Myujikku

Kamis, 28 November 2013

(FanFiction) Guardian Angle (3/3)


Tittle               : Guardian Angel (3/3)
Categories    : MultiChapter
Genre            : Romance, Angst, Friendship
Rating            : PG 13
Theme Song : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep
Author           : Hikari Natsumi
Cast                : Kota Yabu (Main character), Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis        :

The flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you’re free



“Hahahahahaha,, benarkah? Itu benar-benar konyol!” Yabu tertawa mendengar cerita dari Daiki yang sekarang mencoba menghiburnya.
“Dari dulu diakan memang sering begitu. Tertidur di kelas dan jatuh dari kursinya dengan posisi yang menggelikan.”
          “Kau benar Daichan. Aku jadi ingin melihatnya saat jatuh.” Yabu menghapus air matanya karena kebanyakan tertawa saat itu.
          “Eh, Daichan!” panggil Hikaru.
          Daiki menoleh ke arah Hikaru yang baru saja memanggilnya. “Ada apa?”
          “Kemana perginya si Yuyan?”
          “Eh benar juga ya, mungkin dia sedang jalan-jalan ke taman.” Jawab Daiki.
          “Kei mana?” tanya Yabu tiba-tiba.
          “kalau yang kau maksud itu Inoo, mungkin dia sedang tidur di rumahnya. Kenapa? Kangen?” Daiki menggoda Yabu terus menerus. “Iyakan? Kamu kangen sama Inoo?”
          “Sudahlah hentikan itu! Itu tidak lucu!” jawab Yabu kesal.
                                   ********SKIP*******
          Sudah seminggu Yabu diperbolehkan pulang oleh dokter, dengan syarat, setiap 2 hari sekali, dia harus memeriksakan keadaannya.
(Di taman kota)
          “Ahhhh aku tidak bisa mengerjakan ini! Ini benar-benar memeras otakku!” Yabu menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon yang besar dan rindang.
          “Kau harus menyelesaikannya Yabu! Inikan bagianmu.” Ucap Kei yang duduk di depan Yabu sambil menyantap bento yang dibawanya dari rumah.
          “Berikan bentomu padaku! Aku lapar Kei. Otakku tidak akan berjalan dalam keadaan perut kosong.”
          “Uso! Sebelum aku sampai di sini, aku yakin kau sudah memakan sesuatu. Sudahlah jangan mencari banyak alasan! Cepat kerjakan tugasmu!” Kei kembali menyantap bentonya.
          “kenapa otakmu sangat cerdas? Padahal kita sama-sama makan bento di pagi hari.”
          “Aku lebih banyak memakan kari buatan okaasanku. Mungkin itu yang membuat otakku lebih CERDAS darimu.” Kei menekankan pada kata ‘CERDAS’ pada suaranya.
          Yabu kembali berusaha mengerjakan tugas Kimia yang diberikan oleh Kitagawa sensei.  Padahal Kei sudah mengambil bagian-bagian yang tersulit, namun Yabu tetap tidak dapat mengerjakan bagian yang mudah dengan lancar. Dibandingkan Yabu, Kei jauh lebih cerdas.
          “Yabu!”
          “Uhm?”
          “Kau ingat Michi?”
          Yabu menghentikan kegiatannya dan menatap Kei. “Dari dulu kau selalu bertanya ‘Kau ingat Michi?’ Yuuri oneechan juga selalu menanyakan hal itu padaku. Siapa sebenarnya Michi? Apa dia begitu penting di hidupku? Aku tidak peduli siapa dia!” Yabu membanting alat tulis yang digenggamnya dan kembali bersandar pada pohon yang berada di belakangnya.
          “Ini!”
          “Apa ini?”
          “Bacalah! Aku memintanya dari Yuyan dan dia mencurinya dari ruanganmu saat kau dirawat di rumah sakit.”
          Yabu melihat sebuah foto yang sudah kusut. “Siapa perempuan ini?”
          Kei mengalihkan pandangannya saat Yabu menatapnya penuh kebingungan.
          “Apa dia Michi?” Yabu mengalihkan pandangannya ke arah foto tersebut. Terlihat dia sedang memeluk seorang gadis. Yabu membalik foto itu dan ditemukannya beberapa coretan kecil yang membuatnya tercengang. ‘Dulu kita bersama, dan sekarang sudah tidak lagi.’ ‘Yabu, kapan kau akan mengingatku seperti dulu?’ ‘Kau adalah malaikat pelindungku, namun itu dulu.’ ‘Aku akan melakukan apapun demi kesembuhanmu.’ ‘Get well soon Yabu!’ ‘Aku Michi. Kau ingat aku?’ dan masih banyak coretan kecil yang berada dalam foto tersebut.
          “Kalau kau sudah sembuh, apa yang kau inginkan?”
          “Aku ingin.. menikah denganmu.”
          “Kalau itu sudah pasti”
          “K..Kei..” Yabu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa ada yang mencengkram kuat.
          Kei menoleh ke arah Yabu. “Daijoubu? Yabu?”
          “Kau itu malaikat pelindungku Yabu.”
          “Benarkah?”
          “Un.”
          “Dan kau?”
          “Kalau aku adalah orang yang beruntung mempunyai malaikat sepertimu.”
          Tersirat kekhawatiran di raut wajah Kei. “Yabu kau kenapa?”
          Yabu mencengkram kepalanya yang terasa sangat sakit. “Arrrrgggghhh! Perutku!”
          “Kepalamu kenapa? Perutmu kenapa? Yabu jawab aku!”
          “Apakah kita harus melakukan ini semua?”
          “Kita harus pergi Michi. Aku ingin hidup bersamamu!”
          “Tapi bukan seperti ini caranya Yabu.”
          “Sudahlah Michi ayo kita pergi!”
          Yabu mencengkram kuat perut dan kepalanya yang terasa sangat sakit. Pandangannya buram, dia hanya melihat seorang gadis yang tersenyum kepadanya. “Michi?”
          “Hahahaha baka! Untung saja temanmu membangunkanmu.”
          “Tapi dia terlambat!”
          “Itu salahmu sendiri Yabu!”
          Yabu berdiri dengan langkah gontai, dia berjalan tanpa arah.
          “Yabu! Kau kenapa?” Kei  mengikuti Yabu dari belakang dan memegang bahunya.
          Yabu menoleh ke arah Kei dengan tatapan kosong. Dia hanya dapat melihat gadis yang tersenyum manis padanya. “Michi! Michi! Michi!” lama-kelamaan segalanya menghilang dalam kegelapan.
                                              *******SKIP*******
Maiorita tenshi no youna  Kimi no egao wa
Kamisama ga boku ni kureta
Saikou no purezento

          “Moshi mosh Inoo? Doushitano?”
          “Daichan cepat ke rumah sakit sekarang!”
          “Ada apa?”
          “Yabu.. dia..”
          “Hah!” Daiki berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah aku akan ke sana segera.”
          “Doushitamashita?” tanya Hikaru khawatir.
          “A, bikkurishita! Aku sedang makan nih!” protes Yuya.
          “Kei menelfonku dan mengatakan bahwa Yabu sedang kritis di rumah sakit!”
          “HAH!!!!” teriak Hikaru dan Yuya.
          Mereka bertigapun segera pergi ke rumah sakit.
                   ******SKIP******
          “Suster! Suster!” panggil Michi.
          Tidak lama kemudian, datang seorang suster dengan membawa sebuah catatan di lengannya. “Ada apa nona?”
          “Aku dengar hari ini ada pasien bernama Yabu Kota yang masuk ruang UGD?” tanya Michi terburu-buru.
          “Benar nona.”
          “Apa dia baik-baik saja?”
          “Keadaannya sangat buruk. Dia tidak sadarkan diri. Kata dokter, hari ini dia harus segera mendapatkan donor hati. Jika tidak_”
          “Jika tidak?” potong Michi.
          Suster itu menggelengkan kepalanya dan menunduk. “Dia akan kehilangan nyawanya.”
          Michi terkejut mendengar perkataan suster itu. Yabu, orang yang telah lama dicintainya akan meninggalkannya begitu saja. “Bisakah.. aku yang menjadi pendonornya?”
          Suster itu terlihat lebih terkejut. “Tidak mungkin nona!”
          “Kenapa? Hanya jantungku yang bermasalahkan? Hatiku masih baik-baik saja.”
          “Itu berbahaya nona!”
          “Ini hakku. Aku yang punya hak. Tolong katakan pada dokter, aku ingin menjadi pendonornya.” Ucap Michi tegas. Keputusannya telah bulat. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi padanya. Selama Yabu hidup, itu sudah cukup baginya. Entah Yabu akan mengingatnya atau tidak, dia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.
          “Tapi... baiklah nona, saya akan segera kembali.”
          “Terimakasih suster, tapi, tolong jangan katakan aku yang menjadi pendonor!”
          “Baiklah nona.” Dengan berat hati suster itupun segera meninggalkan ruangan Michi dan menuju ke ruangan dokter.
          ‘Yabu, bertahanlah! Kamisama berikan kekuatan untuk Yabu’ Michi meletakkan kedua tangannya di depan dada. Sekarang ini, dia hanya bisa berdo’a. ‘Kamisama tasukete.. jagalah Yabu.. Onegaishimasu!’
                                          *******SKIP********
          “Kita harus segera mencari pendonor hati tersebut.”
          “Tapi siapa dokter? Siapa?” tanya Yuuri yang terlihat sangat gelisah.
          Mereka dikagetkan dengan tiba-tibanya pintu terbuka oleh seorang suster.
          “Ada apa suster?”
          “Sumimasen sensei! Saya telah menemukan orang yang bersedia mendonorkan hatinya kepada Tuan Yabu.
          “Siapa suster?” tanya Yuuri terkejut.
          “Sumimasen. Orang itu tidak ingin disebutkan identitasnya.”
          “Baiklah, kalau begitu kita akan memulai operasinya hari ini. Suster, siapkan ruang operasi segera! Aku akan segera memeriksa keadaan Tuan Yabu sekarang ini juga.”
          “Baik dokter.” Suster itupun segera berlalu.
          Yuuri terlihat sangat bahagia, namun, dia tetap memikirkan siapa orang yang telah rela mendonorkan hatinya untuk Yabu. ‘Arigatou Kamisama. Hontou ni arigatou!’ seru Yuuri dalam hatinya.
(Di ruang UGD)
          “Apakah Yabu akan sadar? Kenapa dia tidak segera membuka matanya?” tanya Daiki yang melihat nanar ke arah Yabu yang sekarang tubuhnya telah dipenuhi oleh peralatan-peralatan rumah sakit.
          “Mi..chi. Mi..chi!”
          “Yabu! Kau! Buka matamu Yabu!” Kei mendengar Yabu bersuara.
          “Ada apa Inoo?” tanya Hikaru yang berada di samping Daiki.
          “Di..dia sadar!” jawab Kei.
          Yuya, Daiki, Hikaru dan Kei mengelilingi tempat tidur Yabu yang belum juga membuka matanya.
          “Michi? Mi..Michi?”
          “Apakah dia mengigau?”
          “Kei! Bisakah kau membawa Michi kemari?” tanya Yuya.
          “Un. Baiklah.” Kei segera keluar dari ruang UGD dan berlari menuju ruangan Michi.
          Sesampainya di ruangan Michi, dia tidak melihat seorangpun yang ada di sana. “Kemana Michi?” Kei keluar dari ruangan Michi dan bertanya kepada seorang suster. “Sumimasen, apakah suster tahu pasien bernama Michi yang dirawat di ruangan ini?”
          “Oh, nona Michi berencana untuk mendonorkan hatinya untuk pasien bernama Yabu Kota. Sekarang dia sedang dipersiapkan di ruang operasi.” Jawab suster tersebut.
          “APA? Terimakasih suster!” Kei segera berlari ke ruang operasi untuk menemui Michi. ‘Dia sudah gila! Benar-benar gila!’ batin Kei.
          Sesampainya di ruang operasi, Kei melihat ke dalam lewat celah pintu yang masih terbuka sedikit. Terlihat Michi yang sedang berbaring di atas tempat tidur lengkap dengan baju operasi yang berwarna hijau tua. Dia menangis dan tersenyum. Kei tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Sulit baginya untuk meyakinkan Michi. Kei melangkahkan kakinya kembali ke ruang UGD tempat Yabu dirawat.
          “Dimana Michi? Daritadi Yabu terus memanggil namanya Kei!” seru Hikaru saat melihat Kei yang baru saja tiba di ruangan Yabu.
          Kei berjalan mendekati Yabu dan menggenggam tangannya. “Gomen. Gomen ne Yabu! Gomen!” Kei menitikkan air matanya. “Gomen Yabu! Aku tak dapat mencegahnya.”
          “Apa yang kau maksud Kei? Dimana Michi?” tanya Daiki yang melihat Kei menangis.
          Beberapa saat kemudian, muncul seorang dokter dan beberapa suster yang sudah siap dengan pakaian dan masker yang akan dipakainya saat mengoperasi Yabu nanti.
          “Dokter!” Kei menatap dokter itu penuh harap. “Apakah Michi akan selamat?”
          Dokter itu menatap ke arah Yabu dan menatap Kei kembali. “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya.” Dokter dan suster-suster itu langsung membawa Yabu ke ruang operasi. Diikuti oleh Kei dan yang lainnya.
                                       *******SKIP*******
          Yabu membuka matanya. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di perut sebelah kanannya. “Ini dimana?” Dia melihat ke arah kiri dan mendapati seorang gadis yang masih terkulai lemas. “Michi? Apa itu kau?”
          Yabu berusaha bangun dari tempat tidurnya. Namun, hal itu terasa sangatlah sulit. Perutnya sangat sakit karena luka bekas operasi belum mengering. Dia membatalkan niatnya dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. “Michi bangunlah!” Karena tidak jawaban dari Michi, Yabu memutuskan untuk kembali tidur.
          “Yabu?” suara lembut seorang gadis mengurungkan niat Yabu untuk kembali tidur.
          “Michi? Kau sudah bangun?” Yabu menatap gadis itu penuh arti.
          Wajahnya pucat pasi, namun dia tetap memaksakan seulas senyum untuk Yabu. “Daijoubu ka?”
          “Un. Kimi wa?”
          “Daijoubu desu.” Jawab gadis itu.
          “Bagaimana kita bisa berada dalam satu ruangan Michi?”
          “Aku yang memintanya.” ujar Michi berbohong.
          “Hontou ni?”
          Michi mengangguk lemas dan kembali mengulas senyumnya. Dia hanya merasakan kekosongan di perut sebelah kanannya. ‘Apakah hatiku sudah berada di tubuhmu Yabu?’ tanya Michi dalam hati.
          “Nee Michi! Kenapa kau terlihat sangat pucat?” tanya Yabu khawatir. Dia merasakan ada yang aneh.
          “Aku baik-baik saja Yabu.”
          “Bisakah kita pergi jalan-jalan besok? Aku ingin pergi berdua bersamamu Michi! Aku akan meminta ijin pada dokter, kalau dia tidak mau aku akan terus memaksanya. Apa kau mau? janji ya?”
          “Baiklah, aku berjanji.” Michi terus mengulas senyumnya, hanya itu yang bisa diberikannya pada Yabu. ‘Baiklah aku mau Yabu. Tapi, apakah besok aku masih hidup?’ tanya Michi dalam hati. Michi memejamkan matanya dan berharap keajaiban akan selalu menyertainya.
(Keesokan Harinya)
          “Ohayou Yabu!!!” teman-temannya datang menjenguknya, yang tidak lain adalah Kei, Hikaru, Yuya, dan Daiki.
          “Ohayou!” sapa Yabu yang duduk di sebelah tempat tidur Michi. “Kenapa kalian tidak masuk?”
          “Otanjoubi Omedatou! Otanjoubi Omedatou! Omedatou Yabu Kota, Otanjoubi Omedatou! Otanjoubi Omedatou Yabuuuuu!!” seru mereka berempat.
          “Hah?”
          Michi mengecup lembut lembut pipi kekasihnya. “Otanjoubi Omedatou Yabu!”
          Yabu menatap Michi bingung. “Ini hari..”
          “Kau lupa? Hari ini ulang tahunmu Yabu” Michi tersenyum.
          “Nee Yabu, gomen. Kami tidak membawa kue seperti biasanya karena dokter belum mengijinkanmu untuk makan sembarangan. Tapi tenag saja, kami membawa kado yang sangat istimewa untukmu Yabu.” Ucap Yuya antusias.
          “Apa itu?” tanya Yabu yang memasang wajah penasarannya.
          “Tadaaaa!” orang tua Yabu muncul dari belajang mereka, Yuuri juga ada di sana.
          “Otousan! Okaasan!” panggil Yabu.
          “Otanjoubi Omedatou Kouchan!” Ibu Yabu langsung memeluk anak tersayangnya. “Maafkan ibu sayang! Karena ibu baru bisa menjengukmu sekarang! Otanjoubi Omedatou!”
          “Okaasan!” Yabu memeluk erat seorang wanita yang sekarang berada dalam pelukannya. “Aku sangat merindukanmu! Maafkan aku okaasan!”
          Yabu melepaskan pelukannya dan memeluk sang ayah. “Otousan! Maafkan Kota Otousan!”
          “Daijoubu.” Ucap ayah Yabu.
          “Yabu?” panggil Michi.
          Ibu Yabu memandang ke arah Michi. Sebelumnya Yuuri telah mengatakan padanya bahwa Michilah yang mendonorkan hatinya kepada Yabu. Ibu Yaby mendekati Michi dan langsung memeluknya dan menangis.
          “Arigatou Michi! Arigatou!”
          “Obasan!”
          “Jangan panggil aku seperti itu! Mulai sekarang kau boleh memanggilku Okaasan. Michi, mulai sekarang kau adalah anakku.”
          “Okaasan!”
          “Yah.. panggil aku seperti itu sayang!” Ibu Yabu memeluk Michi sekali lagi.
          Yabu tersenyum melihat Ibunya dan Michi berpelukan. Dia memandang ke arah ayahnya. “Otousan?”
          “Ini adalah kado ulang tahunmu Kota. Ayah merestui hubungan kalian”
          “Arigatou otousan!”
                                 ***********SKIP************
          “Kau yakin tidak mau kutunggu?” tanya Hikaru yang masih ada dalam mobil.
          “Tidak usah, biarkan aku bersama Michi sendirian. Nanti aku akan menghubungimu.” Jawab Yabu yang berdiri di belakang Michi yang duduk di atas kursi roda.
          “Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku segera ya! Jyaa naa!” Hikaru melambaikan tangannya dan segera melaju pergi meninggalkan Yabu dan Michi di Okinawa. Mereka berdua jalan-jalan bersama, persis dengan janji yang mereka buat tadi malam.
          Yabu mendorong kursi roda Michi dan pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan di sana. “Michi?”
          “Uhm?”
          “Janji kepadaku kau takkan meninggalkanku ya?”
          Michi terdiam mendengar perkataan Yabu. ‘Gomen ne Yabu’
          “Michi?”
          “Un. Aku berjanji. Yabu aku tidak ingin duduk di sini. Aku ingin berjalan.” Pinta Michi yang menarik-narik lengan baju Yabu.
          “Kau bisa?”
          “Kan kau bisa membantuku.”
          Yabu tersenyum simpul. “Baiklah. Hati-hati!” Yabu membantu Michi berdiri dan membopongnya berjalan.
          Di sepanjang perjalanan, mereka tertawa bersama dan bercanda bersama. Seakan tak tahu kematian berada tepat di depan mereka. Mereka berdua duduk di bawah pohon yang sangatlah rindang, berpelukan seakan tak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
          “Yabu,, kalau nanti aku pergi, apa kau akan melepaskanku?”
          “Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku akan terus memegang tanganmu dan tidak akan mengijinkanmu pergi dariku.”
          “Aku serius Yabu.”
          “Iya iya.. uhm.. jika kepergianmu itu membuatmu bahagia, aku akan melepaskanmu. Aku pasti akan melepaskanmu.” Yabu tersenyum dan mempererat pelukannya.
          “Yabu?”
          “Uhm?”
          “Otanjoubi Omedatou! Daisuki.”
          “Arigatou..Aishiteru Michi.”
          “Ini pertamakalinya kau mengucapkan kata itu Yabu.”
          “Mulai sekarang, aku akan sering mengucapkannya. Aishiteru!”
          Michi meneteskan air matanya. Rasanya benar-benar bahagia. Yabu memeluk erat dirinya dari belakang. Namun, entah kenapa dia merasakan kantuk yang sangat.
“Bolehkah aku beristirahat sebentar? Aku lelah Yabu.”
          “Tidurlah sayang, tidurlah!”
          Michi memejamkan matanya perlahan. “Aishiteruyo!”
          “Boku mo.”
          Berjam-jam telah berlalu, namun, Michi tidak kunjung bangun dari tidurnya. Hal itu membuat Yabu menjadi khawatir. “Michi? Kau tidur lama sekali! Oiya apa kau tahu orang yang mendonorkan hatinya untukku? Aku ingin bertemu dengan orang itu. Aku ingin berterimakasih karena dia bersedia mendonorkan hatinya untukku. Namun, apakah masih mungkin? Apa menurutmu dia masih hidup?”
          Tetap saja tidak ada jawaban dari Michi.
          “Michi bangunlah! Kenapa kau tidur terus?” kekhawatiran Yabu memuncak saat tubuh Michi terasa sangat lemas.
          “Michi? Apa kau baik-baik saja? Bangunlah Michi!”
          Yabu melepaskan pelukannya dan melihat darah segar keluar dari hidung Michi. “Miichiiiii!!!!” Yabu menangis. “Kau kenapa Michi? Buka matamu! Aku mohon!” Yabu memberanikan menyentuh pergelangan kekasihnya, namun, dia tidak merasakan apa-apa.
          Tangis Yabu memuncak, tubuhnya terguncang hebat, dia memeluk kekasihnya yang telah beristirahat dengan tenang.
          “Tidurlah Michi! Beristirahatlah dengan tenang!”
                                      *******SKIP*******
(Flashback END)      
Seseorang menyentuh bahunya dari belakang. “Douzo!”
            “Apa ini?”
            “Bacalah! Aku pergi dulu!”
            “Arigatou Daichan!” Yabu membuka surat yang diberikan oleh Daiki.
          Gomen Yabu, mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada. Dengan kepergianku ini, jangan anggap aku sudah lenyap dari hadapanmu! Karena ‘hatiku’ selalu berada dalam tubuhmu. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Akulah orang yang telah  mendonorkan ‘hati’ku padamu. Apa kau marah?
            Yabu mulai meneteskan air matanya. “Michi!”
            Aku tidak ingin kau pergi, jadi biar saja aku yang pergi. Karena untuk selamanya, kau adalah malaikat penjagaku. Kau harus menjaga ‘hati’ku dengan baik-baik. Janji?!
          “Un. Aku berjanji” jawab Yabu lirih.
            Aku merasa benar-benar beruntung memilikimu. Kau menyelamatkanku dari kehidupanku yang kelam. Kau melindungi dari kemmatian yang selama ini mengincarku. Tapi, kau tidak boleh menyalahkan dirimu atas kepergianku ini, karena aku sendirilah yang menyerahkan diriku pada kematian.
          Terserah padamu apakah kau mau melupakanku atau tidak. Yang terpenting, jangan membenciku! Atau aku akan membencimu^.^,,, aku punya satu permintaan dan kau harus mengabulkannya. Dapatkah sekarang juga kau tersenyum dan melihat ke arahku? Akukan juga ingin melihatmu tersenyum. ayo tersenyum sekarang! Ayolah cepat tersenyum! *^_^*
          Yabu tersenyum dan melihat ke arah pemakaman Michi. ‘Aku akan terus tersenyum untukmu Michi.’
            Sayonara Yabu Kota! Aishiteru! Aishiteruyo!
            ‘Arigatou Michi. Arigatou! Aishiteru!’ kata Yabu dalam hati. Dia berjanji akan selalu mengingat Michi sepanjang hidupnya.
                              ******Aishiteru******