Tittle : 3 times Chinen cry because Yamada and 1 time
they cry togeter
Genre : romance, angst
Rating : PG 15
Author : ME!!
1.
“hm.... yummy >///<” pipi gembul nan montok
bagaikan pantat bayi(?) itu bergerak perlahan dikarenakan pemiliknya sedang
menikmati sekardus buah stroberi pemberian ibunya. “Ah..Chii!!” teriaknya,
setelah melihat malaikat kecilnya.
Chii-pun menoleh kearahnya “nande?”
Yamada segera berlari kearah Chii dan menyodorkan
beberapa stroberi berharganya. “Apa kau mau stroberi? Okaasan baru saja
membelikanku sekardus besar, ini untuk___”
“Maaf Yamachan. Aku sudah bosan dengan stroberi. Tadi
Daican sudah membelikanku stroberi dan beberapa permen.” Jawab Chii sambil
mengeluarkan beberapa lolipop dari sakunya.
‘lagi lagi Daichan’ umpat Yamada dalam hati. “Kau bisa
memakan stroberi ini nantikan.”
“Tapi aku sudah benar-benar bosan Yamachan. Sekarang ini
aku lebih suka permen daripada stroberi.”
‘itu artinya kau lebih suka Daichan daripada aku Chii’ raut
wajah Yamada berubah suram “Jadi kau lebih suka Daichan?”
“Eh!”
“Jawab Chii! Kau lebih suka Daichan daripada aku?” sahut
Yamada dengan nada yang sedikit ditinggikan.
Chii mulai panik, takut jika orang yang
dicintainya-diam-diam akan membencinya hanya karena hal sepele “Bu..bukan_”
“Baiklah! Makan saja pemberian Daichan itu! Silahkan
makan permen itu! Jangan pernah merengek minta stroberi lagi kepadaku, karena
aku tidak akan pernah memberikan satupun stroberiku kepadamu! Jangan pernah
datang lagi kepangkuanku! Lakukan semua itu dengan Daichan!” Yamada membanting
stroberi yang tadinya akan diberikan kepada Chinen didepan Chinen dan pergi
begitu saja.
Chinen yang masih kaget dengan perkataan Yamada hanya
bisa berdiri memaku melihat stroberi yang berserakan didepannya. Cairan bening
mulai turun dari mata ke pipinya. “hiks.. aku ti.. hiks.. tidak bermaiksud
begitu..” Chinen menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya kedalam kedua
lengannya. “Bukan.. kau salah.. hiks.. bukan Daichan.. tapi kau. Kau yang aku
suka Ryosuke.. hiks”
2.
Ditengah latihan, tidak sengaja Yamada menabrak Chinen
dan membuatnya terjatuh dengan keras.
Melihat itu, Yamada segera menghampirinya, namun terlambat. Daiki sudah dulu
ada jongkok disamping Chinen dengan khawatirnya.
“Chii, Daijoubu? Oi Yamachan! Kau harus minta maaf pada
Chinen!” teriak Daiki sedikit kesal.
Melihat kejadian itu, membuatnya mengingat kejadian 2
hari yang lalu ketika Chinen mengatakan lebih suka permen pemberian Daiki
daripada stroberinya, membuatnya semakin kesal. “Salah siapa dekat-dekat
denganku!” Yamada membalikkan badannya, ketika dia hendak melangkahkan kakinya
pergi, dia mendengar isakan Chinen.
“hiks.. sakit.. hiks” Chinen menangis sambil memegangi
pergelangan kakinya.
Yamada menghembuskan nafas berat dan berbalik ke arah
Chinen. “Dasar cengeng!” dan segera meninggalkan ruangan.
“Yamachan! Oi Yamachan!” teriak Yabu.
Bukan sakit pada pergelangan kaki yang menyebabkan Chinen
terisak, namun justru hatinya yang sakit ketika orang yang benar-benar ia suka,
bukan.. lebih dari suka. Ya,, orang yang dia cinta membencinya.
3.
Dengan kaki yang berbalut gips dan berjalan tertatih,
Chinen menyusuri koridor seorang diri sambil membawa tas berat yang berisikan
perlengkapan-perlengkapan miliknya. Tanpa sengaja, ada salah satu junior yang
menabraknya dan membuat Chinen dan tasnya jatuh, namun namanya juga junior
(anak-anak ingusan ._.), dia langsung pergi begitusaja (ceritanya lagi maen
kejar2an).
Chinen bersusah payah berjongkok untuk mengambil tasnya,
namun dia melihat ada tangan seseorang yang membantu mengambil tasnya, Chinen
mendongakkan kepalanya
“Ya... Ya..”
Orang itu segera memberikan tas kepada Chinen dan
beranjak pergi, belum sebelum Chinen mencegahnya.
“Kau.. kau salah paham.. tolong dengarkan aku.”
Orang itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Chinen.
“Sudahlah.. “ dia mengambil nafas berat dan menghembuskannya. “Aku__”
“Oeeyy Chiii!! Aku sudah mencarimu kesana kemari.” Daiki
menghampiri Chinen dengan membawa beberapa permen favoritnya. “Ini! Permen ini
pasti bisa menghiburmu. Kau ini sudah hampir seminggu wajahmu tidak berbentuk
(-__- ). Sebenarnya ada apa? kalau ada
masalah ceritalah padaku! Aku pasti akan membantu. Jangan diam saja dan jarang
makan. Nanti kau bisa sakit!”
Mendengar penjelasan Daiki, Yamada menoleh kearah Chinen.
“Kau...”
“Eh.. Yamachan! Oh gomen, aku tidak menyadari
keberadaanmu. Kau mau minta maaf sama Chii ya?! Bagus deh.. oiya habis ini aku
mau pergi sama Chii makan siang, kau mau ikut?”
Yamada mengalihan pandangannya ke arah Daiki dan kembali
ke arah Chinen sambil tersenyum getir. “Gomen, aku mengganggu acaramu dengan
Daichan.” Dan pergi begitu saja.
Chinen berusaha mengejar Yamada namun karena kakinya
sakit, dia hanya bisa berteriak memanggil nama orang yang dikasihinya itu.
“Yamachaan! Yamachaaaann!” ‘kau salah paham.. aku mohon jangan lagi’... Chinen
mulai menitikkan air matanya melihat kepergian Yamada.
Daiki hanya melihat Chinen dengan kebingungan. “Chii, ada
apa? Kau kenapa?”
“Daichan.. aku mohon jelaskan pada Yamachan semua ini hanya
salah paham.”
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud Chii!”
“Aku... aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai
Yamachan. Dia mengira bahwa.. kita.. bahwa kita..”
Daiki mengerti apa yang akan dikatakan Chinen. Dia segera
berlari menyusul Yamada-yang –menuju-atap.
“Yamachan!!”
Yamada menoleh ke arah sumber suara dan tiba2 pemilik
suara itu memukulnya dengan keras.
“Apa-apaan kau Daichan?!!”
“Kau yang apa-apaan!”
“Apa maksudmu?!” Yamada mencengkram kerah baju yang
dipakai Daiki.
Daiki melepas cengkraman Yamada. “Apa kau sadar apa yang
telah kau lakukan pada Chinen?”
“Huh?”
“Kau.. sudah hampir seminggu ini kalian
berjauhankan? Bukan.. lebih tepatnya kau
menjauhi Chinen. Apa kau sadar sudah berapakali kau membuatnya menangis?”
bentak Daiki.
Yamada hanya bisa terdiam mendengar apa yang sahabatnya
katakan. “Aku melakukannya untukmu! Buat apa juga dia menangis kalau__”
Belum sempat Yamada menyelesaikan kalimanya, Daiki
melayangkan pukulannya yang kedua sehingga membuat sudut bibir Yamada terlihat
berdarah. “Dia menyukaimu!! Dia benar-benar menyukaimu! Apa kau tak bisa
melihatnya bodoh!!”
“Ap..apa?”
“Sekali lagi kau membuatnya menangis, aku benar-benar
akan memukulmu sampai mati” Daiki segera pergi meninggalkan Yamada yang hanya
bisa terdiam .
+1
Chinen melihat beberapa kenangannya bersama Yamada, yah..
Chinen mempunyai sebuah album foto khusus untuknya dan Yamada. ‘Kalau dia membenciku,
apa gunanya aku menyimpan semua ini..’ Chinen menghembuskan nafas berat untuk
kesekian kalinya. Chinen berdiri dari tempatnya ‘eh,, kakiku’ dia tersenyum
simpul dan berjalan seperti biasanya ke atap. Dia berencana ingin membuang
album itu di atap.
Sesampainya di atap, Chinen menuju bak sampah (itu loo yg
biasanya buat bakar sesuatu ._.). dia melemparkan album kesayangannya
kedalamnya dan menyalakan korek api.
“Apa yang kau lakukan?”
Chinen menoleh dengan cepat. “Yamachan?!”
“Apa yang akan kau bakar?” Yamada menoleh ke dalam bak
sampah. “ Itu..”
“Kupikir itu sudah tidak ada gunanya.”
“Chii..” lirih Yamada. “Gomen. Gomennee.. aku mengaku
salah Chii.”
Tanpa sadar Chinen meneteskan air matanya. Belum sempat
Chinen menjawab, dia mendengar sebuah isakan kecil.
“Hiks.. gomen. Aku hanya.. ingin kau menomor satukan aku.
Maaf kalau aku terlalu egois”
“Yamachan..” Chinen berdiri tepat di depan Yamada dan
memegang tangannya. “Ku kira kau akan membenciku.. kukira kau benar2 akan
membenciku... hiks.. aku tidak mau Yamachan membenciku.. hiks..”
Yamada memeluk Chinen erat sambil terus meneteskan air
mata. “Itu hanya keegoisanku Chii. Aku tidak mungkin bisa membencimu. Maaf
telah membuatmu menangis. Aku janji tidak akan melaukannya lagi. Aku benar2
menyayangimu.”
Entah kenapa, tangis Chinen terdengar semakin keras. “Kau
kenapa? Apa aku salah lagi? Kenapa menangis lebih kencang?” tanya Yamada yang
kebingungan.
“Aku juga benar2 menyayangi Yamachan. Bukan.. lebih dari
itu. Aku benar2 mencintai Yamachan.”
Mendengar hal itu, Yamada memeluk Chinen lebih erat.
OMAKE
Beberapa hari kemudian...
“Chiiii~~~~ “ Daiki mencari Chinen sambil membawa
beberapa permen lolipop kesukaan Chinen. “Kau dimana Chii??” Dia mencari Chinen
dibalik pintu, dibawah meja, didalam rice cooker (-__- saking mungilnya
Chinen). “Ah! Attaa!!” Daichan berlari ke arah balkon dan mendapati Chinen dan
Yamada sedang berduaan di sana. “Eh.. Yamachan?”
“Ada apa Daichan?” tanya Chinen.
“Tada!!! Aku membelikanmu permen favoritmu lagiii!!! Ali
ini rasa stroberi. Kau pasti suka!”
Chinen melihat ke arah permen yang dibawa Daiki lalu
mengalihkan andangannya ke arah Yamada yang sedang tersenyum simpul ke arahnya.
“Gomenne Daichan. Tapi aku sudah punya permen.”
“Eh?”
“Permenku yang ini lebih enak daripada yang kau bawa
itu!”
“Benarkah? Boleh aku mencobanya?” terlihat mata Daiki
yahng berbinar2.
“DAME!! Permen yang satu ini hanya untukku. Untukku
seorang. Tidak ada orang lain yang boleh mencicipinya ataupun membelinya.”
“Mana coba permenmu?”
Chinen tersenyum dan menunjuk ke arah Yamada. “Itu!”
“Eh?” kata Daiki dan Yamada bersamaan.
“Aku akan memakannya nanti malam.” Chinen tersenyum penuh
arti dan meninggalkan AriYama yang kebingungan.
OWARI desuuuuu~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar