? Kenapa kau
menampakkan dirimu padaku?”
“Aku bukan malaikat, hantu, jin.
Tapi, aku hanyalah sosok yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menemani
Hikari, dan membawanya pergi. Dan kenapa aku memilihmu.. karena aku tidak
mungkin memilih Kei, karena dia adalah kekasih Hikari. Aku tidak mungkin
memilih Raikha, karena dia adalah kakak Hikari, sekaligus adikku.” Jelasku.
“Apa maksudmu? Membawa Hikari pergi?
Dan.. kau.. kakak Raichan?” tersirat kekhawatiran di wajahnya.
“Aku adalah kakak Hikari dan Raikha.
Okaasanku keguguran saat kehamilan anak pertamanya menginjak usia 4 bulan.
Dan.. jadilah aku yang sekarang.”
“Tapi.. namamu?”
“Akayama Ryosuke. Aku hanya
menggantinya menjadi Yamada Ryosuke. Bagaimana? Kerenkan?!! Setelah kelahiran
Raikha, orang tuaku bercerai. Setahun setelah itu, otousanku meninggal karena
kecelakaan, lalu okaasanku menikah lagi, dan lahirlah Hikari. Dengan nama
Hikari Natsumi. Aku tidak percaya bahwa, adikku yang ke dua ini sangatlah
cantik..coba saja jika aku tidak mati, mungkin, aku akan jatuh cinta
padanya...” aku mengambil nafas dalam-dalam dan menatap Kota-kun yang sedari
tadi diam saja mendengar ceritaku. “5 tahun setelah kelahiran Hikari, ayahnya
meninggal karena kecelakaan, dan okaasanku meninggal karena terserang penyakit
jantung setelah mendengar kabar tersebut. Dan,, aku hanyalah bisa membantu
Raikha dan Hikari dari kejauhan. Aku tidak berani muncul di hadapan mereka,
karena,, aku tidak ingin membuat mereka kebingungan atas keberadaanku.”
“Dan,, lalu kau memilih diriku?”
tanya Kota-kun.
“Ya. Tentu saja. Siapa lagi.” Aku
mengembangkan senyumku yang mungkin akan membuat semua wanita jatuh hati. (PD
amat lu =,=)
“Kau bilang, kau akan membawa Hikari
pergi? Apakah dia akan mati?”
“Dia akan mati.” Ucapku mantap.
#KOTA POV
Emosiku telah meningkat, ku cengkram
kerah bajunya dan menatapnya tajam. “Apa yang kau katakan?! Kapan kau akan
mengambil nyawanya?”
“Lepaskan tanganmu itu!” akupun
melepasan cengkramanku pada kerah bajunya. “Aku tidak sejahat yang kau kira.
Jangan menatapku seperti itu! Aku akan memberi kebahagiaan kepada adikku itu. Sebelum
dia meninggal, aku akan membuatnya bahagia dulu, supaya nantinya, dia tidak
marah padaku.” Lelaki itu tersenyum. Dan lagi-lagi senyumnya itu benar-benar
membuatku gila,
Kamisama, apakah aku sedang
bermimpi? Kenapa ada makhluk aneh seperti dia di dunia ini? Apa yang sedang kau
rencanakan Kamisama? “Caranya?”
Dia berbalik ke arahku dan
tersenyum. Senyum yang sangat kubenci, menjengkelkan sekali setiap melihat
senyumnya itu. “Dia akan sadar. Tepat dihari ke 3 sebelum ulang tahunnya. Itu
berarti,, tanggal 2 Mei. Sekarang tanggal 30 April. Jadi,, 2 hari lagi. Waahh,,
aku tidak sabar melihat mata indahnya itu.”
“Kau kakak yang aneh! Benar-benar
gila. Walaupun begitu.. apakah kau tidak akan menunjukkan dirimu pada Raikha
dan Hikari.. Ryosuke-nii?” kota bodohnya kau!! Kenapa kau memanggilnya seperti
itu?!!!
“Nani??? Ryosuke-nii? Kau tau, dari
dulu aku sangat ingin dipanggil seperti itu, bodoh! Kenapa kau tidak
memanggilku seperti itu dari tadi?!!” dia tersenyum senang dan tiba-tiba saja
memeluk bahuku. “Aku sempat lupa kalau kau ini kekasih adikku. Dengar adik
kecil, jangan sampai ada orang yang tahu tentang diriku. Ok? Aku jamin semuanya
akan berakhir dengan bahagia.” Dia mengusap kepalaku seakan aku ini kucing
peliharannya. Kurang ajar!
“Aku bukan anak keci lagi, berhenti
melakukan itu!” aku mendorongnya dan membuat jarak di antara kita. “Bagaimana
bisa bahagia? Bagaimana perasaan Inoo? Apa kau tak memikirkannya?”
“Adik kecil, masalah itu akan
diselesaikan oleh Hikari. Hanya Hikarilah yang bisa menjinakkan lelaki cantik
seperti macam Kei itu.” Lagi-lagi dia memanggilku adik kecil =,=
“Berhenti memanggilku adik kecil!
Usiaku sudah 20 lebih!”
“Adik kecil marah ya!!” dia mengusap
kepalaku. “Aku.. benar-benar ingin merasakan hal seperti ini dari dulu. Dipanggil
dengan panggilan Oniisan, memanjakan adikku, bermain bersamanya, merasakan
pelukan hangat orang tua dan semuanya.” Tiba-tiba saja tatapannya berubah. Dia
menatap langit dengan tatapan yang aneh. “Ijinkan aku memanggilmu adik kecil saja ya,
Jyaa” dan dengan sekejap dia langsung menghilang dari hadapanku.
Orang itu benar-benar gila, kalau
saja dia bukan kakaknya Raichan, sudah kutendang pantatnya dari tadi.
Trust! Believe! My Future!
Trust in my way
Don't looking back
Reading the wind
Never give up
Taiyou wo tsukamu you ni
Kakageta kono te de
“Moshi moshi!”
“Ah, Yabu.. kau di mana?” tanya
orang yang menelfonku yang ternyata adalah Inoo.
“Makam nenekku. Doushite?” tanyaku.
“Hei kau. Dasar!!! Kemarin lusa aku
sudah menunggumu di restoran Death Bell. Kenapa kau tidak datang? Lagipula
kenapa hari-hari ini kau suka sekali ke makam nenekmu?”
Dia memang seperti perempuan, dasar
cerewet. Untung saja aku diciptakan sebagai pria tampan yang penuh dengan
kesabaran. “Gomen, kemarin lusa aku ada
urusan.”
“Apa kau tau, di sana semua orang
melirikku, aku jadi merinding tau!! Aku tau aku ini tampan, tapi setidaknya
mereka tidak perlu seperti itu jugakan?! Sudah kukatakan bahwa restoran itu
benar-benar aneh. Lagi pula kenapa kau sering sekali pergi ke makam?” ya ampun
ni anak makan apa sih!!!!!!!
“Bukan apa-apa. Aku hanya.. rindu
nenekku” jawabku bohong. “Lagipula, tentang orang-orang yang melirikmu di resto
Death Bell itu bukan karena kau tampan! Tapi, mereka heran. Bagaimana bisa ada
lelaki secantik dirimu itu,,, SAyang.” Kutekan nada bicaraku, sengaja untuk
menggodanya.
“KAU MULAI TIDAK WARAS?? Tadi pagi
kau makan apa?” tanyanya mulai sewot.
“Tadi, aku cuman makan okonomiyaki
ditambah dengan Buble Tea. Aku memang tidak waras. Dan semua itu gara-gara
kamu. Inoochan sayang.” Dari dulu, aku punya hoby menggoda Inoo seperti ini,
karena, reaksinya selalu berhasil membuatku tertawa. Satu-satunya yang dapat
membantuku meringankan pikiran adalah hanya seorang Inoo Kei, sahabatku.
“YAMETE YABUUUU!! Temui aku di taman
Tokyo nanti jam 3 sore. Nggak pakek tapi, dan harus datang. HARUS.”
“Baiklah lagipula ada yang harus
kubicarakan denganmu. Ini penting.”
“Masalah apa? Jangan bilang masalah
kuliah! Aku sudah memutuskan untuk vakum dari kuliahku dulu, aku ingin menemani
Hikari.”
“Bukan itu. Tapi ini menyangkut
masalah Hikari, Raichan, dan Akayama Ryosuke.”
“Dare? Akayama Ryosuke?”
“Makanya, nanti akan kubicarakan.”
“Baiklah, jangan sampai telat! Awas
kalau sampai telat, aku akan membeberkan rahasia kecil kepada Raichan.”
Ancamnya.
“maksudmu?” rahasia kecil? Apa
maksudnya? Waduh gawat nih..
“KAU-MENGOMPOL-DI-KASUR-TEMPAT-TIDURKU-SAAT-PESTA-TIDUR-2-HARI-YANG-LALU.”
Dia mengatakannnya dengan artikulasi yang sangat jelas.
“HEIIII Awas kau Inoo,, jangan kau beritahukan
pada Raichan. Ku mohon!!” ini sangat memalukan (>.<) bagaimana aku bisa
melakukan hal bodoh itu. Padahal aku hanya bermimpi sedang kencing, dan
ternyata hal itu terjadi di dunia nyata T_T
“Makanya turuti kata-kataku.
Hahahahaahhahahaha” dia tertawa -__- menyebalkan. “Ya sudah, aku mau menjaga
Hikari lagi. Jyaa na!”
“Jyaa!” ucapku datar dan langsung
mematikan telfonnya. Aaarrrgghhh Kota Yabu kenapa kau bodoh sekaliiiiiiiiiii
‘Aho Aho Aho!’ runtukku dalam hati.
Sesampainya di rumah, aku langsung
menuju kamar dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku ingin istirahat.
Tubuhku terasa penat. Sesungguhnya bukan tubuhku yang ingin kuistirahatkan,
namun pikiranku. Entah hal macam apa yang sedang memenuhi pikiranku sekarang
ini. ‘bagaimana ada hal seperti itu?’ tanyaku dalam hati. Bagaimana bisa ada
orang yang sudah meninggal, hidup lagi dan berwujud manusia di hadapanku?